Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
49. Kebakaran


__ADS_3

Rival mendekap Yara yang masih terpaku mendengar pengakuan Praka Anwar. Istri Praka Anwar sudah menangis sejak tadi.


"Kamu sebagai suami seharusnya melindungi dan menyayangi anak istrimu..apalagi wanita di sebelahmu itu telah melahirkan anakmu, jika istrimu salah kewajibanmu mengingatkannya dengan cara yang patut" tegur Rival.


"Maaf bukannya saya mau ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian tapi saya berharap kasus kalian tidak naik ke meja komandan. Saya tau ibu Anwar pasti sangat sakit mendengar hal ini, tapi ada anak yang masih sangat kecil untuk menerima keegoisan orang tuanya" Yara mulai berbicara.


"Kalau boleh saya tau, apa yang membuat pak Anwar berpaling" tanya Yara lagi.


"Hanya karena saya melihat Indy sangat cantik, itu semua menimbulkan rasa penasaran saya" tunduk Praka Anwar


Rival menunduk tak habis pikir dengan ulah Anwar, ia tidak tega mengingat putra Anwar baru berusia dua tahun dan sekarang istri Anwar sedang mengandung anak mereka lagi.


"Kecantikan itu bisa pudar oleh waktu dan kecantikan kadang hanya hiasan. Saya pribadi sebagai seorang pria tidak menyetujui jika ibu meminta berpisah, bagaimanapun anak-anak Bu Anwar butuh bapaknya"


--------


Yara duduk meluruskan kaki di kasur lipat ruang tengah, ia melamun tidak melihat tv yang menyala sejak tadi.


Rival menyusul Yara duduk di sebelahnya lalu menarik Yara dalam dekapannya.


"Kamu jangan pikirkan masalah rumah tangga orang lain. Jaga saja rumah tangga kita dengan baik!"


"Iya mas, aku tidak habis pikir saja. Mata pria bisa buta hanya karena kecantikan" Yara menoleh memandang Rival.


"Tapi aku tidak! karena cuma kamu wanita cantik yang membutakan mataku" goda Rival yang menggelitik pelan pinggang Yara.


Sejenak Yara dan Rival melupakan kegundahan masing-masing. Rasanya berkumpul seperti ini sangat indah dan paling membahagiakan.


Seluruh kasih sayang Rival ia curahkan untuk Yara. Rindu memanjakan dan menuruti keinginan istri tercintanya. Tak ada yang lebih membuat Rival bahagia selain melihat Yara bahagia seolah Rival hidup hanya untuk Yara seorang.


***


Ayam berkokok burung bercicit menandakan hari sudah pagi. Rival membuka matanya melihat jam sudah pukul setengah tujuh pagi. Rival sedikit menyesal menuruti Yara untuk tidur sebentar setelah mandi dan sholat subuh. Rival berlari menyambar handuk dan segera mencuci muka.


Yara menggeliat di kasur lipat ruang tengah rumah. Semalam ia dan Rival asyik bercanda hingga mereka membawa selimut dan tidak tidur di kamar.

__ADS_1


"Tidur lagi dek!!! Mas berangkat kerja dulu" pamit Rival.


"Mas nggak sarapan dulu?" tanya Yara merasa bersalah.


"Nggak dek. Makan kamu aja sudah kenyang" Rival tersenyum sambil mengerlingkan mata genit.


"Ya sudah hati-hati ya mas!!" Yara meraih tangan suaminya sambil berpamitan. Rival pergi mengendarai motor gagahnya hingga tidak terlihat lagi.


***


Hari ini Yara berniat memasak ikan lele goreng, tumis kangkung dan sambal terasi kesukaan Rival. Kehamilan Yara yang semakin membesar membuatnya sedikit kelelahan harus mondar mandir kesana kemari.


Yara menuang satu persatu masakannya dan ia meletakkan manis di atas meja makan, tinggal terakhir Yara menuang sambal yang akan ia uleg pada cobek ke atas meja makan. Yara berjalan melihat jam dinding semakin siang, ia ingin menu makan siang segera selesai sebelum Rival pulang. Yara lupa mematikan kompor yang masih bertengger manis sebuah wajan di atasnya.


Yara asyik menguleg sambal sampai tidak menyadari dinding di bagian dapur sudah menghitam terbakar. Rival yang akan berbelok pulang bisa melihat jelas asap hitam dari arah dapurnya.


Asap apa dari dalam rumahku itu??


Yara terkejut menyadari dapurnya yang terbakar. Yara panik di tengah asap mengepul dan api sudah membakar sekitar kompornya. Yara sangat ketakutan hingga menunduk di pojok pintu menuju ruang tengah.


"Mas..aku takut" panik Yara yang tiba-tiba berdiri memeluk Rival yang ada di sampingnya.


"Kamu nggak apa-apa dek? ada yang luka nggak?" panik Rival memperhatikan sesaat Yara.


"Tolong ambilkan mas karung yang basah!!" titah Rival sambil ia bergegas mengangkat ember berisi air di dekat dapur.


Yara segera mencari karung di dalam lemari perkakas di bawah meja rak piring lalu membasahinya.


"Ya Allah dek karung yang warna coklat!! karung goni namanya..ini karung plastik, mau kamu basahi sampai luber tetap saja terbakar. Ambil air aja!!!" gemas Rival melihat kelakuan Yara. Rival menyambar beberapa keset tebal dan di masukan ke dalam air.


"Ini mas!" Yara menyerahkan segelas air yang ia ambil dari dispenser.


"Mas bukan mau minum dek, air satu gelas mau padamkan yang mana?????" emosi Rival mulai naik tapi ia tidak ingin bumilnya menjadi stress karena tekanan darahnya mulai meningkat. Api kian berkobar dari ujung gas. Rival menutup dengan keset tebal yang telah basah lalu menutupnya.


Yara ingin membantu suaminya, ia melihat ada panci pengukus bekas menanak nasi kemarin malam. Yara secepatnya mengangkat panci pengukus itu tanpa memperhitungkan Rival yang berdiri tepat di hadapannya.

__ADS_1


byuuurrr


Ratusan butir nasi dari penanak nasi itu berhamburan ke tubuh dan wajah Rival bersamaan dengan api yang padam.


"Allahu Akbar....dek!!!!" mata Rival melotot sempurna.


"Uuppss..eehhmm..maaf mas, aku nggak sengaja" Yara menunduk sangat takut melihat tatapan mata Rival yang tajam ke arahnya.


"Sebenarnya ada apa sampai rumah nyaris kamu buat hangus jadi arang?????" tegur keras Rival sambil melepas kasar seragam hingga terlepas kancingnya.


"Aku hanya memasak makanan kesukaanmu, tapi lupa mematikan kompor karena aku sudah sangat lelah mas" jawab Yara sambil menyembunyikan air mata yang mulai menetes.


Rival melihat meja makan yang siap dengan menu yang sudah di masak Yara. Kaki Yara bergetar entah lelah atau takut padanya. Perasaan Rival melunak seketika melihat Yara tidak berani bergerak menghadapi amarahnya tadi. Rival memeluk Yara agar bersandar padanya.


"Mas nggak bermaksud membentakmu, mas hanya khawatir saja tadi" Rival bisa merasakan detak jantung Yara yang berdebar cepat juga perut yang terasa kencang menempel di tubuhnya.


"Jangan marah lagi ya mas!!"


Rival hanya bisa menarik napas panjang tidak ingin berdebat dengan Yara. Belaian lembut sebagai tanda sayang Rival untuk Yara. Rival menarik Yara untuk duduk di kursi, sedangkan Rival membereskan hasil karya abstrak Yara siang ini.


"Kamu istirahat saja dek, kasihan si dedek kaget gara-gara kamu"


"Tapi aku pengen lihat papanya dedek" lirih Yara.


"Papanya sibuk dek, nanti mas temani" bujuk Rival agar Yara mau beristirahat.


"Nggak mau, aku mau disini" Yara bersikukuh ingin terus di dekat Rival.


"Ya sudah, tapi jangan jalan di sekitar sini! Licin sekali lantainya, nanti terpeleset!!!"


"Iya mas" senyum Yara bahagia. Rival menggelengkan kepala menyabarkan hati berhadapan dengan bumil.


.


.

__ADS_1


__ADS_2