Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
36. The best husband


__ADS_3

Suara Yara yang tercebur ke dalam kolam membuat Rival sangat kaget. Beberapa orang sudah masuk ke dalam kolam termasuk Nathan. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam kolam. Rival menolong Yara yang gelagapan di dalam kolam.


"Astagfirullah dek, kamu kenapa bisa sampai tercebur. Apa yang sakit?? Bisa berdiri sayang?? ini pendek" iba Rival sambil mengusap wajah Yara yang kotor terkena air kolam bercampur lumpur. Bau dari kolam itu membuat Yara muntah.


"( aarrccgghh ) Perutku sakit sekali mas" Yara menangis karena syok.


Para anggota mengangkat tubuh Yara dari dalam kolam. Nathan naik dengan marah langsung menggapai tangan Azizah.


"Kamu kira saya tidak tau perbuatanmu!?!?"


Rival menatap tajam ke arah Nathan juga Azizah.


"Ada apa pak Nathan? Saya tidak mengerti maksud bapak" sanggah Azizah.


"Jangan pura-pura!! Kamu tadi menyelipkan ranting di antara sepatu istri pak Rival sampai terjungkal ke dalam kolam?"


Orang di sekitar ikut menatap tajam Azizah dengan geram tak terkecuali Rival. Ingin ia marah saat itu juga tapi Yara masih terus saja muntah hingga Rival harus menunda amarah yang memuncak dalam dadanya.


"Hen, ambil selang!!!!" Pratu Henry segera menarik selang dan Rival mengisi air pada ember besar hingga penuh. Ketua pusat mengarahkan agar semua anggota pergi meninggalkan Rival dan Yara hanya berdua saja untuk memberi ruang pada pasutri itu untuk berbenah. Hanya tersisa dua ibu pengurus untuk membantu Yara.


"Ya Allah, ampunilah semua salahku dan jangan limpahan kesulitan apapun pada anak dan istriku" gumam Rival


Rival membuka jilbab Yara dan mengguyur tubuh istrinya hingga bersih, tak tega melihat Yara yang terus menangis entah merasakan apa. Mungkin malu, takut, sakit yang jelas tergambar nyata istri cantiknya sedang tidak baik-baik saja.


"Kalau masih sakit bilang dek! jangan diam saja. Mas tidak tau kalau kamu tidak bilang apa-apa" sendu Rival sambil mengusap perut Yara yang saat ini sudah nampak lebih berisi.


"Sudah tidak sakit lagi mas" ucap Yara yang sudah merasa lebih baik.


"Jangan pernah dekati sesuatu yang berhubungan dengan air. Nyeri sekali hatiku memikirkanmu dek!" kekhawatiran Rival menyentuh hati kedua ibu pengurus. Tak disangka Rival yang begitu galak dan kaku bisa sangat lembut bahkan teramat lembut di hadapan istrinya.


--------


Rival baru saja menelepon Nathan agar menahan Azizah di ruang Danyon, ia ingin membuat perhitungan dengan gadis itu.

__ADS_1


"Mas pergi dulu ya dek! Nggak akan lama, Kamu mau mas belikan apa?" bujuk Rival.


"Aku mau pancake durian mas" Rival terbelalak mendengar permintaan Yara pasalnya Yara meminta durian yang masih rawan di makan oleh Yara, kedua Rival amat sangat tidak menyukai durian karena baunya yang menyengat dan ia merasa mau mati jika mencium baunya.


"Yang lain sayang, kamu Khan tau itu tidak baik dan juga mas tidak tahan dengan durian"


Yara tidak menjawab, tapi wajahnya yang mengangkat bendera perang membuat Rival menyerah kalah dan menuruti permintaan Yara.


--------


"Apa tujuanmu mencelakai istriku??" tegas Rival mengintrogasi Azizah.


"Saya tidak mencelakai istri pak Rival" Azizah masih kukuh pada pendiriannya.


"Kamu pikir saya buta hingga tidak melihat apa yang kamu lakukan??" bentak Nathan.


Azizah terdiam tak menyangkal.


"Kamu tau istriku sedang hamil dan kamu berniat mencelakai dia? Perempuan macam apa kamu ini?" geram Rival yang sudah tidak sabar.


"Apa yang aku sukai dan keluargaku miliki sudah di rebut paksa Yara dan keluarganya. Aku sangat membenci dia" ucap Azizah penuh dengan kebencian.


"Lalu apa yang sudah Yara lakukan padamu??" bentak Rival pada Azizah.


"Ibunya merebut ayahku dan dia merebutmu dariku, apa kamu tidak tau kalau aku sangat mencintaimu sejak dulu" Azizah memeluk erat Rival yang masih berusaha mencerna keadaan.


Rival melepaskan pelukan Azizah, sungguh ia sangat kesal dengan ulah Azizah.


"Kenapa? apa aku tidak cukup cantik di matamu? Aku juga jauh di atas Yara, aku bekerja dan tidak merepotkanmu"


"Dengar Azizah! apapun yang terjadi pada keluargamu di masa lalu tidak ada hubungannya dengan Yara, dan aku.. menikahi Yara karena memang aku mencintai dia. Maaf..lupakan perasaanmu yang salah itu karena aku hanya mencintai istriku saja" tegas Rival yang membuat Azizah semakin terisak.


"Kembalilah bekerja! Jangan membuat keributan disini. Tidak seharusnya kamu menginginkan pria beristri" usir Rival. Azizah segera menghapus air matanya.

__ADS_1


"Suatu saat kamu akan tau kalau aku yang lebih pantas untukmu pak Rival"


"Tidak perlu sekarang, besok ataupun nanti aku tidak akan berpaling dari istriku. Juga kamu yang telah mencelakai istriku tidak akan bisa aku maafkan. Lagipula hanya pria bodoh yang menginginkanmu"


Azizah keluar dari dalam ruangan dengan perasaan kesal. Danyon juga Nathan melihat kilat kemarahan pada diri Rival saat keluarganya di usik.


"Apa istrimu baik-baik saja?" tanya Nathan.


"Iya.. dia sudah lebih baik, hanya syok saja" Rival mulai bisa meringankan suaranya berusaha tegar menguasai hati setiap melihat Nathan karena sudah dua kali pria itu menghancurkan hidup Rival.


Rival pergi dari ruangan komandan tanpa pamit. Pak Suherman hanya menggeleng kepala menghadapi kelakuan keponakannya yang limited edition.


-------


"Kemana aku harus mencari pancake durian saat tidak musim durian" gumam Rival menepuk jidatnya berjalan kaki menyusuri pasar malam sendirian. Rival celingukan mencari es durian tapi tak kunjung menemukannya.


"Sebaiknya aku mengajak Yara saja biar dia sendiri yang memilih apa yang dia mau, sekarang aku ganti dulu dengan makanan lain" Rival membeli.


Sesampainya di rumah suara motor membuat Yara bergegas dari kasur empuknya. Yara segera ke depan rumah untuk menyambut makanan pesanannya.


Saat Yara membuka kantong yang di bawa Rival, Yara sangat sedih dan tidak bersemangat karena yang dibawa Rival adalah es durian, bukan pancake durian.


"Mas, ini Khan es durian" betapa kecewanya Yara saat ini melebihi kehilangan dompet berisi uang ratusan ribu rupiah.


"Mas sudah cari dek, tapi belum dapat juga. Maaf ya?! besok mas carikan sampai dapat" bujuk Rival karena sejujurnya hati ini ia juga sudah amat sangat lelah.


Yara tau Rival sangat lelah dan terlihat jelas dari wajahnya, tapi ada air mata yang sulit di tahan untuk tidak menangis. Yang ada di pikiran Yara hanya pancake dan pancake saja.


Rival menarik napasnya dalam. Mau bagaimanapun juga lelahnya Rival tetap perasaannya tidak tega melihat istrinya sedang mengidam. Di belainya rambut Yara dengan penuh cinta. di kecupnya puncak kepala Yara.


"Mas carikan sebentar lagi, tapi mas mau tiduran sebentar saja sayang. 30 menit saja boleh ya"


Yara mengangguk karena sejujurnya ia juga tidak paham mengapa keinginannya bisa naik turun.

__ADS_1


.


.


__ADS_2