
"Ada apa?" tanya David
"Maaf bang, saya menyela. Kandungan Yara sudah di ambang batas. Kami tidak bisa menyelamatkannya lagi" sela Farhan
--------
David memegang tangan Yara. Yara memang belum sadar tapi tangannya merespon genggaman tangan David. Tak terasa air mata David menetes.
"Kamu bisa dengar aku dek? Aku berada di tempat yang salah. Harusnya aku tidak disini walaupun aku sangat ingin sekali tetap berada disini. Hatiku sakit sekali sekarang, menjagamu dalam situasi seperti ini. Aku tidak munafik dek. Andai Rival kembali, bahagia lah kamu dengannya. Tapi andai Rival tidak kembali, apa bisa kamu bahagia denganku. Hatiku ini penuh dosa. Maaf, aku pria yang tidak tahu diri." tangis jujur dari seorang David meluncur deras.
Sesaat tadi dengan berbagai pertimbangan, Randy mengijinkan David menemani Yara mengingat kondisi mental Yara yang sangat tidak stabil.
"Aarrgghh..kepalaku sakit sekali mas. Mas David. Kenapa aku disini?" tanya Yara bingung.
"Maaf dek, kamu baru saja melakukan kuretase" jawab David.
"Anak kita kenapa mas?" tangis Yara.
'Anak kita' David bingung dengan kata itu dan menemui dokter bersama dengan keluarga Yara saat Yara sudah tidur di malam hari.
"Begini pak, menurut analisa.. Bu Yara mengalami tekanan psikis dan berujung melupakan semua hal buruk. Memory nya menolak segala hal yang terjadi dan mengingat semua kenangan indahnya, terutama saat bersama pak David" jelas dokter Emma.
"Itu artinya yang sekarang di ingat Yara adalah memory yang keliru karena menganggap bang David sebagai suaminya. Hal ini memang bersifat sementara bang dan tidak menutup kemungkinan Yara akan mengingat semuanya lagi. Trauma kehilangan anak dan suami sekaligus sangat menggangu kesadarannya. Peran pihak keluarga sangat di butuhkan" Farhan menambahkan.
David tak bisa menjawab apapun. Naya tertelungkup merasakan nasib putrinya. Sedangkan Velly dan Reno sudah memahami karena Naya pernah depresi seperti ini.
"Hal ini mungkin sama seperti yang di alami Fahira pa" Naya memegang lengan Randy.
"Sudah ma, kalaupun itu benar kita fokus saja dengan anak kita. Jangan pikir Fahira atau Azizah lagi. Aku tidak peduli. Keluarga ku hancur karena mereka."
***
"Mas mau kemana?" tanya Yara.
"Ada tugas dek. Aku harus ke kantor" jawab David terburu pergi.
"Ada apa mas? mas selalu menghindariku" tanya Yara sedikit keras.
"Sudahlah.. Aku banyak pekerjaan dek" jawaban David juga sedikit keras.
__ADS_1
"Tapi apa harus setiap hari tidak berada di rumah. Pergi pagi pulang malam. Weekend sebentar lalu berangkat dinas luar terus" tangis Yara pecah karena ia mulai merasa terabaikan.
"Jangan bicara hal tidak penting" tegur David lalu keluar kamar.
Saat keluar kamar Randy menarik tangan David.
"Maaf harus selalu menyusahkanmu. Papa khawatir Yara tidak akan pernah sadar. Menikahlah dengan Yara" pinta Randy pelan sambil membawa David bicara di belakang rumah
"Nggak bisa pa, Yara masih istri Rival" tolak David berbisik.
"Bagaimana kalau Rival tidak akan pernah kembali. Apa kamu akan membiarkan Yara terus menjadi janda tanpa ia tau. Apa kamu juga bisa tahan saat ia tanpa sadar 'memperlakukanmu' sebagai seorang suami" David hanya terdiam tak tau harus menjawab apa, pikirannya seakan buntu.
"Aku tak tau bagaimana caranya." jawab David bimbang.
"Papa yang urus"
"Niatku hanya menenangkan Yara, tidak lebih pa" tegas David
"Ini juga mengamankan kamu kalau kamu sempat lupa"
"Insya Allah tidak pa" David menarik napas panjang memantapkan hati.
***
Yara setengah ragu tapi ia berusaha percaya dengan perkataan Randy.
---------
Yara menatap dirinya dalam pantulan cermin. David yang sudah sah menjadi suami sirinya sudah ada rasa sedikit lebih lega. Yara berbalik dan memeluk David. David merasa gelagapan mendapat perlakuan itu.
Tubuh Yara yang tidak seperti biasanya membuatnya berimajinasi liar. David mengecup bibir Yara dalam, menikmati setiap sentuhan Yara. Begitu pula ia yang sempat terlena seakan lupa pada janjinya.
kriiinngg.. kriiinngg
Ponsel David berbunyi. Panggilan tugas menyadarkannya, ia pun segera menjauhi Yara yang tampak kesal.
Lebih baik aku terima saja tawaran tugas ini. Berdekatan dengan Yara bisa membuatku lupa diri.
***
__ADS_1
Total sudah delapan bulan Yara tidak menyadari Rival yang tak berada disisinya hingga ia melihat wajah Arben saat sedang minum susu dalam dot.
"Ma.. kenapa ya wajah Arben ini ada sedikit wajahku tapi sisanya tidak mirip dengan mas David" Naya tersentak dan tidak bisa menjawab pertanyaan Yara.
Randy pun menghilangkan jejak Rival setelah kejadian 'gugurnya' Rival dalam tugas.
"Perasaanmu saja. Tidak usah di anggap serius. Wajah anak-anak masih bisa berubah sesuai umur" Randy mengalihkan perhatian Yara pada Arben.
***
Di tempat tugas David sedang galau seorang diri. Ia memang sudah menikah tapi pernikahannya tidak merubah status 'bujangan' pada dirinya.
Jika memang sudah satu tahun berlalu dan Rival tak juga kembali. Aku akan menjadikanmu istriku seutuhnya. Aku juga akan mengakui semua ini. Tapi jika Rival kembali, aku berjanji akan mengembalikanmu padanya.
--------
Saat ini Yara juga dalam fase tidak nyaman dengan hubungannya dengan David karena David berbeda dengan David yang ia kenal dulu, David yang lembut dan penyayang. Sekarang David mau menyentuhnya pun tidak, setidaknya itulah yang ada dalam ingatan Yara. Rasa terabaikan membuat Yara sering kali tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya.
Berbulan bulan telah terlewati dan tidak ada yang berubah dari sifat David. Seperti malam ini, hanya ciuman yang sudah menggebu di antara keduanya tapi harus pupus sia-sia tanpa akhir yang indah.
"Apa salahku mas? Kalau mas sudah tidak cinta padaku lagi. Lebih baik mas tinggalkan aku" Yara keluar dari dalam kamar dan menangis di dapur rumah Naya.
David mengacak rambutnya dengan kesal.
Mengapa sulit sekali mengendalikan perasaanku. Aku ini pria biasa. Kalau aku sampai kebablasan, aku akan melanggar janjiku pada Rival. Tolong Tuhan.. beri aku petunjuk! apa yang harus aku lakukan.
David bersandar pada sisi ranjang menurunkan sendiri perasaan yang sempat naik dan tak beraturan karena perbuatannya.
Randy merasa resah dengan keadaan ini. Ia menjadi ragu apakah permintaannya selama ini benar atau salah.
***
Suara langkah kaki di tengah malam buta mengagetkan seisi pos kesatrian depan. Seorang pria berbaju hitam memakai topi dan masker berdiri di depan pos. Pria tersebut berdiri di depan pos beberapa saat hingga seorang anggota menegurnya dan mengacungkan senjata.
"Angkat tangan" perintah seorang anggota.
.
.
__ADS_1