
"Melisa??" Rival masih tidak percaya bahwa peterjun yang tadi bersamanya adalah Melisa teman SMA yang pernah menjadi sekertaris OSIS di sekolahnya dulu.
***
"Ya begitulah.. setelah menjadi janda, aku menghidupi anak ku seorang diri. Apapun akan aku lakukan untuk anak ku" cerita Melisa saat Rival dan Melisa berbincang di sebuah cafe.
"Sabar.. Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak akan sanggup kamu terima"
"Iya Val.. Eehh..aku pamit duluan ya. Malam ini aku harus segera pulang. Anak ku hanya bersama bibi pengasuh di rumah. Aku tidak ingin meninggalkan anak ku terlalu lama kalau aku sudah selesai bekerja" pamit Rival.
"Ok.. hati-hati di jalan"
Rival berjalan kembali ke Mess nya yang tidak jauh dari cafe tempatnya bertemu Melisa tadi. Di lihatnya ada puluhan panggilan dan pesan singkat yang belum ia balas sejak tadi. Rival menepuk keningnya karena lupa menghubungi Yara.
"Mas darimana?????" pekik Yara saat Rival baru saja mengucap salam.
"Jawab salam dulu donk sayang!"
"Wa'alaikumsalam... mas darimana?"
"Mas baru bertemu teman SMA, tepatnya adik kelas. Namanya Melisa" jujur Rival.
deg
"Mas nggak bilang sama aku tadi" kesal Yara.
"Ini Khan mas bilang. Mas akan bertemu sama Melisa dua kali lagi. Dia ikut terjun bersama kelompok, mas sudah jujur dek..jadi kamu jangan gampang cemburu ya"
"Iya.." jawab Yara datar. Rival paham.. bagaimana sifat istrinya itu.
"Apa ada sesuatu hari ini. Arben bertingkah apa hari ini" Rival mengalihkan pembicaraan, tapi sebenarnya ia ingin tau kabar Yara dan Arben hari ini.
"Arben pintar sekali pa, makannya banyak juga dia bisa mencoret buku gambar meskipun tangannya kaku. Maklum pa baru dua tahun"
Jemari Rival menutup senyum di bibirnya. Ada rasa yang berbeda saat Yara menyebutnya 'papa'.
"Mama sama dedek sehat kah?" tanyanya masih tetap tersenyum.
"Mama sehat pa, dedek juga sudah nggak bikin Mama pusing lagi, hanya sesekali saja mual"
"Pintar anak papa. Ya sudah ma. Papa persiapan apel malam dulu. Mama cepat tidur. Jangan begadang tanpa papa" senyum Rival mengembang lagi.
"Iya pa.. Papa juga nanti cepat istirahat. Assalamu'alaikum" Yara mematikan ponselnya.
"Wa'alaikumsalam.. Mama sayang" gumam Rival.
__ADS_1
--------
Apel malam sudah selesai. Rival membuka tas rangselnya dan mencari abon tuna buatan Yara lalu mengantongi koyo cabe di sakunya lalu pergi menuju dapur.
Pukul 23.15 Rival makan sendirian di ruang makan yang sepi.
Rival menyuap makanan ke mulutnya dalam keheningan malam. Daripada rindu dengan masakan Yara sebenarnya hatinya sangat merindukan orang yang membuat abon tuna itu. Gejolak dalam dadanya kadang hilang dan timbul. Dua bulan terkadang cukup bagi seorang pria menjadi kelabakan mengontrol birahinya apalagi ia sudah beristri.
"Aaarrggghhh.. sebulan lagi. Sabar..sabar..sabar Val.., Nanti yang disana kamu habiskan sendiri, puaskan sendiri keinginanmu" gumamnya menenangkan perasaannya yang menyiksa diri, tapi sesaat kemudian perasaan itu teralihkan pada rasa lelahnya.
"Ijin Let.. Disini sendiri?" sapa seorang Sertu Adi yang ternyata belum tidur.
"Eehh..iya, saya kelaparan. Kamu mau makan juga?" Rival memonyongkan bibir menunjuk abon tuna yang masih berada di meja.
"Terima kasih banyak Let, saya baru saja makan nasi goreng, dapat beli di depan" jawab Sertu Adi.
"Oohh..saya juga mau beli lah. Kenapa ya perut saya malam ini susah sekali kenyangnya. Ayo temani saya kesana lagi" ajak Rival mengajak Sertu Adi keluar mencari pedagang nasi goreng tadi.
"Hmmm.. Tunggu sebentar!!!"
"Iya Let"
"Tolong pasangkan koyo di punggung saya. Sepertinya saya terlalu lelah. Belakangan ini punggung saya seperti remuk rasanya" keluh Rival.
"Hahaha... bawaan bayi Let" Sertu Adi tidak bisa menahan tawanya.
-------
"Mungkin si dedek pengen ngerjain papanya juga" ucap Sertu Adi melihat Rival menggeliat merasakan sakit di punggung nya sambil menemani Rival menyantap nasi gorengnya. Rival memaksa Sertu Adi untuk makan lagi.
"Apa iya?" Rival masih heran.
"Itu benar Let, istri saya malah parah. Melihat wajah saya saja rasanya mau muntah. Sampai saya puasa empat bulan Let gara-gara ngidamnya istri saya" Sertu Adi menahan tawanya mengingat istrinya yang sampai menangis kalau melihat wajahnya.
"Waahh..parah benar istrimu. Mati penasaran saya kalau sampai begitu, tahan nggak tahan nih" tawa Rival akhirnya ikut pecah juga mendengar cerita Sertu Adi.
Mas jadi tambah kangen saja sama kamu dek.
---------
Rival membaringkan badannya yang lelah dengan memeluk rasa rindu pada istri tercinta. Memiringkan badan ke kiri dan ke kanan belum bisa membuat hatinya tenang.
"Lama-lama aku bisa stress. Aku tidak pernah serindu ini yank" gemasnya sambil menyembunyikan kepala di bawah bantal.
Jauh disana Yara pulas dalam tidurnya, memimpikan Rival yang membelai lembut rambutnya. Belaian yang juga sangat ia rindukan. Tak lama Yara terbangun karena Arben meminta susu.
__ADS_1
"Kakak tidur lagi ya. Mama mau sholat dulu"
Arben tidur lagi, Yara pun segera berangkat sholat tahajud.
---------
"Bang.. bangun bang! sudah lewat subuh ini" Letda Zuhri litting Zein membangunkan Rival yang sudah jam 04.53 tapi belum bangun juga.
"Haahh.. Ya Allah.. Kenapa tidak ada yang membangunkan saya!!!" Rival melonjak kaget dengan matanya masih memerah. Rival segera membersihkan diri dan berwudhu pagi itu.
"Aahh..elaah Abang. Kami sudah bangunkan Abang. Tapi Abang jawab lain. Tak bisa lah kami bangunkan Abang lagi" ucap Letda Ucok dengan nada meninggi agar Rival mendengarnya dari kamar mandi.
"Emang saya bilang apa???" Rival segera menggelar sajadahnya, memakai sarung dan memakai pecinya.
"Itu bang.. Abang mengigau mencari istri Abang"
"Astagfirullah......" Rival melepas sarung serta peci dan membuangnya di atas tempat tidur lalu menyambar handuk untuk segera mandi. Ia samar mengingat sedang bersama Yara dalam mimpinya.
Pasti aku batal juga. Lebih baik aku mandi saja. Tidak ada yang bisa memastikan dalam mimpiku aku tidak macam-macam.
-------
Rival mengangkat kedua tangan di depan dadanya memohon ampunan dalam doa seusai sholat. Tak lupa Rival mendoakan kedua orang tuanya dan mertuanya. Juga doa untuk istri tercinta dan anaknya. Doa agar istrinya selalu sehat, meminta rumah tangganya dijauhkan dari segala cobaan dan marabahaya.
"Bang.. waktunya apel pagi" tegur Letda Zuhri.
"Iya..saya persiapan dulu"
***
Penerjunan siang ini Rival masih bersama kelompok Melisa juga. Pendaratan mereka terbilang sempurna.
"Mas..kita nongkrong yuk" ajak Melisa.
"Maaf Mel. Aku janji pada istriku untuk menemaninya video call sampai dia tidur" tolak Rival jujur.
"Mas sudah menikah? Kita keluar saat dia tidur saja mas. Bagaimana??" ajak Melisa.
"Tidak bisa Mel. Istriku sedang hamil. Dia sensitif sekali dengan hal berbau wanita. Aku tidak mau mencari perkara"
"Mas tergolong suami takut istri?? Ayolah!!!" tawa Melisa terbahak mendengar jawaban Rival.
"Tidak ada suami takut istri. Yang ada aku menjaga hatinya karena aku sayang. Istriku sudah ikhlas lelah dan letih mengandung dan melahirkan anak ku. Kuharap kamu mengerti" Rival meninggalkan Melisa tanpa menunggu jawabannya.
.
__ADS_1
.