
Rival sangat resah, ia tau bayinya sudah berada di bawah.
"Anakku sudah di bawah dek!! Kamu nggak boleh kemana mana!" bisik Rival membungkuk memeluk Yara.
"Aku takut mas" Yara mulai pesimis merasakan dirinya begitu sulit bernapas dan yang ia tau hanya terlalu sakit untuk di rasakan.
"Mas temani disini. Mas nggak bisa bilang apa-apa..." Suara Rival tercekat, sulit untuk mengungkapkan segala rasa..takut, cemas dan gelisah. Rival memijat punggung Yara agar istrinya lebih tenang. Yara mengalungkan lengannya pada leher Rival. Saat kontraksi menyerang, Yara hanya bisa meremas pundak Rival sekuat tenaga. Yara menahan tangisnya.
"Lepaskan saja sayang, jangan di tahan..mas tau ini sakit" Rasa bersalah Rival terbersit menguasai hati, tapi apa mau di kata inilah alur hidup yang sebagian besar di rasakan oleh seorang wanita namun tetap saja Rival merasa tidak tega.
Naya datang bersama Zein dan Vena. Ia khawatir melihat putrinya akan segera menjadi seorang ibu. Melihat rintihan Yara, Naya merasa tidak tega. Ingin rasanya menemani Yara di dalam sana tapi ia sendiri tau bagaimana kondisinya sendiri.
Yara menegang merasakan perutnya yang terus berkontraksi. Nesya masuk kedalam ruangan tempat Yara akan melahirkan. Rival menekan emosinya demi Yara tapi kehadiran Nesya yang tulus ingin membantu Yara malah membuat tensi darah Yara meninggi dan tak bisa ia tahan rasa tidak nyaman saat melihat Nesya.
"Tolong Nes.. aku tidak mau menyakiti hati istriku lagi" Nesya mengerti dan akhirnya ia keluar dan langsung memeluk Nathan yang sedang menggendong Vena.
Sebuah ambulans pun datang bersama dua tenaga medis. Mereka langsung menuju ruangan Yara dan memeriksa kondisi Yara.
"Bro, kita bicara sebentar!" colek pelan dari seorang dokter Farhan disana, ia juga teman Rival.
Rival tersenyum pada Yara memberi ketenangan pada istrinya.
"Mas tinggal sebentar dek" Rival meninggalkan Yara dengan cemas karena Yara seperti tidak kuat lagi..napasnya seakan hilang timbul.
----------
"Hmm..ada tanda bahaya dari kandungan istrimu. Istrimu pre-eklampsia dan detak jantung bayimu sangat kencang..." Farhan berhenti menjelaskan melihat ekspresi wajah Rival yang berubah panik.
Naya, Randy, dan Zein mendengar dengan resah yang tidak kalah hebat.
"Cepat katakan..jangan mengulur waktu, istriku sudah kesakitan disana" tegas Rival.
"Seharusnya di lakukan operasi...."
"Lakukan saja!!!!" potong Rival cepat.
__ADS_1
"Tidak bisa, bayimu sudah masuk jauh dalam panggul! Istrimu dalam kondisi yang tidak baik..antara kuat dan tidak"
Naya pingsan, ia tidak tega mendengar putrinya dalam kesulitan.
"Bro..hal buruk bisa saja terjadi pada bayimu, istrimu..atau mungkin pada keduanya"
Rival menutup wajahnya dengan gusar. Hatinya kembali terasa terguncang mendengar berita ini. Rival mencengkeram kerah seragam Farhan.
"Kamu khan seorang dokter, kamu pasti tau apa yang terbaik untuk Yara. Kalau kamu tidak bisa menyelamatkan Yara, Jangan harap kamu akan selamat dariku!!"
"Abang..sadar!!! Nyebut bang!!! Abang juga jangan emosi seperti ini" Zein menarik tangan Rival.
"Ya Allah Zein.. cobaan apalagi ini" Rival menahan perasaannya. Tak lama terdengar suara panggilan dari perawat. Yara semakin melemah. Rival berlari masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Farhan.
Farhan bersiap membuka penutup bawah Yara yang sudah di pasang oleh perawat wanita. Rival menahan langkah Farhan.
"Aku tau permintaanku tidak sesuai prosedur tapi..bisakah aku yang menangani istriku sendiri?"
"Cckk..kau ini, masih sempat kau cemburu denganku" Farhan segera berpindah tempat dan Rival yang menangani Yara.
---------
"Lihat bro.. gimana perkembangannya!" Rival mengikuti perintah Farhan sesuai semua arahannya tadi. Selang oksigen dan infus sudah menancap pada pergelangan tangan Yara.
Rival berdehem menghilangkan grogi membuka penutup bawah Yara. Rival melotot sempurna melihat pemandangan di hadapannya.
Sshh.. astaga.. luka lain sudah sering kulihat, tapi soal ini lain.
Yara menggelinjang, kakinya tidak bisa tenang.
"Sudah terlihat sedikit Han" ucap Rival memberi tau Farhan perkembangan Yara, hatinya mulai resah.
"Itu hanya tinggal sedikit lagi. Istrimu harus kuat Val!" Farhan menjelaskan kondisi Yara yang semakin melemah.
"Aku nyerah mas" lirih Yara yang sudah tidak begitu bertenaga.
__ADS_1
"Nggak baik bicara begitu sayang. Apa kamu nggak sayang anakmu ini" bujuk Rival mengembalikan kesadaran Yara yang hampir hilang.
Perlahan napas Yara melemah, pandangan matanya mulai kabur. Yara teringat saat bertemu pertama kali dengan Rival.
"Aku tak tau mengapa aku sangat mencintaimu mas, kamu yang mengajariku segalanya dalam pernikahan kita"
"Andaikan Tuhan mencabut nyawaku demi melahirkan anakmu, aku rela mas!" ucap Yara terbata.
Mendengar ucapan istrinya, Rival seperti terkena serangan jantung. Setelah baru saja ia merasa lega karena tak akan berpisah dengan Yara, kini Rival harus menghadapi situasi yang lebih dari sekedar mengoyak batinnya.
"Kita manusia tidak boleh melangkahi ketentuan Tuhan dek" Rival menahan tangisnya.
"Aku ingin mendengar kata cintamu mas!"
Tak lama kontraksi begitu hebat menyerang Yara. Istri Lettu Rival itu menggelinjang dengan kuat. Rival terisak kemudian menarik napasnya dengan panjang, lalu Ia melantunan surat Al A'raf ayat 54 serta ayat kursi. Hening sesaat, tak ada lagi rintihan Yara. Randy, Naya dan Zein bahkan tak menyangka Rival bisa melantunkan doa seindah itu.
"Mas akan menghujanimu dengan kata-kata cintaku. Mas akan menyayangimu hingga kita sampai di syurga Nya. Jika kamu marah padaku karena membuatmu sengsara seperti ini, mas terima dek..tidak apa-apa. Tapi anakmu ingin merasakan belaian seorang ibu. Lahirkan dia, temani dia menyapa dunia ini. SATU KALI SAJA.. mas yakin istri mas sanggup melahirkan anak kita" lirih Rival mencoba bujukan terakhirnya.
Pelan Yara membuka mata. Ketika begitu kuat tekanan pada perutnya, Yara pun menekan sekuatnya dan Rival menggantikan posisi perawat yang berada di bawah Yara.
Rival melihat sesosok mungil meluncur bersamaan dengan cairan yang bercampur darah dari sana. Rival menerima bayi kecil itu lalu mendekapnya, reaksi yang begitu kaku dari seorang ayah yang pertama kali menggendong bayinya. Rival mengusap pelan punggung putranya. Perawat segera mengarahkan agar Rival memotong tali plasenta bayi keciil. Bayi itu menangis kencang.
"Allahuakbar.. Alhamdulillah Ya Allah" ucap Syukur Rival tidak mampu lagi menahan tangis. Ia mengecup Yara sekilas lalu Rival mengambil kain untuk menutup tubuh anaknya. Dokter Farhan membantu Rival mengurus anak Rival.
Naya yang sudah sadar ikut terharu bersama Zein di luar ruangan. Aura senyum di balik haru ikut menambah kebahagiaan mereka.
"Dok.. Bu Yara pendarahan!" perawat yang saat ini sedang menangani Yara menjadi cemas. Seketika keadaan ini membuat Rival kembali terguncang. Rival keluar ruangan meminta bantuan Naya untuk menjaga putranya.
Rival berlari menemui Yara lagi. Dilihatnya Yara masih setengah membuka matanya. Rival mengacak rambut cepaknya dengan gusar.
Apalagi ini Ya Allah?? Aku tidak kuat melihat istriku sengsara menanggung rasa sakitnya sendirian.
"Mas harus apa dek, Mas harus bagaimana agar bisa mengurangi sakitmu. Kamu harus sehat sayang. Apapun akan mas lakukan"
.
__ADS_1
.