Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
48. Sebelum ujian.


__ADS_3

Rival pulang dengan pakaian yang kotor dan wajah yang sangat lelah, duduk bersandar pada kursi meja makan di dapur dan memijat pangkal hidungnya.


Yara datang tiba-tiba duduk di pangkuan Rival dan bergelayut manja, tangannya melingkar pada tengkuk Rival.


"Tumben.." senyum Rival membuka matanya. Yara mengangguk sesekali mencium pipi Rival.


"Kamu mau apa dek?" tanya Rival menanggapi Yara yang tidak seperti biasanya. Yara nampak malu-malu dan itu membuat Rival gemas.


"Aku mau...."


Yara melihat wajah suaminya yang tersenyum mulai berbinar binar penuh harap. Yara menyandarkan kepalanya pada kening Rival dan terus bersikap manja.


"Aku mau..mas carikan belalang. Aku ingin makan belalang goreng"


Senyum Rival luntur seketika, ia mengira istrinya akan meminta jatah. Ternyata hanya mengidam yang sepertinya sulit ia dapatkan.


"Apa tidak ada opsi lain??" Rival heran dengan keinginan Yara tapi ia juga harus memaklumi keinginan bumil.


"Sayangnya aku hanya ingin itu"


Rival kembali tersenyum bersiap berjuang menuruti acara ngidam sang istri.


"Siap laksanakan ibu komandan" jawab Rival menyanggupi walaupun ia sendiri tidak tau bagaimana nanti dan akan mencari belalang itu kemana.


***


Anak buah Rival sudah berkumpul di lapangan. Rival mondar mandir bingung harus bagaimana mengutarakan maksudnya. Setelah beberapa lama Rival mulai bicara.


"Ehemm.. maaf saya memanggil kalian semua karena ada hal yang harus saya sampaikan di luar kegiatan kita. Tapi saya mohon bantuannya" ucap Rival memelas


"Bisakah saya minta bantuan untuk mencarikan saya belalang?"


Anak buah Rival siap dan menyanggupi tapi mereka tampak bingung.


"Ijin Dan, kalau boleh tau. Untuk apa mencari belalang?"


Rival merasa tidak enak mengatakannya tapi ia tidak punya cara lain selain meminta bantuan.


"Istri saya ngidam makan belalang. Saya tidak tau bagaimana mencarinya" jawab Rival menggaruk tengkuknya. Anak buah Rival ingin sekali tertawa kencang, tapi tidak mungkin bagi mereka menertawakan atasannya.


Mereka pun berangkat menggunakan motor karena ini bukan kegiatan dinas. Tak lama mereka tiba di hutan kaki gunung dan mulai pencarian. Rival melangkah, matanya mengintai sekitar mengikuti cara anak buahnya mendapatkan belalang. Ya...Rival sangat takut dengan belalang.


Seekor belalang terbang hinggap di dada Rival, ia melompat dengan kagetnya hingga jatuh berguling guling tapi belalang besar itu tetap menempel. Beberapa orang anak buah berlari membantu Rival yang sangat ketakutan.

__ADS_1


Rival mengatur napasnya lalu membuang kasar sebatang ranting yang di pegangnya.


"Ya Allah...kalau nggak karena kamu dan anakku. Aku tidak akan mau mencari belalang sampai seperti ini" ucapnya geram sambil menunduk duduk membuka kakinya lebar.


"Komandan takut belalang?" tanya Arif seolah mengejek.


"Apa kamu bilang? Saya tidak pernah takut, hanya geli saja" jawab Rival gengsi.


Seekor belalang hinggap lagi di badan Rival, Rival mulai berguling lagi menendang disana sini. Arif dan Dio masih bengong tapi langsung tidak bisa menghentikan tawanya. Arif mengambil belalang tersebut sedangkan Dio menenangkan Rival yang wajahnya kini berubah pucat.


"Ok..ok..saya menyerah, saya sedikit takut dengan belalang jadi tolong bantu saya" gelak tawa Arif dan Dio terdengar seperti hiburan tersendiri bagi mereka.


"Kalau saya tidak ingat istri saya yang lagi ngidam, saya sikapkan kalian sekarang juga" kesal Rival membuat kedua anak buahnya menahan tawa.


***


Rival menenteng puluhan ikat belalang. Dio mengantar atasan sampai ke depan rumah. Yara menyambut suaminya dengan senyum bahagia membuat lega hati Rival.


"Ini dek, mas bawakan belalang pesananmu. Mas mandi dulu ya! Setelah itu mas siapkan menu belalangnya. ok!!!"


"Iya mas. Cepat ya!"


"Siap istriku sayang" Rival masuk dan secepatnya mandi. Sebenarnya ia sangatlah lelah tapi demi sang istri ia rela melupakan rasa lelahnya.


Setelah berganti pakaian Rival bersiap memasak. Rival menyiapkan semua bumbu untuk bahan memasak. Yara menunggu Rival memasak sambil duduk di lantai memakan kerupuk dengan membawa toplesnya. Rival tertawa melihat istrinya yang tidak bisa berhenti mengunyah padahal di awal kehamilan bahkan untuk makan saja sangat sulit.


"Nggak tau mas, rasanya kok lapar terus ya" sambil terus memasukan makanan didalam mulutnya.


"Kamu makannya kerupuk dek, coba makan kentang, ubi, talas atau sejenis yang lain. Kalau kamu makan kerupuk dari mana gizinya?" jelas Rival sambil menguleg bumbu.


"Lihat mas aja sudah bergizi kok" jawaban Yara membuat Rival gemas, ia mencubit gemas pipi Yara.


"Anak papa..coba dengar mama bilang apa. Ada apa dengan mama? tumben sekali seperti ini!" sindir Rival pada Yara. Yara tersenyum malu mendengar sindiran Rival.


"Dek, kamu siap-siap. Sebentar lagi ada tamu. Praka Anwar mau kesini bersama istrinya"


"Ada apa mas? kenapa tidak diselesaikan di kantor?" tanya Yara.


"Ada baiknya kita cari jalan tengah untuk setiap masalah daripada terlanjur naik sampai kantor. Ada anak juga yang harus di pikirkan" jawab Rival sendu.


"Apa kesalahan Praka Anwar mas?"


"Dia selingkuh dengan warga desa sebelah. Apa pendapatmu dek?" tanya Rival karena ia juga penasaran seandainya Yara tau pekerjaannya kemarin yang menjurus pada hal yang tidak baik.

__ADS_1


Yara menunduk memikirkan sesuatu. Yara menghela napas panjang.


"Aku seorang wanita mas, aku tidak bisa memberi masukan apapun"


"Kamu adalah ibu Danki mereka, nanti jawablah dengan bijak. Tapi jika kamu dalam posisi seperti ini apa yang kamu lakukan? Rival sangat berhati-hati dalam bertanya. Yara mengusap perutnya.


"Aku minta cerai mas! Aku tidak akan mempertahankan bapak dari anakku jika ia memberatkan wanita lain. Aku tidak akan mengenalkan siapa bapaknya. Bagiku bapaknya sudah mati"


Astagfirullah hal adzim dek. Jangan katakan itu lagi.


"Apa mas berselingkuh di belakangku?" tatapan mata tajam melihat Rival, seketika itu juga Rival tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.


"Aku hanya bercanda mas" jawab Yara tersenyum bahagia. Rival hanya bisa membalasnya dengan senyum yang di paksakan. Hatinya gundah gulana sakit sekali untuk di rasakan.


***


Yara senang sekali melihat aneka macam menu belalang di atas meja. Setelah Yara mandi makanan buatan Rival sudah tersedia. Yara memakan dua ekor belalang goreng lalu imenyudahi acara mengincipnya.


"Hanya begitu saja????" tanya Rival tidak percaya.


"Iya mas, aku puas sekali" jawab Yara.


"Ya Allah dek. Itu mas carikan khusus untuk kamu, totalnya ada kalau tiga kilo" protes Rival.


"Ini khan anakmu yang minta mas" mendengar kata anak, Rival tidak bisa berkata apapun lagi.


tok..tok..tok..


Rival berjalan ke depan rumah membukakan pintu. Rival mendengar tamu di depan rumahnya masih saja berdebat.


"Masuk dulu!!" perintah Rival.


"Siap Dan" jawab Praka Anwar dengan tegas.


------


Anwar dan Dini duduk bersebelahan. Yara dan Rival melihat mereka yang masih saling bersitegang.


"Kamu tau itu kesalahan fatal. Kenapa kamu lakukan?" tanya Rival pada Anwar


"Saya salah Dan, awalnya saya kenal lewat sosmed, kemudian kopi darat dan akhirnya berlanjut"


Yara menyandarkan punggungnya merasa terkejut dengan masalah Praka Anwar.

__ADS_1


.


.


__ADS_2