Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
59. Rahasia di balik tato


__ADS_3

"Yaa..baiklah, aku yang akan berlari mengelilingi asrama dan Batalyon. Puas kalian" Rival membuang kasar napasnya dengan kesal. Nathan memang sedang sibuk dengan urusan laporan sedangkan Zein sibuk dengan acara olahraga para ibu.


Rival membuka seragam luar dan hanya menggunakan kaos, celana loreng dan sepatu nya saat berlari.


"Waahh.. kau tidak adil pada anak buahmu. Mereka tidak pakai baju seragam" ejek Nathan yang kembali di antara mereka dengan menenteng laporan.


"Jangan mengejek" tegas Rival lalu ia pergi berlari bersama anggota yang lain.


----------


Hari ini ada olahraga gabungan di Batalyon. Yara sibuk mengecek segala persiapan yang ada. Naya bersama ibu senior yang lain sedang mengasuh Arben agar tidak menggangu mamanya. Ia sudah santai sekarang karena Randy akan segera purna tugas.


"Tolong ambilkan mas minum dek!" pinta Rival pada Yara sambil terengah engah setelah berlari.


"Itu lehermu kenapa Val?" tanya Randy yang akan mengecek sound system.


"Alergi pa" jawab Rival santai usai meneguk minumannya. Randy seolah cuek saja karena tidak begitu memperhatikan dan segera fokus dengan tugasnya.


"Pakai baju mu mas, banyak ibu-ibu" tegur Yara.


"Biar saja. Ini Khan tanda cinta dan rindu mu pada suami"


Yara kesal karena Rival seakan tidak malu dan tetap santai mendengar teguran nya. Riuh tepuk tangan para ibu mengiringi olahraga antar kompi.


"Perwiranya mana ini???" ucap Danyon yang sengaja mengerjai Rival dan para perwira lain agar ikut partisipasi dalam tanding volly dan lomba suami gendong istri.


"Ampuun.. kenapa om ku itu masih bertahta juga" Rival menepuk dahinya karena yakin Danyon pasti mengerjainya.


Dari kejauhan Danyon berteriak memanggil Rival.


"Heii.. Lettu Rival. Masih kuat gendong istri atau tidak?"


Apa lagi om Suherman itu. Sedang mengujiku atau mengejekku?


"Siap..Tantangan di terima"


Seluruh pasangan bersiap dengan pasangan masing-masing begitu juga Yara dan Mutia.


"Mas menggendong aku dari depan atau dari belakang?" tanya Yara polos.


"Kalau dari depan bahaya. Mas nggak kuat dek. Belakang saja"


Sebelum Yara naik ke punggung Rival, Rival melihat Mutia sedikit bersitegang dengan Zein dan nampak Mutia kesal dan ingin menangis tapi mereka tahan di hadapan anggota yang lain.


Pertandingan pun di mulai. Rival mengangkat badan Yara seolah tidak merasa berat padahal istrinya itu sudah sedikit lebih berisi. Canda tawa dan godaan Rival pada Yara mengundang gelak tawa para anggota karena Rival bisa begitu centil mengusili istrinya. Tak jarang hal itu membuat Yara tersipu malu dan memeluk Rival menyembunyikan wajahnya yang memerah.

__ADS_1


"Istri saya ini nggak kalem ya ibu-ibu, padahal di rumah kalau sudah marah..asal buka mulut aja..itu dinding rumah ikut gemetar" canda Rival yang membuat Yara semakin membenamkan wajahnya ke dada Rival. Randy dan Naya hanya bisa tersenyum melihat tingkah dan kemesraan anak mereka.


-------


Rival sedang pull up di lapangan yang sudah perlahan sepi sedang ditemani Yara disana. Lama dalam tugas membuatnya jarang berolahraga dan ia ingin melemaskan ototnya lagi.


Saat menggantung dan menaikan tubuhnya, sekilas nampak tanda merah pada perut Rival. Randy dan Naya yang tak sengaja melihat pemandangan itu matanya membulat tajam terutama Randy.


Rival sudah turun dari posisinya dan langsung mendapat teguran keras dari sang papa mertua.


"Kamu ini gimana Val. Kenapa nggak ingatkan istrimu, kenapa buat stempel banyak sekali di badanmu. Malu dilihat yang lain"


Randy merasa risih karena tentu saja yang berulah adalah putrinya sendiri.


"Sudah terjadi, mau gimana lagi pa. Ini juga nggak sengaja semalam"


"Yara, suamimu khan biasa memimpin anggota. Kamu harusnya bisa menjaga wibawa suamimu. Jangan gini donk nak. Mama saja jadi tidak enak melihatnya" teguran Naya membuat Yara merasa bersalah dan tertunduk malu.


"Sudah ma..pa, ceritanya bukan seperti itu. Yara juga nggak sengaja gara-gara Zein. Lagi pula saya juga salah nggak bisa mengontrol keadaan tadi malam" jelas Rival.


"Zein????" tanya Naya dan Randy bersamaan.


......


......


"Tunggu dek!! Sampai kapan kamu mau seperti ini" bentak Zein di ruangannya tapi masih bisa terdengar Rival yang lewat di depan ruangan Zein sambil menggandeng tangan Yara.


"Jangan berlebihan mas. Ini masalah kecil" Mutia melepas tangan Zein yang menggenggam tangannya.


"Berlebihan?? Dalam keadaan sehat kamu mengabaikan ku hampir 6 bulan dan kamu bilang aku berlebihan??"


Yara menerobos masuk tanpa bisa Rival hentikan. Rival mengikuti Yara masuk ke dalam ruangan Zein.


"Zein..kecilkan suaramu. emosimu tidak akan membantu menyelesaikan masalah" Yara menarik tangan Zein.


"Biar saja kak. Biar dia tau membiarkan suaminya berbulan-bulan itu dosa besar" Zein mengibaskan tangan Yara dengan kasar. Rival pun menarik Yara menjauhkan dari emosi Zein karena ia sebagai pria juga tau rasanya terabaikan.


"Dan kamu dek. Hal semacam ini bisa merusak rumah tangga kita. Bagaimana kalau aku begitu kesal dan mencari pelampiasan lain" imbuh Zein.


"Mas cari saja dan lakukan apa yang mas suka. Kalau mas mau tinggalkan aku, aku tidak peduli" Mutia kesal pada Zein hingga meninggikan suaranya.


Mendengar ucapan Mutia, seakan kesabaran Zein habis, Zein melayangkan tangannya untuk menampar Mutia. Yara berlari ke hadapan Zein.


"Dek..jangan" cegah Rival yang masih diam sejak tadi.

__ADS_1


plaaaaakk


Seketika Yara oleng ke arah Rival.


"Astagfirullah hal adzim... ZEIIIIINNN" Kemarahan Rival begitu melihat Yara tertampar keras oleh tangan Zein. Sambil terus memegang Yara, Rival menampar balik Zein dengan keras pula.


Plaaaaakk..


"Itu tamparan untuk kelakuanmu"


Plaaaaakk..


"Itu tamparan karena kamu sudah berani menampar istriku"


Zein mundur dan langsung duduk merasakan kakinya yang lemas karena perbuatannya sendiri.


"Maaf bang..aku nggak sengaja" emosi Zein hilang seketika.


Tiba-tiba Randy masuk ke dalam ruangan yang sempat mendengar keributan itu setelah menitipkan Ay pada Naya juga. Begitu Randy melangkah..Mutia pingsan di lantai. Zein sangat kaget dan langsung mengangkat Mutia membaringkannya di sofa. Yara sedari tadi belum mau menampakan wajahnya dan terus menangis di pelukan Rival.


"Anak bodoh..apa kamu puas kalau sudah terjadi seperti ini" tegur keras Randy yang ikut menampar Zein.


Plaaaaakk


"Kamu jahat Zein..kamu tidak peka dengan keadaan. Bagaimana bisa kamu mau menampar dan menduakan istrimu" kesal Yara.


Zein mengusap wajahnya dengan gusar melihat Mutia pucat karena ketakutan, ia belum sadar juga.


"Bangun dek. Maafin aku" sesal Zein.


"Kalau aku jadi istrimu aku akan meracunimu" imbuh Yara.


"Jangan lah kak. Kakak bukannya mendinginkan suasana malah memanaskan suasana" bentak Zein.


"Kalau berani membentak istriku sekali lagi, tamparan ku akan melayang ke wajahmu..agar pikiran mu itu menjadi encer" bentakan Rival membuat seisi ruangan terdiam.


Tangis Yara semakin pecah, ia sangat takut juga kecewa dengan kelakuan Zein.


"Kamu sungguh keterlaluan. Tamparan mu itu sakit sekali Zein. Untung saja aku yang merasakannya. Bisa bisanya kamu mau menampar istrimu yang sedang hamil" lirih Yara.


"Astagfirullah..yang bener kamu dek????" Rival pun terkejut dengan ucapan Yara. Yara mengangguk membenarkan.


Zein luluh lantah di lantai mengacak rambutnya yang semula rapi, ia begitu menyesali perbuatannya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2