Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
76. Perjuangan ( Lagi )


__ADS_3

Kakek membawa segelas ramuan herbal yang harus diminum Rival selain obat untuk penyembuhan kelumpuhan nya. Kakek juga memijat kaki Rival pagi dan sore agar segera sembuh.


"Minum sampai habis dan jangan sekali-kali kamu muntahkan karena kakek akan memukulmu" ancam kakek.


"Apa fungsi obat ini kek?" tanya Rival bingung.


"Itu agar 'dongkrak' mu kembali perkasa dan bisa punya keturunan lagi. Musibah yang menimpamu kemarin 'melemahkan' mu untuk bisa punya anak lagi" Rival sangat syok mendengar penjelasan kakek. Seketika mentalnya hancur total.


Bagaimana aku bisa menghadapimu dalam kondisi ku yang seperti ini dek. Aku tidak akan bisa menafkahi mu dengan benar. Tidak akan pernah bisa membahagiakanmu.


Rival mengusap wajahnya dengan kasar. Kekecewaan Rival melihat dirinya sendiri tergambar jelas dari wajahnya.


"Semua masih bisa di obati" hibur kakek.


"Berapa lama kek?" suara Rival tersendat oleh perasaannya.


"Setengah tahun. Mungkin lebih"


Rival tertegun memejamkan matanya. Bertanya pada dirinya sendiri apakah ia akan sanggup melewati semua ini.


"Kamu harus bisa. Anak istrimu menunggu. Kamu ingin membahagiakan mereka khan?"


Rival mengangguk masih menata hati.


"Ayo minum. Lebih cepat di obati akan lebih baik"


"Itu pasak bumi, kayu ular, akar laut dan banyak lagi bahan dari hutan" jelas kakek. Rival mengangkat ramuan itu lalu meminumnya.


Baru sampai di ujung bibir, rasa yang amat pahit memenuhi rongga mulutnya. Tenggorokan Rival seakan berhenti dan perutnya seperti teraduk.


hhkk......hhkkk


Kakek sudah memelototi Rival dengan tajam.


"Kau ini tentara macam apa. Minuman begitu saja tidak berani meneguknya. Harusnya kamu lebih takut istrimu berpaling karena 'dongkrak' mu tidak mampu membuat istrimu puas" perasaan takut langsung membuatnya cemas. Jelas ia sangat khawatir Yara akan mencari kepuasan lain karena ia tidak mampu memberi Yara kepuasan batin.


Tanpa ragu Rival menghabiskan ramuan itu tanpa sisa. Meskipun rasa pahitnya begitu menyiksa.


Ini semua demi kamu sayang. Semua akan kulakukan demi kebahagiaanmu. Jika kita bertemu nanti, Aku tidak akan meminta mu memberi ku seorang anak lagi. Tapi jika Allah masih memberi kepercayaan padaku, akan aku terima dengan senang hati.


***

__ADS_1


Bulan telah berganti, Rival sudah bisa menggerakkan kakinya perlahan. Rival terus melatih kemampuan fisiknya agar ia bisa cepat berjalan kembali.


--------


Malam tiba. Terasa sunyi langit yang bertabur bintang, angin berhembus menggoyang pondokan kakek. Rival meraba dadanya mengingat Yara. Ia menutup matanya membayangkan wajah sang istri tercinta berkelebat dalam pikirannya.


Cantiknya kamu sayang. Mas Rindu kamu. Rindu perhatianmu.


Perasaan sebagai pria dewasa malam itu tiba-tiba mencuat hebat. Perasaan hambar, sedih dan sakit sendirian ia rasakan. Penyaluran yang tidak tersalurkan terlepas begitu saja tanpa bisa di tahan.


Rival membuka matanya. Lalu senyumnya mengembang bercampur rasa haru.


"Alhamdulillah.. akhirnya setelah berbulan-bulan aku bisa merasakan 'dia' kembali sempurna" gumamnya mengusap wajah penuh rasa syukur.


***


Pagi ini Rival mencoba untuk berdiri lagi. Semangatnya muncul karena kakinya bisa tegak. Rival pun belajar melangkahkan kaki dan ia pun mampu melakukanya.


Dua bulan penyembuhan. Rival bisa berjalan dengan baik walaupun kakinya belum seratus persen kuat.


"Kek..apa ada yang bisa saya kerjakan? Saya ingin segera pulang menemui keluarga saya" tanya Rival di suatu sore.


"Sementara hanya bisa menjadi petani karet dan sawit serta mencangkul ladang untuk di tanami" jawab kakek.


***


Pagi buta Rival sudah berangkat mencangkul ladang dan melanjutkannya dengan memanen getah karet. Siang bolong Rival mengangkut ke truk semua hasil panen kelapa sawit. Hujan panas lelah dan letih tak dirasakannya hanya demi bisa pulang menemui keluarga di rumah.


Tiba di hari Rival sudah bisa mengumpulkan cukup uang. Rival berpamitan dengan kakek dan nenek. Rival memberikan setengah uang yang didapatnya tapi kakek dan nenek menolak.


"Bawalah..kami tidak butuh uang nak. Pernah merawatmu saja kami sangat senang. Jika bisa kesini lagi. Tengoklah kami lagi" pesan kakek.


Kakek menyerahkan kantong yang berisi seragam terakhir Rival dan pistol yang masih berada disana. Mata Rival berkaca kaca menerimanya.


"Terima kasih atas semua pertolongan kakek dan nenek. Mungkin aku sudah mati jika kakek dan nenek tidak menolongku"


Tanpa sepengetahuan kakek dan nenek, Rival menyelipkan uang yang didapatnya dari bekerja meskipun saat bekerja disana Rival selalu memberi kakek dan nenek cukup uang.


***


Dengan rambut di ikat kecil bagian atasnya yang mulai panjang, tak lupa memakai cincin kawin pada jari manisnya lalu mencium cincin di tangannya.

__ADS_1


Mas pulang sayang.


Rival menumpang truk pengangkut sawit menuju kota. Rival mencari kendaraan yang bisa membawanya pulang. Ia menutup wajahnya dengan masker dan topi yang seluruhnya berwarna hitam, menggambarkan kelam dan kerasnya hidup yang ia lalui.


Berhari hari di lalui Rival dalam perjalanan. Segala hambatan ia lalui dengan sabar termasuk berhadapan dengan perampok di jalanan bahkan lapar dan haus dalam perjalanan mampu ia tahan.


***


Akhirnya kapal yang di naiki Rival bersandar di pelabuhan. Rasa haru menyelimuti perasaan Rival menginjakan kakinya di tanah tempat ia dan Yara bertemu pertama kali.


Kakinya melangkah mulai dari pelabuhan hingga ke Batalyon tempat ia mengabdikan diri untuk bangsa dan negara.


Warna cat tembok Batalyon yang ia lewati, tidak berubah sejak dulu. Rival berhenti berjalan hingga sampai di depan kesatrian. Beberapa saat ia menarik napasnya merasa lega. Rasa rindu pada istri juga buah hatinya juga semakin terasa mengusik jiwa.


"Angkat tangan" seorang anggota mengacungkan senjata.


Ok.. saatnya kita berkenalan lagi


Rival membuka masker dan topinya.


"Siap salah.. Kapten Rivaldi"


flashback off


David terdiam meresapi perjuangan Rival. Yara sudah menangis sesenggukan tak sanggup membayangkan betapa banyak kesulitan yang Rival rasakan.


"Bisakah kalian tidak berdebat lagi!" pinta Yara. Yara bergerak dari tidurnya tapi ia merasakan sedikit nyeri bekas benturan tadi.


Rival dan David sama-sama panik dan khawatir dengan kondisi Yara. Yara tidak enak melihat situasi ini.


"Aku bisa sendiri!!!!!" kesal Yara. Yara mulai mual lagi. Yara berjalan keluar kamar dan muntah lagi disana. Kedua pria itu sama-sama bingung dan tidak tau harus berbuat apa. Mereka sama-sama tidak enak.


Ponsel Rival berdering. Ada panggilan dari kantor untuk mengurus anak Diklat belanegara. Rival melempar ponselnya dengan kesal di atas tempat tidur. Lalu mengambil ponsel itu lagi.


"Abang jaga Yara!!! Saya ada tugas di kantor" kesal Rival sambil keluar kamar.


David segera menuju ke kamar mandi untuk membantu Yara. Kali ini perlakuan David lebih dari sekedar sayang pada Yara. Setelah Yara sudah lebih baik. David mengambilkan minum dan mengajak Yara ke kamar.


"Maaf selama ini aku mengabaikanmu. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu bersedih" ucap David lembut sambil mengusap bibir Yara yang basah terkena sisa air minum.


.

__ADS_1


.


__ADS_2