Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
89. Dalam Duka


__ADS_3

Rival menyuapi Yara makan. Dari sekian banyaknya bujukan baru kali ini Yara mau makan walau hanya sedikit sekali.


"Sedikit lagi ya?" bujuk Rival. Yara menggeleng kepala sudah tidak bisa menelan makanan lagi.


"Apa perasaan mu masih belum lega?" tanya Rival.


"Melihatmu sudah cukup mas" Rival membelai rambut panjang Yara. Mata cekung Yara membuat dirinya ikut merasakan kesedihannya.


"Kita tidak bisa terus bersembunyi dalam rasa takut. Banyak hal yang harus kita lakukan agar terus maju tanpa melihat bayang-bayang buruk yang pernah terjadi"


Yara menatap wajah Rival hingga senyumnya bisa terlihat lagi.


"Kuatkan hati, Mas masih disini"


***


David menggelar sajadahnya. Ia melihat Indira yang seharian hanya tidur saja.


"Bunda sudah sholat atau belum. Seharian ini bunda belum mandi. Ini sudah jam berapa bunda? Sudah masuk sholat magrib" tegur David melihat Indira hanya berguling di atas ranjang, terkadang memainkan ponselnya.


"Sebentar lagi ya ayah, perut bunda panas" jawab Indira enggan melihat David. David masih memberi toleransi jika mandi, masak, ataupun membereskan rumah masih bermalasan walaupun Indira tidak pernah sekalipun lalai dalam kewajibannya mengurus rumah terutama suami, tapi soal perintah untuk beribadah membuatnya tidak bisa memberi toleransi.


"Bunda harus mandi biar segar. Cepat ayah tunggu! Waktu sholat magrib itu cepat Bun" perintah David sengaja meninggikan suaranya.


Indira malah menelungkup dan menangis bersembunyi di bawah bantal. David mengalah menahan suaranya. Tak bisa membuat Indira semakin menjadi dalam tangisnya.


"Ayah ada salah ya sama bunda? maaf ayah membentak bunda, tapi sholat itu wajib sayang. Ayolah..., ayah inginkan bunda mendampingi ayah hingga di syurga. Tidak hanya di dunia ini saja. Pangkat, harta dan kesenangan dunia tidak akan kita bawa mati..hanya amal iman dan taqwa yang akan Allah catat"


"Maaf yah, bunda membangkang. Bunda mandi. Ikut ayah sholat bersama" David mencium kening Indira agar istrinya segera mandi.


Indira mandi.. tubuhnya bergetar dan menggigil. Ia mempercepat acara mandinya dan segera keluar dari kamar mandi.


--------


Indira masuk ke dalam kamar sudah mengenakan mukena. Lalu sholat bersama David.


Selesai memberi salam, Indira menggigil dan terkapar di sisi ranjang. Suara jatuhnya Indira mengejutkan David yang langsung menoleh ke arah suara di belakang nya.


"Ya Allah Bun.. Bunda kenapa?" David mendekap Indira untuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil.


David mengangkat Indira ke atas ranjang lalu menyelimutinya, tangannya mencari-cari ponsel dengan cemas.


"Chika.. tolong kamu ke rumah saya! Istri saya sakit" perintah David pada adik littingnya yang berprofesi sebagai dokter di RST.


"Siap bang" jawab Chika cepat.


_____

__ADS_1


"Bunda...jangan buat ayah cemas begini. Kenapa bunda???? Apa bunda terlalu lelah" cemas David melihat Indira menggenggam tangannya erat.


"Abang tenang sedikit lah" konsentrasi Chika terpecah mendengar kecemasan David yang mengganggunya.


Sekarang David diam, ia membiarkan Chika memeriksa kondisi Indira.


"Yuuppss.. sudah bang" ucap Chika mengembalikan stetoskop pada tempatnya lagi. Chika menatap mata David penuh arti.


"Bagaimana ini?... Bagaimana kondisi istriku???" cemasnya


"Siapkan mental Abang!"


"Apa Chika??? Apa????? Bicara yang jelas!!!" tanya David sudah ketakutan jika hal buruk terjadi pada Indira.


"Jika tidak ada komplikasi, beberapa bulan lagi kita tidak perlu operasi bang!"


"Usahakan yang terbaik!!" perintah David berusaha tegar.


"Maaf.. bukan kewenangan saya menangani istri Abang. Abang bisa memeriksa kondisi istri Abang ke Dokter Farhan"


David mengerutkan kening mengingat Farhan adalah dokter yang menangani Yara. Farhan adalah dokter kandungan. Mata David membulat sempurna, senyum bahagia langsung terpancar dari paras wajah tampannya.


"Benarkah ada junior ku di dalam situ" David mengarahkan sudut matanya ke perut Indira.


"Aku yakin bang. seribu persen yakin"


"Alhamdulillah.. Terima kasih bun. Terima kasih banyak" kecup David tak bisa menahan rasa haru


Besok pagi ayah akan cukur habis rambut ayah. Ayah sangat bersyukur Allah memberi kita kepercayaan secepat ini.


***


Rival mengusap punggung Yara. Rasa sedih terbayang di pelupuk matanya mengingat perjalanan hidupnya dengan Yara.


Sayang..Malam ini mas sungguh takut. Jika mas sungguh meninggalkanmu. Bisakah nanti kamu tetap ceritakan pada semua putra kita siapa ayahnya. Ayah yang menginginkan mereka tumbuh sehat dan pintar untuk menggapai cita-cita.


Rival terlonjak menghapus pikiran buruknya. Ia mengalihkan pandangan pada satu kotak besar pakaian dan boneka yang akan ia serahkan pada kedua wanita rekan seperjuangannya.


***


"Mas mau mengantar barang almarhum ke rumah duka. Kamu di rumah saja ya dek. Mas khawatir kamu tidak kuat disana"


"Biarkan aku ikut ya mas?" pinta Yara.


Rival tau sebenarnya Yara tidak kuat, hanya saja memiliki pengalaman yang sama membuat seorang wanita lebih sensitif terhadap perasaan wanita lain.


"Ya sudah, tapi jangan jauh dari mas ya"

__ADS_1


***


Dalam perjalanan, jantung Rival berdenyut sangat kencang mengingat jatuhnya pesawat yang sudah menewaskan banyak pelatih, pilot, dan para siswa. Tekanan dalam batinnya begitu kuat menyiksa.


flashback on ( fiksi )


Seseorang menepuk bahu Rival dan sedikit menarik nya. Rival menoleh ke arah pria tersebut


"Bro.. bolehkah aku terbang lebih dulu??"


"Kamu makan siang dulu, giliran pertama khan giliran ku" tolak Rival melihat Afrizal melepas paksa parasut di punggungnya


"Aku ingin melihat indahnya langit biru dengan tenang. Kamu makan saja biar kuat pulang. Kasihan sekali istrimu itu. Setiap hamil tidak sesehat wanita lain. Biarkan ini menjadi giliran ku saja" Afrizal memaksa melepas helm yang masih terkunci di kepala Rival lalu menukar helm bernomer genap milik Afrizal.


------


Rival membuang kertas pembungkus nasi di sisi hanggar setelah makan siang, lalu secepatnya mengarahkan anggota agar segera bersiap karena sebentar lagi pesawat akan turun dan mereka akan segera bertukar dengan anggota yang masih berada dalam pesawat.


Saat berjalan pada para anggota yang berdiri jauh dari landasan, Rival melihat pergerakan pesawat yang terbang terlalu rendah sudah oleng bersamaan dengan angin yang begitu kencang berhembus. Gemuruh suara pesawat yang semakin dekat menggetarkan dadanya dengan begitu hebat. Matanya melihat baling-baling pesawat terlalu dekat dengan sisi hanggar. Kaki Rival seakan terpaku tak bisa bergerak bahkan untuk menghindari pesawat yang hanya berjarak kurang dari dua ratus meter di hadapan.


"Let...merunduk.. menghindar Let!!!!!!" suara anak buah Rival yang sama sekali tidak mempan untuk menggerakkan kakinya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. Lailaha illallah" gumam Rival dalam keterkejutan nya.


Pesawat tersebut menghujam jatuh menabrak landasan dengan begitu kuat.


Blaaaaammm...


"Allahu Akbar" teriak Rival kuat bersamaan dengan terlemparnya ia ke pinggir landasan dengan punggung terhantam lebih dulu, kemudian terbalik hingga menghantam dada dan perutnya dengan kuat.


Api, asap hitam dan puing bertebaran berhamburan pecah di sekeliling hanggar. Mata Rival masih mampu menyaksikan orang-orang berlarian bahkan ada yang mendekatinya.


"Let.. masih bisa dengar suara saya Let" ucap seseorang menepuk pipinya, membalikan badan Rival yang mengeluarkan darah dari ujung bibirnya. Rival mengerang kesakitan merasakan tubuhnya yang baru saja terhantam aspal landasan.


"Petugas lapangan, tolong penanganan darurat!!!!!" perintah anggota tersebut. Petugas lapangan bergegas memberi pertolongan pertama pada Rival sambil memberi oksigen.


"Ya Allah.. Sakit sekali" suara Rival mengejang memberi respon antara sadar dan tidak.


Bayangan anak dan istrinya seakan berputar di depan pelupuk mata. Rasa rindu juga kesedihan bercampur mengacak perasaannya berharap kesadaran tetap utuh.


Dalam ingatannya tertanam kuat sosok Arben putranya, juga Yara yang sedang mengandung buah hati mereka.


"Jangan pergi lagi nak! tunggu papa pulang" gumam Rival dalam hatinya seiring keadaan tidak sadar. Sudut mata berlinangan air mata yang segera di hapus oleh team kesehatan lapangan.


"Aku tidak akan pernah tinggalkan kamu lagi....istriku " ucap terakhirnya semakin lirih sebelum tidak memberi respon lagi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2