
"Ayo papa belikan. Jangan nangis lagi" bujuk Rival.
"Mama buatkan aja pa"
"Nggak. Mama tidur aja, jangan banyak gerak biar cepat sehat. Papa ajak Arben beli 'nasi kecap'nya dulu"
"Yara tersenyum geli karena wajah Rival antara bingung dan jengkel.
Rival mengajak si kecil Arben beli makanan yang dia inginkan naik motor gagah kesayangan Rival.
Yara menelungkup kan badannya pada meja makan rumahnya. Dadanya sedikit terasa sesak.
---------
"Sudah dapat khan Ben? Ayo pulang! Mama sendirian di rumah" Arben hanya mengangguk. Mulutnya komat kamit mengunyah wajik yang dia inginkan.
Sampai di rumah, Arben langsung masuk kamar sebelah untuk bermain. Rival menengok ke arah kamar, tidak ada Yara di sana. Rival mencari Yara di belakang.
"Ya Allah dek.. kenapa nggak istirahat di kamar?" Rival memegang kening Yara.
"Demam lagi dek"
"Aku masih kuat jalan mas" tolak Yara saat Rival mau mengangkatnya ke dalam kamar.
"Bukan waktunya berdebat sayang. Kalau kamu kuat terus kenapa? Bukannya kalau kamu kuat sudah dari tadi kamu ada di kamar"
Meskipun berat Yara sudah sangat terasa untuk di rasakan. Tapi cintanya pada Yara tidak akan membuatnya berat.
Di dalam kamar Rival membaringkan Yara.
"Kita ke rumah sakit lagi ya sayang. Mas khawatir"
Yara tertawa mendengar kecemasan Rival.
"Hanya demam biasa mas. Nggak usah panik begitu lah"
Rival melihat jam tangannya, sudah waktunya sholat Jum'at.
"Dek.. sudah mau masuk waktunya sholat Jum'at. Mas tinggal sholat dulu ya? Kamu nggak apa-apa khan mas tinggal sebentar"
"Iya mas"
"Ya sudah mas ajak Arben sekalian biar kamu bisa istirahat" Rival bangkit dari duduknya lalu bergegas mengajak Arben. Rival membuka pintu kamar sebelah.
__ADS_1
"Ya Allah Ben!!!!!!!!!!!!!!!" pekik Rival melihat isi lemari sudah berhamburan di lantai.
"Nanti saja mas.. di bereskan. Mas telat kalau masih mikir pakaian itu"
Akhirnya Rival membiarkannya, segera mandi dan menggantikan pakaian Arben. Jam semakin siang. Rival menyambar sajadah yang ikut tercampur bersama pakaian dari dalam lemari. Arben menenteng tas pinggang kecil kesayangannya. Rival mencium kening Yara lalu berangkat ke masjid Batalyon.
----------
Rival menggendong Arben masuk ke dalam masjid lalu mendudukkan Arben di sebelahnya. Sajadah ia gelar lalu melakukan sholat dua rakaat. Suasana tenang dan Arben masih dalam kondisi aman.
Tiba saatnya sholat. Dalam rakaat kedua, Rival mulai cemas karena Arben mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Saat Arben menarik nya, konsentrasi Rival mulai buyar bahkan mungkin jamaah lain pun juga demikian. Arben menggelar lingerie mamanya untuk di jadikan sayap Batman. Berputar mengitari jamaah lain dan sempatnya berguling di hadapan mereka.
Selesai sholat, dan salam sudah usai. Rival berpamitan karena tidak tahan dengan rasa malu akibat ulah putranya.
Para jamaah tidak bisa menahan tawa melihat anak Danki mereka yang lincah dan lebih cocok di bilang bandel.
"Papanya banget. Nggak ada sedikitpun sifat mamanya nyangkut" keluh Pak Suherman.
"Namanya juga anak-anak Dan" jawab Danton.
"Waktu buatnya mungkin cetakannya miring" jawab Danyon santai.
----------
"Kenapa mas? Arben kenapa nangis?" Yara yang tadinya tertidur langsung kaget dan terbangun. Kepalanya terasa sangat pusing. Pandangannya hampir kabur.
"Anakmu ini..bawa baju itu sampai masjid. Mau di taruh di mana muka ku. Malunya mas ini lho nggak tertolong lagi" tunjuk Rival pada baju Yara yang tadi di buangnya.
"Sabar mas.. Arben masih kecil. Belum tau apa-apa" bujuk Yara.
"Seingat mas dulu waktu ngaduk si Arben bilang Bismillah deh dek. Kok jadinya begini" keluh Rival.
"Huusatt.. nggak boleh ngomong gitu mas. Anak itu titipan" ucap Yara mengingatkan.
"Astagfirullah...." Rival mengurut dadanya sendiri.
eegghhh
"Kenapa sayang???? ayolah kita ke rumah sakit, sedari tadi kamu buat mas khawatir" panik Rival melihat Yara.
Maaf mas, aku tidak mau membuatmu semakin khawatir. Aku tidak mau kamu terlalu mengurusiku, istri yang terlalu menyusahkanmu karena terlalu lemah.
"Sakit seperti ini biasa mas. Namanya juga bawaan kehamilan" jawab Yara meyakinkan.
__ADS_1
Rival diam, tapi hatinya merasakan janggal, yang tidak tau bagaimana menjabarkannya.
***
"Abang minggu depan sudah pindah ke Jawa. Aku sedih sekali jauh dari keponakanku" ucap Zein sendu.
"Namanya mengisi jabatan baru ya harus siap di tempatkan dimana aka. Itu khan tidak lama hanya satu tahun lebih. Kalau jabatan Danki tidak ada yang geser kesini kemungkinan besar aku kembali lagi kesini"
"Benar juga kata Abang. Baik-baik dengan kakak. Waahh.. keponakan ku akan lahir di tanah Jawa"
Zein merasakan hatinya tidak seperti biasanya. Jauh dari keponakan membuatnya sedih juga karena ia terbiasa bermain dengan Arben. Arben juga sangat dekat dengan Ay dan Yasmin. Yaaa.. memang Zein mendapatkan dua orang putri dan Rival akan mendapatkan dua orang putra.
***
Rival mengangkat koper dan beberapa tas lainnya. Yara sudah berpamitan dengan ibu Batalyon yang lain. Hari ini Zein mengantar Yara untuk pergi bersama Rival, mendampingi suaminya di tempat tugas yang baru.
Yara berpelukan dengan Mutia, Yara mengusap wajah Mutia.
"Kamu istri terbaik untuk adik ku. Jangan lelah mendampingi nya. Maaf jika adik ku selalu menyusahkanmu. Berjanjilah akan selalu sayang padanya"
"Iya kak.. aku janji" jawab Mutia menangis tersedu-sedu. Yara beralih ke hadapan Zein.
"Kita tidak akan pernah bertengkar lagi Zein. Kamu adik kebanggaan kakak. Kakak ingin sekali memelukmu" sebutan 'kakak' dari Yara baru pertama kali ini Zein dengar. Ia merasa asing, pertama kali ini juga hatinya begitu ngilu mendengar nya.
Yara memeluk kuat tubuh Zein, menyandarkan kepalanya di bahu adik satu-satunya itu.
"Sayangi istri mu. Dia adalah wanita terbaikmu setelah mama. Kakak titip mama dan papa padamu. Jangan memutus komunikasi dengan abangmu! Percayalah dalam keadaan apapun mas Rival tidak akan menyakitiku." "
Jika abangmu sedang pada titik terlemahnya, besarkan hatinya dan jangan tinggalkan dia ya Zein. Kakak mohon" Yara menatap mata Zein.
Zein sulit mengartikan perasaan Yara saat ini. Tak biasa memeluk Yara seperti ini, juga sebutan kakak melekat kuat dalam hati Zein.
"Jangan memeluk ku sembarangan.. aku sudah beristri" ucap Zein melepas kecanggungan nya.
Yara tersenyum lepas melihat Zein.
"Cckk lebay, kita akan bertemu lagi nanti. Dasar konyol" Zein berdecih sebal.
"Iya.. kita akan bertemu lagi nanti ( Yara berjinjit mencium pipi Zein ). Kakak sangat sayang padamu Zein"
.
.
__ADS_1