
Yara sudah di perbolehkan pulang, kondisinya sudah membaik.
"Apa kata dokter mas, sampai wajahmu murung tiga hari ini" tanya Yara setelah Rival membaringkannya di kamar rumah mereka.
"Tidak ada, hanya obatmu harus terus di minum agar benturanmu tidak sakit lagi" ucap Rival menaikan selimut istrinya tanpa menatap Yara.
"Mas bohong kan???"
"Nggak dek.. sudah ya! yang terpenting itu sehat dulu, jangan pikirkan hal lain" Rival tidak ingin membuat Yara semakin cemas.
"Aku menanyakan ke dokter saat mas belum datang ke rumah sakit kemarin. Aku mendesak dokter dan dokter itu menceritakan semua padaku" Yara memalingkan wajah.
"Kalau sudah tau, sebaiknya jaga kondisimu. Tidurlah.. mas harus kembali ke Batalyon sebentar" Rival meninggalkan Yara, sebenarnya hatinya sangat sakit dan tidak tega jika Yara harus tau kondisinya.
Kamu tenang saja dek, apapun akan kulakukan untuk menghadirkan anak kita ke dunia.
***
"Bagaimana Yara?" tanya Nathan
"Apa urusanmu dengan istriku???" tatap Rival tajam.
"Hanya menanyakan kabarnya saja apa tidak boleh" Nathan bersandar santai di sebatang pohon di dekat lapangan apel.
"Tidak usah cari perhatian, aku bisa mengurus istriku sendiri" Rival menegaskan.
***
Yara sudah tidak sakit lagi, dia menata sisa barang yang beberapa bulan ini belum sempat di rapikan. Yara mengambil kotak besar berisi barang pribadi milik Rival, dibongkarnya satu persatu.
__ADS_1
Yara menemukan banyaknya foto hasil USG di kotak itu, juga foto Larasati sedang hamil besar duduk berdua dengan Rival. Senyum Larasati begitu indah sedangkan Rival menyunggingkan senyum datarnya.
Rahasia apa yang mas simpan, Larasati ini sedang mengandung. Sebegitu banyaknya hal yang tidak kutau tentang kamu mas.
Air mata Yara tak terbendung lagi, hatinya begitu sakit karena Rival tidak menceritakan apapun padanya. Napasnya sesak dan perutnya sakit tak tertahan. Di samping asma, asam lambung Yara juga tinggi.
-----
Rival masuk ke dalam rumah masih memakai baju olahraga dan celana pendeknya, terasa sepi tidak ada sahutan dari istrinya. Saat Rival masuk ke dalam kamar, Rival melihat Yara bersandar di tembok, menangis sambil menggenggam foto USG dan foto dirinya bersama Larasati.
Ya Allah aku lupa membuangnya. Bagaimana ini?!?!
Yara menatap tajam mata Rival, ada banyak penjelasan yang ingin di dengarnya.
"Larasati hamil mas??" suara Yara serak bergetar.
"Iya dek" tegas Rival
Yara menangis menumpahkan semua rasa sakit dan sedihnya mendengar kehamilan Larasati. Yara membuang dan melempar semua yang ada di sekitarnya dengan kalap.
"Maaf ya dek, mas salah..mas nggak cerita soal Larasati" Rival mendekap erat tubuh Yara yang meronta sekuat tenaga.
"Mas jahat tidak cerita, di saat aku tidak bisa memberimu anak, mas malah sudah punya anak dari wanita lain tanpa aku tau" Yara berontak hingga bisa membalikan badannya.
"Anak siapa? Dengar dulu dek" Rival berusaha menjelaskan tapi tamparan, pukulan, bahkan saat Yara menggigit bahu Rival, Rival hanya meringis sakit tanpa berusaha mendekap Yara lagi, ia membiarkan Yara melakukan apapun sampai istrinya itu tenang.
"Sudah puas sayang??" Rival mendekap kembali tubuh Yara dan membelai rambutnya.
"Mas memang tidak pernah siap menceritakan hal ini, mungkin kamu menyebutnya rahasia. Tolong bersabarlah sedikit lagi sayang. Mas akan ceritakan semua. Maaf untuk kekecewaanmu hari ini" Rival meninggalkan Yara di kamarnya.
__ADS_1
Secepatnya Rival berlari kembali ke Batalyon menuju lapangan tembak. Matanya memerah, dadanya sesak menahan sakit di hatinya. Rival mengisi pistolnya dengan peluru dan menembak dengan brutal pada papan yang berjarak dua puluh meter di depan matanya.
Zein melihat kakak iparnya seperti sedang tertekan segera menghampirinya. Zein merebut pistol Rival
"Masalahmu tidak akan selesai dengan amarahmu bang"
"Mana pistolnya!" Rival meminta kembali pistol di tangan Zein. Zein menolaknya.
"Apa yang membuatmu seperti ini?? Apa istrimu tau tentang rahasiamu??" ledek Nathan
"Dasar sial.. semua ini karenamu Nathan" Rival selalu emosi jika berhadapan dengan Nathan.
"Kamu yang tidak bisa menjaga mereka" bentak Nathan.
"Kau pikir Larasati wanita seperti itu???" geram Rival.
"Jelaskan apa yang terjadi bang" Zein ikut terpancing emosi.
"Katakan padanya kalau Larasati mengandung saat itu" sela Nathan.
Zein menarik kaos Rival dengan kasar.
"Jangan permainkan kakakku" seringai Zein begitu tajam
"Zein..lepaskan tanganmu" Randy membentak Zein yang mencengkeram kaos Rival.
.
.
__ADS_1