
Rival membaca lagi radiogram yang baru saja ia terima sekali lagi sambil memijat keningnya.
"Keberangkatan ku kali ini tidak bisa di tunda atau di gantikan?" pria yang akan menjadi ayah lagi itu mengusap wajahnya.
Ia tahu betul panggilan tugas memang adalah tugasnya, tapi kali ini batinnya berperang karena harus meninggalkan Yara lagi. Sungguh hatinya masih tidak ingin jauh dari Yara dan Arben. Banyaknya pengalaman buruk serta menghadapi ujian rumah tangganya membuat Rival berat untuk berangkat tugas lagi. Rasa yang manusiawi dalam diri manusia.
***
Rival merasa gelisah tidak tenang. Yara muntah sepanjang hari, tidak bisa makan banyak, setengah porsi pun bahkan tidak habis. Rasa bersalahnya tidak bisa ia tutupi.
"Dek.. awal bulan mas harus berangkat dinas luar. mendampingi siswa peterjun selama tiga bulan. Kamu nggak apa-apa khan mas tinggal sebentar. Nanti ada long weekend, mas pasti pulang" ijin Rival pada istri tercinta.
"Iya mas, berangkat lah. Kami disini pasti baik-baik saja"
Dalam hati Yara juga merasa berat. Tapi memang sudah selayaknya ia merelakan suami untuk pergi tugas karena itu adalah tugas seorang istri prajurit.
Rival membelai perut Yara yang sudah semakin terlihat.
"Maaf sayang, saat seperti ini mas harus berangkat tugas"
Papa kerja buat kamu nak. Maaf ya papa tidak bisa selalu menemanimu.
***
Yara membantu Rival packing semua perlengkapan yang akan di bawa dua hari lagi.
"Yank.. tolong buatkan mas sambal pecel sama abon tuna ya. Mas pengen bawa itu, takut disana rindu masakanmu" pinta Rival.
"Iya mas, nanti aku buatkan untuk mas bawa. Pedasnya sedang atau pedas sekali?"
"Kali ini yang pedas sekali dek. Biar mas selalu ingat kamu"
Yara tersenyum meng iya kan setiap permintaan Rival. Yara merasa kali ini hatinya sangat ingin mengatakan.
"Jangan pergi mas, tetaplah disini menemaniku" gumam Yara dalam hati.
"Mas.. berjanjilah untuk kembali lagi padaku"
"Apapun yang terjadi mas akan kembali untukmu dan anak kita" janji Rival.
__ADS_1
***
Pagi hari Yara membuat bumbu pecel dan abon tuna buatan Rival pesanan Rival. Rival yang hari ini tidak masuk kerja, melihat Yara yang sedang menghaluskan kacang dengan sekuat tenaga. Peluhnya sudah menetes.
"Mas saja yang selesaikan. kamu istirahat saja!" Rival menjadi tidak tega melihat Yara bersusah payah menguleg kacang sebanyak itu, ia tampak lelah dengan perut yang mulai terlihat.
"Jangan mas! Nanti rasanya beda kalau beda tangan"
Rival mengeryit tak tau mitos apa yang Yara pakai.
"Rasa tidak akan berubah selama di buat dengan cinta"
Yara melihat tatapan mata Rival yang sulit untuk di artikan. Ada banyak beban di dalamnya.
***
Siang hari pesawat yang membawa Rival dan sembilan anggota lain berangkat menuju tempat pendidikan mereka. dua orang perwira, tiga orang Bintara dan empat orang tamtama. Satu Minggu ini mereka akan menjalani test sebagai siswa peterjun. Posisi Rival saat ini adalah jumpmaster.
------
Rival : Jangan telat makan! Sedikit yang penting masuk perut dek!!. ( bujuk Rival pada sambungan telepon )
------
Rival mengusap rambut cepaknya. Hatinya gelisah memikirkan Yara. Istrinya selalu bilang sudah makan dan enak makan tapi saat di tanya kondisi Yara pada mertuanya, ternyata Yara hanya bohong belaka agar Rival tenang pada tugasnya.
Sabar ya dek! Mas hanya sebentar.. tiga bulan saja. Long weekend mas usahakan pulang.
***
Seminggu telah berlalu. Hasil test para siswa terjun sudah keluar. Mau mereka lulus atau tidak..tetap Rival akan mengawal siswa tersebut.
***
"Kamu beli baju bayi banyak sekali. Apa di kotamu tidak ada baju bayi?" tanya Rival pada Afrizal lettingnya yang menjadi siswa disana.
"Ada.. tapi aku ingin sekali membelikannya untuk putraku yang belum lahir. Biar dia tau.. bapaknya sangat sayang padanya" ucap Afrizal dengan bahagia.
"Lalu kamu, boneka sebesar itu bagaimana caramu menyerahkan nya?" tanya Rival tak kalah heran melihat Surya, seorang Pratu..anak buahnya di Batalyon membeli boneka setinggi dirinya untuk ia serahkan pada tunangannya.
__ADS_1
"Ijin Dan..Mohon di sampaikan juga padanya. Saya sangat mencintai nya. Semoga dia selalu bahagia" Rival mengeryit merasa heran dengan kawan- kawan seperjuangannya.
------
Rival menutup telepon usai menelepon Yara sebelum melaksanakan kegiatan setiap pagi. Ia tidak mau istrinya berpikir berat mengingat kondisi kehamilan Yara yang tidak seperti kebanyakan wanita lain.
"Mas sayang kamu dek" gumamnya.
Siang ini Rival keluar dari hanggar melihat matahari begitu terik dengan angin yang tidak stabil. Hari ini adalah jadwal praktek terjun pertama setelah mereka mendapatkan teori beberapa Minggu ini.
"Apa hanya perasaanku saja? Tapi arah angin ini benar tidak stabil" batin Rival.
-------
Yara duduk di tepi meja makan dengan pikiran kosong tidak tau memikirkan apa. Yang ia ingat hanya wajah Rival berkelebatan di depan matanya.
***
Rival menaikan parasut di atas punggungnya karena ia akan menunjukkan secara langsung terjun yang para siswa pelajari sekarang.
Baling-baling pesawat sudah berputar menyala. Dengung suara pesawat terdengar memekakkan telinga. Anggota bagian konsumsi sudah datang.
"Ijin Dan..makanan untuk siang ini sudah siap" laporan anggota tersebut.
"Iya.. terima kasih banyak ya. Silahkan di letakkan di samping hanggar saja" perintah Rival.
Perintah untuk naik ke atas pesawat sudah di serukan. Rival memakai helm dan kacamata terjun dan siap melangkah masuk ke dalam pesawat.
Seseorang menepuk bahu Rival dan sedikit menarik nya. Rival menoleh ke arah pria tersebut
"Bro.. bolehkah aku terbang lebih dulu??"
***
Yara duduk di ruang tengah bersandar pada di ruang tengah, menyalakan televisi. Mual baru saja reda dari perutnya. Yara mencoba makan, mengingat pesan Rival agar selalu memperhatikan kesehatan. Baru dua suapan nasi masuk ke dalam mulut Yara, terdengar suara ketukan pintu.
.
.
__ADS_1