
Seketika Rival berdiri dari tempatnya. Fahira menangis ketakutan, ia juga melihat Azizah trauma dengan kejadian ini. Rival mengambil dompet dari saku bajunya lalu mengeluarkan KTA dan melemparnya pada Azizah
"Kau puas????? Laporkan aku!!! Itu yang kau mau selanjutnya khan?" Rival berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
David melepas seragamnya lalu menutup tubuh Azizah.
"Apa yang kamu mau sebenarnya?? Kamu berbakti pada ibumu tapi tidak memikirkan imbas dari setiap tindakanmu" Azizah menatap David dengan linangan air mata.
"Kalian pulang saja daripada Rival semakin menjadi. Kamu tidak paham suami Yara" saran David. Fahira mengajak Azizah untuk pulang.
Di dalam kamar mandi Rival memejamkan mata di bawah air mengalir. Ia menggosok tubuhnya dengan jijik. Berkali kali ia menepis bayangan Azizah yang membuatnya sangat kesal.
"Seba*****n inikah suamimu ini Yaraaaa" teriakan Rival mengagetkan seisi ruangan.
"Kamu lihat abangmu!!!" perintah Reno pada Zein.
Zein membuka pintu kamar mandi. Zein melihat Rival duduk dengan badan basah terguyur air. Zein mematikan shower di kamar mandi, ternyata Yara ikut berdiri di samping Zein tertatih membawa handuk dan pakaian Rival. Yara masuk dan mengeringkan rambut Rival.
"Kenapa masih pegang perempuan lain? Apa pegang aku saja tidak puas?" tegur Yara lembut dan duduk pelan di pangkuan Rival yang basah. Pertanyaan Yara membuat Rival teramat merasa bersalah. Rival menyimpan luka hatinya tidak ingin melihat Yara.
"Aku sudah tau ceritanya mas, aku tau maksudmu menghukum Azizah. Tapi aku tidak suka mas menyentuhnya" manja Yara menatap wajah Rival sambil membelai lembut pipinya.
"Tidak akan lagi sayang! Cukup sekali mas memberinya pelajaran." ucap Rival dengan rasa kapok. Yara bisa mendengar isak tangis tertahan di dalamnya.
"Kenapa mas selalu ekstrem dalam setiap tindakan?" mata Yara menatap tajam Rival
"Karena mempertahankanmu agar tetap berada di sisiku itu sangat sulit. Mas tidak pandai dalam berkata kata dan rayuan. Hanya tindakan saja hal yang bisa kulakukan"
--------
Rival mengeringkan kembali rambutnya yang basah.
"Terima kasih mas sudah mau menyelamatkan hubungan mama dan papa"
"Sama-sama. Mas lebih memikirkanmu dan hubungan kita" jawab Rival.
Yara melihat suaminya dengan lekat. Perasaan campur aduk silih berganti ia rasakan. Banyak suka duka ia rasakan bersama Rival. Tanpa kata, Yara mampu merasakan kasih sayang dan cinta seorang suami. Yara merasa bagai seorang ratu yang selalu mendapat perhatian penuh dari sang raja.
"Eehhmm.. mikir apa kamu dek? Kangen di belai ya?" bisik Rival pelan.
"Apa sih mas? Mas tuh yang kangen" Yara memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Iya. mas kangen kamu, kangen banget. Tapi mas harus puasa dulu demi si dedek" Rival mengusap perut Yara. Wajah Yara tanpa ekspresi, sendu dan nampak sedih.
"Mas sungguh sayang si dedek. Tak ada sedetik pun terlewat tanpa penyesalanku"
Yara tersenyum memaksa, air mata menetes dari pipinya. Genggaman tangan Rival belum sepenuhnya menghapus luka yang Rival torehkan.
Aku tau sayang. Kamu tidak percaya padaku, aku paham karena aku lah yang menyebabkan semua ini terjadi. Aku sangat mencintai anak ku ini.
***
Malam hari perut Rival terasa sakit sekali, dua hari ini ia benar-benar melupakan makan, bahkan minum pun hanya sedikit. Naya membawakan makan juga tidak di sentuhnya.
Rival melihat Yara yang tidur dengan nyenyak. Itu berarti kandungannya berada pada fase baik-baik saja. Mulailah Rival dalam menunjukan sisi lain dari dirinya. Wajah sendunya terpancar pias. Rival duduk kembali pada sofanya menyandarkan punggung yang terasa berat.
ddrrttt.. dddrrrttt... dddrrrttt
Pesan dari Nathan ada penyergapan untuk besok dan tengah malam ini Rival harus berangkat bersama para anggota.
Apa yang harus aku lakukan sekarang. Istriku masih dalam kondisi seperti ini. Tapi tugas negara adalah jiwaku juga.
Dengan berat hati Rival mengangkat ponselnya.
***
------
Yara terbangun dari tidurnya, ia melihat sepucuk surat di tangannya.
( Selamat pagi cinta...
Maaf mendadak mas harus pergi. Ada tugas khusus, tak tega membangunkanmu. Mas harus kerja sayang. Baik-baik ya disana! Doakan mas tidak akan lama. Jaga Arben dan si dedek!
Dek..mas sungguh minta maaf padamu atas semua yang terjadi belakangan ini. Jika saja mas bisa lebih dewasa menyikapi keadaan, tidak mungkin semua ini terjadi.
Istriku sayang. Maafkan mas yang tak pernah mengatakan cinta padamu. Bukan berarti mas tidak sayang, tidak rindu padamu. Jika mas kembali nanti. Mas ingin mengatakan apa yang ingin kamu dengar. Mas Rival sangat sayang padamu, sangat mencintaimu istriku ).
Yara melipat surat dari Rival, menegaskan hati dan menyadari inilah seorang istri prajurit. Perasaan berat harus ia lawan kuat dan merelakan suami untuk bertugas. Hanya doa mengiringi perasaan cinta seorang istri prajurit.
***
Sore hari menjelang langit gelap. Rival mengarahkan penyergapan. Nathan dan Zein bergerak membawa pasukannya masing-masing.
__ADS_1
Penerjunan pun di mulai. Malam dengan senyap bersenjata, Rival membebaskan duta negara lain yang di sekap pihak perbatasan sebelah timur. Baku tembak terjadi.
Rival mengintai dengan matanya yang tajam mendekati pemimpin pemberontak. Penembakan pun terjadi lagi. Rival masih tak terkalahkan. Bakatnya yang memang luar biasa selalu berguna di saat kritis seperti ini.
Isi peluru habis, Rival dengan cekatan bermain sangkur.
"Kau menyerah saja ke****t!!!" perintah kepala pemberontak.
"Lebih baik pulang tinggal nama daripada menyisakan perusuh bangsa"
Pertikaian semakin sengit hingga Rival mampu menancapkan dengan garang sangkur kebanggaannya pada perut musuh.
Tak lama Zein datang menghampiri Rival yang bersimbah darah.
"Ayo bang!!" ajak Rival. Satu helikopter bersama Nathan sudah berangkat bersama duta negara. Ada dua helikopter lagi yang menunggu. Saat Zein berjalan masuk ke dalam helikopter, Rival melihat kepala pemberontak mengacungkan pistol dan menembakkannya pada Zein.
Doooorrr..doooorrr
Rival menghalangi dua tembakan mengenai adik iparnya.
"Cepat naik Zein!!!!" Rival memerintahkan Zein agar meninggalkannya. Tapi Zein tetap ingin menariknya.
"Tidak Zein..masih ada anak buahku. Kamu segera kembali. Jaga Yara dan anak ku untuk ku!!! Cepat Zein!!!!" Rival menahan rasa sakitnya, mengambil peluru di bahu Zein. Tangis haru dalam hati Zein meninggalkan Rival disana.
Helikopter pergi terbang jauh. Rival tertunduk merunduk.
"Astagfirullah Ya Allah. Biar kutahan rasa sakit ini, tapi ijinkan aku untuk tetap bisa melihat anak dan istriku!!!" gumam Rival mengeryit menormalkan napas
Rival merayap mencari anak buahnya, setelah bisa mendekati kepala pemberontak, ia menembaknya hingga musuhnya itu benar-benar tidak bernyawa.
Aaarrggghhh
Rival memencet lukanya yang semakin deras mengucurkan darah. Tak lama anak buahnya berdatangan. Helikopter muncul, anak buah Rival segera membawa Rival masuk ke dalam helikopter. Helikopter itu melintas hulu sungai.
Tak di sangka seorang pemberontak yang tersisa melemparkan granat di dalam helikopter. Rival melihat granat itu menggelinding.
"Merunduk dan loncat ke sungai!!!!!" perintah Rival.
Pasukan itu melompat ke sungai yang jelas begitu banyak buaya dan ular disana.
.
__ADS_1
.