
Dokter menguras isi perut Yara. Rival duduk lemas bersandar pada kursi di ruang penanganan. Banyak selang jarum infus tertancap di tangan Yara. Oksigen juga membantu napas Yara.
Zein mendekati Rival yang wajahnya sangat pucat.
"Fatal sekali kecemburuan mu bang" tak ada jawaban dari mulut Rival.
"Abang menyuruh kak Yara menggugurkan kandungan??" tanya Zein sekali lagi.
"Aku memang bodoh, Aku tidak memakai akal sehatku"
"Kalau tidak ingat kak Yara sangat mencintaimu, lebih baik mati saja kau bang" kesal Zein
Terdengar suara dokter berunding menangani. Rival ingin mendekat pada ranjang Yara tapi Zein mencegahnya. Rival sangat gusar dibuatnya.
--------
"Hampir terjadi pendarahan pak Rival, tapi syukurlah itu tidak terjadi. Istri bapak dan kandungannya bisa diselamatkan"
Rival menangis bersujud syukur akhirnya istri dan calon anaknya selamat. Tak bisa ia bayangkan karena kecemburuannya mengakibatkan ia hampir saja kehilangan nyawa anaknya bahkan juga Yara.
Rival mendekat ke arah ranjang Yara. Rival duduk pada kursi di sebelah ranjang Yara. Istrinya belum sadar juga. Kening Rival bertumpu pada jemari yang terkepal kuat. Rival meraba perut Yara yang masih rata.
Maaf sayang, apa kamu masih mau memaafkan papa. Papa membuat mama jadi seperti ini dan hampir menghilangkanmu. Papa menyesal sayang.
Rival tertelungkup masih merasakan takut mengingat kejadian tadi. Lelah fisik dan perasaan bersalahnya juga beradu menderanya.
***
"Kamu berulah lagi???" tanya Nathan menggebrak meja.
"Keluarga Yara sudah menghancurkan hidupku"
"Apa maksudmu??" kesal Nathan.
"Dia membuatku tak punya ayah. Ibunya merebut ayahku" teriak Azizah. Reno melipat tangan di depan dada sedang mencerna apa yang terjadi.
Randy membuka pintu ruang introgasi. Ia ragu tapi ia juga harus tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa ibumu?" tanya Randy.
__ADS_1
"Ibuku... FAHIRA"
Randy memejamkan mata. Rasa sakit yang dulu pernah tidak sengaja ia torehkan pada Naya harus berimbas pada Yara putrinya.
"Apa maumu??" tanya Reno tegas.
"Aku ingin Yara hancur dan keluargaku kembali. Papa kembali pada mama" lirih Azizah melihat Randy.
"Jadi kamu anak Fahira? Tidak semua yang kamu dengar itu benar" ucap Randy menyabarkan hati.
***
"Kenapa istriku belum sadar juga?" tanya Rival pada Farhan. Rival tidak tenang. Pakaian yang semula basah sudah kering di badan. Wajahnya kusut.
"Sabar Val!! Kami memberi cukup waktu agar istrimu bisa beristirahat. Lebih baik kamu pulang dulu dan berganti pakaian" Saran Farhan.
"Aku tidak akan meninggalkan istriku" ucap Rival sambil mengusap perut Yara.
Randy datang bersama Reno ke rumah sakit. Kemarahan Randy sudah memuncak. Bukan masalahnya dengan Azizah, tapi tuduhan Rival sudah membuat masalah besar.
Randy masuk ke dalam kamar rawat Yara di RST. Melihat mata Rival yang sembab mengusap perut Yara tetap membuat Randy geram di buatnya.
Tamparan keras mendarat pada pipi Rival. Di tariknya kaos Rival hingga berhadapan dengan Randy. Pukulan, tonjokan, tendangan sudah mengarah penuh di tubuh Rival.
"Tuduhan mu pada Yara sangat tidak bermoral Val" Yara siuman dan langsung melihat kemarahan papanya pada Rival. Yara menahan perutnya dan duduk bangun perlahan dari tidurnya.
"Tolong berhenti pa!! Biar aku selesaikan sendiri masalah rumah tanggaku!" tegas Yara.
Reno menarik lengan Randy agar menjauhi Rival. Zein menjaga situasi dan melihat Abang nya yang belum tegak berdiri.
"Kenapa mas menyelamatkan ku? Kenapa mas tidak membiarkanku mati bersama anak ini?"
Rival berlutut di kaki Yara. Banyak kata yang ingin ia katakan namun bingung harus memulainya dari mana.
"Apa yang mas inginkan sekarang? maaf dariku? Atau bahkan mungkin ingin segera berpisah denganku??" tanya Yara.
"Nggak.. nggak.. dek! Jangan katakan itu lagi! Semua ini timbul karena kelakuan mas sendiri yang tidak bisa mengendalikan rasa marah dan cemburu" ucap Rival mulai resah dalam takut.
"Semalam mas kemana?" lembut Yara membelai rambut Rival.
__ADS_1
"Mas kepantai. Jam Setengah satu pagi pergi ke kantor dan tidur disana karena menghindari perdebatan denganmu" jujur Rival.
Yara ikut berlutut perlahan. Selang infus pun masih tertancap di punggung tangannya. Di raihnya tangan Rival, Yara meraih punggung tangan Rival dan menunduk menciumnya dengan rasa hormat dan bakti kepada suami.
"Mas Rival, mungkin selama ini aku bukanlah istri terbaik untukmu, belum berbakti selama menjadi istrimu, kiranya masih ada rasa untuk ku maukah mas mendidik ku sekali lagi? tapi jika kiranya mas tidak ingin lagi meraih jemariku. Aku sangat berterima kasih karena mas sudah sudi menyelipkan namaku dalam bagian hidupmu"
Rival menarik tubuh Yara mendekapnya erat. Hancur berkeping dan lebur bagai debu, setiap perkataan Yara begitu sakit menusuk perasaan Rival. Ia yang memulai kesalahan ini tapi istrinya berusaha menahan kuat sakit hatinya demi sebuah keutuhan rumah tangga. Tak bisa ditahan lagi laju air mata Rival. Hanya tersisa perasaan sesal di relung hati.
"Hatiku sakit mas. Sungguh sakit melihatmu bersama Azizah. Sungguh sakit mendengarmu menolak anak ini sebab tidak ada mas David lagi dalam hatiku. Apa sebegitu hinanya aku menginginkanmu karena aku begitu mencintaimu mas Rival??" Isak Yara tak tertahan lagi.
"Ya Allah sayang, mas memang pantas mati sudah mencelakaimu dan anak kita. Masih pantaskah mas mendapatkan maafmu" Pelukan dan belaian hangat Rival begitu menenangkan hati Yara. Ia bersandar pada dada bidang Rival hingga segala sesak di dadanya terasa memudar.
Rival melihat David merosot bersandar pada dinding di sisi pintu ruang rawat Yara. David menghapus air matanya.
"Bang David.. masuklah!!" tegur Rival. David menoleh dengan senyum yang dipaksakan. David melangkah memasuki kamar Yara.
"Hai..cantik. Cepat sehat ya dek!" Yara ingin berdiri, tapi Rival melarangnya.
Rival mengangkat tubuh Yara dan membaringkan pada ranjang lalu menyelimutinya. Yara menahan tangan Rival, ia khawatir Rival akan emosi lagi.
"Tidak akan ada lagi amarahku. Hatiku sudah sangat sakit merasakan ini semua dek. Mas nggak sekuat itu sayang. Sakit hatimu, tangisanmu.. adalah kelemahan terbesar ku"
Rival menghadap David
"Ijin menghadap..Abang. Atas nama pribadi, saya Lettu Rivaldi Alfario mengakui kesalahan saya, membuat keributan di muka umum dan mempermalukan Kapten David. Ijin arahan" dengan tegar Rival mengakui salahnya dengan jantan.
David menepuk bahu Rival. Sebagai seorang pria ia harus bersikap jantan pula menghadapi ini semua.
"Sudahlah.. masalah pribadi jangan kau campur adukan dengan masalah dinas. Jika di ijinkan. Bisakah aku melegakan hatiku sedikit saja" pinta David.
"Siap"
"Val.. Yara ini memang adalah wanita yang kucintai. Karena suatu hal kami terpisah tanpa berpisah. Hatiku sempat hancur melepaskan wanita yang begitu indah dan istimewa seperti dia, namun semangatku kembali hancur setelah aku tau dia sudah menikah denganmu.. Duniaku terasa tak ada warna lagi. Jika saja mencintai istri orang tidaklah salah dan bukan suatu dosa, sudah dari dulu ia kubawa kabur apalagi begitu ku tahu suaminya sangat kaku dan pencemburu seperti mu"
Rival mendengarnya dengan baik, namun rasa sakit mendengar semua ini mampu David rasakan dari ekspresi Rival.
.
.
__ADS_1