Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
37. Ngidam Petaka


__ADS_3

Rival berangkat mencari pancake durian dengan senang hati meskipun lelah menghinggapi tubuhnya. Rival hanya ingin menikmati prosesnya menjadi seorang ayah.


Dulu saat Larasati mengidam, juga tidak seperti ini rasanya bahkan ia bisa menundanya hingga esok hari bahkan siang hari, tapi untuk Yara jangankan besok pagi..tengah malam pun akan ia cari demi anak dan istri.


Malam menusuk kulit, Rival melihat satu persatu toko di sepanjang jalan. Yara sudah tertidur di sebelahnya karena tadi Yara memaksa untuk ikut. Rival mengusap perut Yara.


"Apapun akan papa lakukan agar kamu dan mama bahagia"


Tak lama Rival melihat sebuah rumah yang menjual pancake. Rival segera memarkir mobilnya.


"Dek.. sayang.. Sudah sampai nih" Rival membangunkan Yara yang tadinya sudah terlelap.


"Kenapa disini mas? Mana toko pancakenya?" tanya Yara sudah hampir marah lagi.


"Ini yang jual sayang, langsung penjualnya. Disini mana ada toko yang jual pancake, apalagi nggak musim begini. Ya sudah ayo turun! kita lihat dulu cocok atau tidak dengan seleramu"


Dengan bersungut kesal dan berat hati akhirnya Yara ikut juga. Rival mengetuk pintu sebuah rumah lawas. Tak lama seorang wanita setengah baya keluar dan membukakan pintu.


"Mas Rival ya?" tanya ibu itu pada Rival sambil menoleh ke arah Yara.


"Iya Bu, saya Rival" jawab Rival. Rival sempat mendapat nomer ponsel ibu tersebut dari iklan di medsos dan Rival sudah memesan satu kotak besar pancake durian untuk Yara.


Yara sangat senang menerima kotak berisi pancake itu dan segera menuju mobil untuk segera melahap pancake setelah Rival membayarnya. Rival merasa sangat bahagia melihat Yara begitu gembira.


Yara membuka kotak senang hati. Bau durian menyeruak di dalam mobil meskipun tidak begitu menyengat. Rival merasa mual, tapi ia menahan rasanya agar istrinya makan dengan tenang. Yara memakan tiga buah pancake dengan cepat.


"Sudah dek jangan terlalu banyak!" Cegah Rival sambil menutup lagi kotak berlabel FA Pancake durian.


"Aku masih mau mas" rengek Yara.


"Kamu mau, tapi anakmu bisa terima nggak mamanya makan durian? Panas sayang" ucap Rival bermitos ria.


Yara memilih diam dan menyerahkan pancake itu pada Rival daripada suaminya itu berubah bertanduk.


Rival mengusap kening Yara dengan gemas. Rival sendiri tak bisa memahami mengapa ia bisa begitu tergila gila pada Yara. Gadis polos yang menolongnya pertama kali. Gadis yang begitu membuatnya terpesona dan jatuh cinta.


"Jangan cemberut! Mas tidak melarangmu makan pancake. Hanya membatasinya saja. Kasihan anakku ini lho" Tak pernah ada nada kasar dan tinggi dari Rival saat ini, yang ia tau hanya agar anak dan istrinya aman dan nyaman.


"Iya mas. Hmm..mas nggak mau cari makan dulu? Mas itu sejak istirahat siang tadi nggak makan"


"Nggak tau ini yank. Perut nggak enak banget di isi makanan. Maunya cuma yang segar-segar aja" keluh Rival.

__ADS_1


"Mungkin mas juga lagi pengen makan sesuatu. Kita cari aja apa maunya mas!" usul Yara.


Rival mengangguk sambil matanya menoleh kesana kemari mencari makanan yang di inginkannya.


Hingga pukul setengah dua belas malam Rival tak menemukan apa yang dicarinya. Rival menunda pencariannya dan memilih pulang karena tidak tega melihat Yara yang sudah kelelahan tidur di dalam mobil.


***


"Nanti malam semua ikut saya ke lokasi yang sudah saya sebutkan tadi" perintah Rival tegas.


"Siap" jawab anggota dengan serempak.


"Ijin Dan, apa kita mau pakai racun?" Tanya Prada Arif.


"Kamu mau kita ikut mati??" kesal Rival.


"Terus kita mau pakai apa Dan?" tanya Prada Arif menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Pakai listrik, setrum.. paham nggak?" ucap Rival sambil berlalu.


-------


"Mas jadi mau pergi malam ini?" tanya Yara yang tidak ingin di tinggal sendiri.


Tak lama suara klakson mobil terdengar. Prada Arif dan yang lainnya datang menjemput Rival.


"Kami jalan Bu" pamit mereka


"Iya hati-hati" jawab Yara.


"Dek pintu jangan di kunci, kamu tidur saja" perintah Rival.


"Iya mas" senyum kecut Yara mengiringi kepergian Rival


------


"Dio, kamu setrum yang disana. Jangan terlalu dekat denganku" tunjuk Rival menghindari ujung capit untuk menangkap belut di area sawah dekat kaki gunung.


"Belut ini besar sekali Dan" ucap Arif menunjukkan belut berukuran sangat besar pada Rival.


"Jangan di masukan ke derigen saya ya! Kamu ambil saja yang besar itu!" perintah Rival.

__ADS_1


"Siap Dan"


Rival berkeliling hingga kakinya lelah mencari belut, terkadang Rival harus terperosok masuk ke dalam sawah. Para pemburu belut itu akhirnya selesai tengah malam


------


Tiba di depan rumah Rival merasakan perutnya sakit dan sudah tidak bisa menahannya lagi, Rival mengambil derigen 'miliknya' dengan cepat dan berlari masuk ke dalam rumah.


Yara bangun dari tidurnya mendengar ada suara air di kamar mandi. Yara tau pasti Rival sudah pulang, ia menuju ke arah belakang. Mata Yara tertuju pada derigen bertuliskan huruf A pada sisi derigen di atas meja makan.


"Apa ini punya kompi A???" batin Yara melihat isinya.


Begitu melihat ke dalam derigen


Hwaaaaaaa


Betapa terkejutnya Yara melihat isinya adalah berpuluh puluh 'ular' hingga Yara menjatuhkan lagi ke atas meja. Derigen itu terguling dan dua ekor 'ular' yang sangat besar jatuh di atas kaki Yara. Suara Yara pun mengejutkan Rival yang masih melilitkan handuk di kamar mandi.


"Maaaaaaassss" Pekik Yara sekuat tenaga. Rival keluar dari kamar mandi melihat wajah Yara yang sudah pucat. Yara seketika pingsan tanpa Rival sempat menjelaskan pada Yara bahwa yang di lihatnya kini berserakan adalah belut. Kepala Yara menghantam sisi sandaran kursi makan.


"Hadduuuuhh dek, kamu kenapa bisa setakut ini tanpa melihat dulu" sesal Rival sambil mengangkat Yara menuju kamar.


Tiba-tiba...


"Maaf Dan..pintu garasi tadi terbuka. Saya tidak sengaja...." ucap Dio, Arif dan Rafael gugup dan senyum salah tingkah melihat Danki mereka menggendong Yara dengan posisi handuk melilit. Mereka bertiga kembali lagi setelah menyadari ada derigen yang tertukar.


"Heh..otak kotor. Kamu pikir saya sedang apa?? Istri saya pingsan gara-gara belut kamu! Bantu saya tangkap belut itu!!!!!" perintah Rival tapi pandangan mata Rival mengarah pada Arif.


"Belut saya Dan??" tanya Arif cemas menutup bagian depannya.


"ASTAGA!!!!! Belut di bawah kaki kamu!!!! geram Rival.


"Oohh..Siap Dan..Siap" Dio, Arif dan Rafael berhamburan menangkap belut yang sudah berkeliaran di dapur Rival.


"Telmi sekali kalian. Bagaimana jika kalian di Medan perang kalau nggak fokus begitu!!" gerutu Rival.


"Siap salah Dan" jawab mereka pasrah.


"Setelah kalian tangkap itu belut, terserah kalian mau apa, bikin kopi, mau makan atau apa terserah kalian!" imbuh Rival sambil masuk ke dalam kamar membawa Yara yang belum sadar.


"Siap Dan..terima kasih" ucap para bujangan kegirangan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2