
Nathan tak mengira kakek dan nenek Rival tau soal Larasati. Kakek menjelaskan bahwa sejak kehamilan Larasati, Rival selalu menjaga Larasati dengan di bantu kakek dan nenek Larasati karena ayah Larasati meninggal saat mendengar kabar kehamilan Larasati. Vena pun di ajak pulang ke desa satu bulan setelah kelahirannya karena Larasati meninggal setelah melahirkan disebabkan kecelakaan itu.
Saat itu yang keluarga tau, Rival tidak bertanggung jawab atas hamilnya Larasati. Sekarang kakek dan nenek Larasati pun sudah tiada. Vena di asuh oleh kakak Larasati yang juga tidak berpunya di desa. Bantuan dari Rival juga selalu di tolak keluarga Larasati sejak tau bahwa bukan Rival ayah dari Vena. Nathan menutup wajahnya, bagaimana bisa ia dulu menjadi seorang pengecut yang membuat duka pada banyak keluarga.
Rival menutup bahu Yara dengan handuknya dan menyuruh Yara segera berganti pakaian. Rival melihat mata Nathan yang sembab, pasti kakek sudah menceritakan semua.
"Nanti malam kita lihat anakmu" ucap Rival sambil menggosok rambutnya yang masih basah.
"Apa dia mau bertemu denganku?" Nathan mulai ragu.
"Seorang anak pasti akan merindukan ayahnya, terlebih dia anak perempuan. Cinta putrimu padamu pasti sangat besar. Hanya saja..mantapkan hatimu jangan sampai kamu menyesal saat bertemu dengannya!!"
-------
Rival membuka pintu kamarnya. Melihat Yara yang berdiri di lemari kayu tua milik neneknya.
"Apa kamu siap sayang?" tanya Rival memegang tangan Yara yang gugup dan dingin. Yara mengangguk tidak pasti.
"Dengar sayang.. Jika kamu cemburu silahkan tapi aku ulangi sungguh tidak ada rasa dengan Larasati. Juga satu..kumohon padamu. Jangan marah melihat aku sayang pada Vena. Kamu harus tau sayangku pada Vena sebatas itu saja, Tidak lebih dan tentu saja yang sangat kucintai adalah ibu dari anak-anakku dan juga anakku. Kamu akan paham nanti" Rival mengecup pipi Yara lalu menggandeng tangannya keluar kamar.
***
"Assalamu'alaikum.." sapa Rival pada sebuah rumah yang bisa di bilang jauh dari kata layak.
"Wa'alaikumsalam" jawab seseorang di dalam sana.
Kakak Larasati seketika menangis kencang melihat Rival datang dengan menggandeng Yara yang sedang hamil. Suara tangis kakak Larasati membuat suaminya ikut keluar dan ikut menangis melihat Rival dan dua orang di sebelahnya. Kakak Larasati menangis histeris melihat kedatangan ayah kandung Vena. Ia menangis dan terus memukul Nathan.
Setelah tenang dan cukup lama berbincang Rival menanyakan kabar Vena. Tak lama Kakak Laras keluar dari kamar bersama balita mungil berusia belum genap tiga tahun. Rival terharu melihat gadis kecil itu mulai tumbuh besar dan cantik sama seperti ibunya.
__ADS_1
Rival langsung berjongkok saat melihat balita itu diturunkan dari gendongan tantenya. Yara dan Nathan refleks berdiri melihat perlakuan Rival pada gadis mungil itu.
"Sa-yang.. I-ni pa-pa Ri-val" eja Tante Ira mengajak bicara balita yang masih bingung itu dengan mengeja. Vena melangkah pada Rival dan menggerakkan bibirnya tanpa suara ( pa-pa i-val ) ejanya.
Air mata Yara sudah turun membasahi pipi mengartikan apa yang terjadi. Nathan menggapai sisi pintu mengatur napasnya.
"Ada apa dengan anakku Val?" tanyanya lirih.
"Vena tunarungu sejak lahir karena benturan saat Larasati tenggelam di Jogja sesaat melihatmu bersama Inka"
Suasana menjadi sangat kacau ketika Yara menangis histeris hingga pingsan jatuh di lantai. Nathan bersimpuh hampir tak percaya pendengarannya.
"Astagfirullah.. " Nathan menangis menghambur memeluk dan menciumi putrinya. Nathan sungguh kaget bercampur segala rasa yang ada dalam dada. Hukuman yang harus ia terima sangatlah berat dan nyata.
Rival mengangkat dan menidurkan Yara pada dipan kayu panjang di ruang tamu. Rival sangat cemas melihat kondisi Yara saat ini. Kakak Larasati ikut membantu Rival menyadarkan Yara.
"Aku takut menyakiti hatinya. Aku sangat sayang padanya mbak. Untuk apa aku membuka masa laluku kalau hanya akan melukai hatinya. Aku tidak sanggup melihatnya bersedih" ucap Rival terus menangisi Yara sambil terus menyadarkan Yara, tangan Yara begitu dingin.
"Inilah akibat kalau kamu tidak jujur walaupun itu demi kebaikan. Kamu takut pada bayangan masa lalu hingga menyakiti hati istrimu" mas Tomo menjelaskan.
Rival merasa tubuhnya sangat lemah tak sanggup melihat Yara sesakit ini menanggung hasil ketidak jujuran masa lalunya.
Tak lama Yara mulai sadar. Yara perlahan duduk dengan di bantu oleh Rival. Rival memeluknya dengan perasaan takut ada yang terjadi pada Yara dan anaknya. Yara tidak membalas pelukan Rival. Hatinya begitu sakit, malu, merasa bersalah karena sempat sedih pada Larasati.
"Apakah masih ada lagi yang mas simpan dalam pernikahan kita?" tanya Yara dengan sesak.
"Nggak dek, sumpah nggak ada lagi" Rival berlutut menyandarkan kepalanya di paha Yara seperti anak kecil meminta ampun dari ibunya.
"Apa alasanmu hingga banyak kebohongan dalam pernikahan kita mas??" teriak Yara begitu kesal. Rival berdiri menenangkan Yara yang mulai marah. Yara memukul Rival seperti biasa saat mulai kesal dengan Rival dan Rival pasrah menerima semua itu.
__ADS_1
"Aku takut kamu tidak bisa menerima masa laluku. Aku terlalu takut kamu akan menolakku sebagai suamimu. Aku takut kamu akan meninggalkanku. Aku begitu menyayangimu dek. Mas sangat menyayangimu" Rival menarik tubuh Yara agar memeluknya hingga Yara tenang.
-------
Nathan sudah bisa bercanda bersama putrinya dengan caranya. Vena sangat lengket dengan Nathan hingga tidak mau turun dari pangkuannya.
Rival menggandeng Yara keluar dan melihat pemandangan indah itu. Nathan mengingat sesuatu dan mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jaketnya. Nathan memasangkan kalung emas pada leher Vena.
Rival membawa Yara duduk lalu ia keluar rumah, tak lama ia kembali dengan membawa baju yang di belinya dan kotak kecil di tangannya.
"Aku membeli ini sudah lama. Bahkan sebelum menikah dengan Yara. Aku membelikannya untuk Vena" Rival memasang alat bantu dengar pada telinga Vena. Sesaat setelah memasangnya Vena terlihat kaget. Tapi saat pertama Nathan menyapanya.
"Vena sayang, coba panggil papa" ajak Nathan
Vena tersenyum mendengar suara Nathan
"pa-pa" panggilnya. Nathan memeluk haru putri kecilnya.
"Iya sayang, aku papamu. papa yang sangat buruk" seru Nathan yang akhirnya tak dapat menahan air mata.
"Kamu tau sayang. Itu papa Rival" Vena turun dan menghampiri Rival. Rival mengangkat tubuh Vena dan memangkunya tapi tiba-tiba Vena condong ke kiri mencium pipi Yara.
"ma-ma" ucapnya pada Yara. Rival terkejut dan takut Yara akan bereaksi seperti tadi, satu tangan Rival melingkar di pinggang Yara. Yara memandang Vena dengan penuh kasih. Tak tega melihat gadis sekecil itu mengalami banyak hal buruk seperti ini.
"Iya sayang.. ini mama, tapi maaf sayang mama nggak bisa gendong Vena. Disini ada adik kecil ( tunjuk Yara pada perutnya )" Vena tersenyum bahagia. Rival merasa lega karena yang ia takutkan tidak terjadi.
.
.
__ADS_1