
Rival menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu. Yara mendekat duduk di samping Rival. Di perhatikan wajah Rival yang memerah.
"Apa yang terjadi?"
Rival menoleh pada Yara, ia menarik napas berat.
"Pernikahan kita terbongkar"
"Berarti pipi mas yang merah ini akibat sanksi pelanggaran itu?" Rival mengangguk. Yara terbelalak kaget.
"Mana lagi yang sakit mas????" pekik Yara menarik paksa baju Rival ingin melihat apakah ada memar di tubuhnya.
"Ooowwhh.. pelan sedikit sayang!!" Rival ikut membuka kancing bajunya dan melepas kaos lorengnya. Rival memegangi sekitar dadanya memercing kesakitan.
"Ya Allah mas, banyak lebam. Tunggu ya! Aku ambil kompres" Yara berjalan mengambil handuk dan air hangat untuk mengompres Rival.
Tak lama David datang dengan di bantu seorang gadis di sampingnya. Di belakang mereka ada Randy, Reno dan Zein. Mereka melihat Rival yang bertelanjang dada setengah memeluk Yara yang menyeka dada dan punggung Rival yang memar.
Yara menoleh ke arah mereka, pandangan mata Yara tertuju pada sosok Indira. Indira melepas tangannya pada lengan David. Ia menunduk takut dan mundur ke belakang punggung David.
"Kenalkan dek, itu Yara istriku. Saat ini" tunjuk David pada Yara.
Yara menoleh ke arah Rival yang sudah memakai kaosnya kembali.
"Dan itu 'musuhku' di rumah ini. Dia Rival, suami Yara" tunjuk David pada Rival.
Yara langsung berdiri dan mendekati David untuk melihat wajah Indira. Rival ikut di belakang Yara khawatir jika nantinya Yara akan marah melihat kedekatan David dan Indira meskipun kemungkinan itu sangat kecil.
"Kamu kah wanita yang bisa menaklukkan hati mas David? Dan kamu wanita yang malam itu sedang bersama suamiku?"
"Maaf mbak Yara, aku tidak bermaksud mengambil mas David dari mbak Yara" Indira menunduk lebih dalam. Senyum Yara mengembang hingga kakinya lemas, ia menopang tangan pada sandaran sofa tak menyangka hari ini akan mendapat berita yang mengejutkan.
"Aku tidak masalah mas membawa wanita yang mas pilih, tapi kenapa hal apapun selalu di lakukan di belakangku?? Kenapa semua yang berhubungan denganku selalu di rahasiakan???"
Yara memilih duduk karena mendadak kepalanya terasa pusing.
"Mas, mbak Yara sampai kaget begini. Tidak apa kah?" bisik Indira.
"Istriku sedang hamil" jawab David. Indira mundur menjauh. Ia merasa terjebak, terkejut dan bingung dengan situasi yang ia sama sekali tidak paham.
"Aku sudah tau mas punya hubungan dengan wanita lain"
__ADS_1
"Kamu sudah tau dek?" tanya Rival yang selama ini mencemaskan Yara.
Bruuggh
Rasa cemas Rival semakin menjadi, David pun ikut terkejut mendengar suara itu. Yara tiba-tiba pingsan.
"Dek..jawab mas. Adeeeeekk!!!"
"Siapapun pasti akan kaget kalau mendengar berita tanpa perhitungan seperti ini" Randy menenangkan Rival.
Yara masih sulit di sadarkan. Rival cemas setengah mati. Rival mengoleskan minyak pada hidung dan dada Yara lalu memijat sela jarinya. Di pegangnya tangan Yara yang dingin, wajahnya memucat, keningnya hangat. Rival menciumi wajah Yara.
"Bangun dek. Jangan sakit lagi. Mas tidak tahan melihatmu seperti ini" bujuk Rival menyadarkan Yara.
"Bagaimana ini Val? Kenapa belum sadar juga?" tanya David yang sebenarnya juga sangat cemas.
"Aku baru mau merundingkan dengan Abang masalah ini, tentang Indira. Abang boleh membuatku sakit hati, tapi tidak dengan istriku. Abang boleh berinteraksi dengan wanita lain di luar sana kalau Abang mau, tapi jangan dulu membawa wanita lain di hadapan istriku, kita belum tau kesiapan mental Yara bang" emosi dan kemarahan Rival tak terbendung lagi.
"Tadinya aku ingin terus terang dan mengenalkan Indira secara langsung. Kau benar aku kurang perhitungan Val"
"Aku tau maksud abang. Aku disini berusaha menjaga Yara karena aku tau dan paham kondisi Yara yang sensitif" kesal Rival.
Yara membuka mata. Yara melihat Rival dan David. Randy dan Reno tidak bisa berbuat apa-apa dalam rumah tangga mereka. Zein membantu membujuk kakaknya.
"Maaf aku hanya kaget karena semua terasa tiba-tiba"
"Aku akan mengajak Yara bicara dulu bang" ijin Rival pada David mengajak Yara ke dalam kamar.
Rival mengunci pintu kamar lalu duduk di samping Yara mengusap perut Yara yang masih belum terlihat.
"Apa kamu sangat mencintai bang David sampai kamu kaget seperti ini" tanya Rival lembut.
"Nggak mas. Aku syok saja mas David membawa Indira secara langsung. Aku lebih marah jika mas yang berbuat seperti ini"
"Ya Allah dek, mas nggak akan melakukan itu. Sampai kapanpun cinta dan sayang mas tidak akan pernah berubah"
"Kalau kamu memang benar tidak ada rasa dengan Abang. Harusnya kamu tidak bereaksi seperti ini"
Yara diam mendengar setiap ucapan Rival. Memang benar apa kata Rival. Harusnya ia tidak sekaget ini jika David membawa wanita lain dalam kehidupannya.
"Mas tidak marah jika kamu masih punya sedikit rasa dengan Abang, karena bang David memang suamimu. Dan tinggal dalam satu atap bersama bisa saja menimbulkan rasa. Tapi kalau kamu punya rasa di saat Abang bukan suamimu, Mas yang akan benar-benar marah padamu karena gagal mendidik dan membahagiakan mu hingga kamu memiliki perasaan pada laki-laki lain" jelas Rival.
__ADS_1
"Mas yakin?? baiklah aku akan memanggil mas David untuk menemaniku disini" goda Yara. Ia bangun dan belagak ingin memanggil David.
"Ok.. tapi tidak sekarang. please!!" Rival menarik tangan Yara, wajah Rival menunjukkan kecemburuan yang sengaja ia sembunyikan.
"Mas gengsi sekali menunjukkan perasaan" kesal Yara. Rival memeluk Yara lagi.
"Tolong mengerti posisi mas saat ini dek. Iya mas memang cemburu tapi kecemburuan mas saat ini tidak pada tempatnya dan mas harus menekan kuat perasaan itu. Mas harap kamu membantu memulihkan perasaan pria yang sedang memperjuangkanmu ini"
"Baiklah mas, aku akan menemui gadis itu nanti. Semoga hubungan kita tetap baik dengan adanya gadis itu" ucap Yara.
"Aamiin" jawab Rival.
***
Indira gemetar duduk berhadapan dengan Yara, di sebelahnya ada David menemani sedangkan Rival duduk di samping Yara.
"Hai Indira, apa kabar? maaf membuatmu kaget" tegur Yara.
"Tidak mbak, maaf mbak Yara" Indira sudah berlinang air mata.
Rival cemas memikirkan setiap perkataan dari raut wajah Yara yang datar.
"Mengapa begitu sulit mengatakan sebuah kebenaran? Aku hanya tidak suka di bohongi"
"Aku akan bicara dengan mu nanti. Aku akan mengantar Indira pulang" David merasa tidak enak membawa Indira dalam situasi yang salah ini.
"Tidak mas, biarkan aku disini jika mas rasa aku layak berada disini" ucap Indira.
"Hatimu akan sakit kalau kamu berada disini. Saat ini aku masih suami orang" tolak David.
"Mas memilihku karena apa?"
"Karena aku yakin kamu mampu hidup bersamaku. Tetaplah disini seperti yang pernah kukatakan padamu ( selamatkan harga diriku! ). Tetaplah kuat berdiri di sampingku walau itu terasa berat"
"Lakukanlah jika menurut mas ini baik untuk semua"
David mengambil napas panjang lalu membuangnya dengan yakin.
"Apa ada yang ingin mas sampaikan padaku?" tanya Yara menatap David.
"Ijinkan aku menghabiskan waktu satu jam saja hanya berdua dengan istriku"
__ADS_1
.
.