
"Setidaknya biarkan saya laporan dulu di pos depan" pria itu membuka masker dan topinya.
"Siap salah Kapten Rivaldi" ucap seorang anggota terkejut dan memberi hormat diikuti yang lain.
"Hhffttt.. Kapten itu pangkat anumerta. Saya belum mati. Apa selama ini kalian mendoakan agar saya mati??" kesal Rival.
"Siap salah"
Seorang anggota melapor pada Danyon, Zein, Randy dan Reno. Keempat pria ini datang ke ruang Rival yang belum terisi jabatan baru. Randy sungguh terharu melihat kehadiran Rival disana. Pria itu tampak lebih gelap, kurus, rambut sedikit gondrong, berkumis dan jambang tipis juga beranting magnet di telinga.
"Yara bisa pingsan melihatmu seperti ini" mata Reno terbelalak kaget.
"Abang seperti begal" Zein menggeleng kepala.
"Bagaimana kabar semuanya?" tanya Rival.
"Kami semua baik. Kami senang melihatmu kembali Val. Selamat datang" Randy benar-benar senang menantunya kembali pulang.
Randy mengajak Rival dan yang lain duduk di sofa.
"Bagaimana kabar Yara dan anak ku pa. Apa anak ku sudah besar sekarang?" tanya Rival tak sabar.
"Arben sudah dua tahun Val, dia sudah pintar. Yara juga saat ini masih baik-baik saja. Anakmu tidak sempat lahir ke dunia Val" terang Randy dengan menyesal.
Perasaan sakit kehilangan seorang anak lagi begitu menghantui perasaan Rival. Rival mengusap wajahnya yang nampak sangat sedih.
"Kenapa pa?" Randy menunduk tak sanggup menjelaskan apapun.
"Sehari setelah kabar hilangnya abang. Kak Yara menjadi depresi dan tidak mengingat semua tentang Abang. Yang di ingat hanya bang David. Maafkan kami bang. Papa memutuskan menikahkan kak Yara dengan bang David" Zein membuka cerita langsung ke inti masalahnya.
"Astaga.... Yara masih sah istriku" Rival menggebrak meja dengan frustasi lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa. Tak bisa ia pendam rasa sakit di hatinya. Teramat nyeri ia rasakan, istri yang sangat ia rindukan sudah menikah dengan orang lain. Rival mengepalkan sebelah tangannya kuat sedangkan tangan yang lain meremas dadanya tak sanggup menerima kenyataan ini.
"Sabar Val. Kita akan menemui David dan mencari jalan keluarnya" bujuk Danyon.
"Aku akan selesaikan masalahku sendiri" ucap Rival berat masih merasakan penuh beban dalam dadanya.
David sudah mendengar semuanya di balik pintu, ia tersenyum getir. Sesaat tadi ia mendengar pembicaraan Randy dan mengikuti papa mertuanya hingga ke ruangan Rival di Batalyon. David pun kembali pulang ke rumah.
"Kamu bisa kembali bekerja sambil menunggu proses namamu kembali ke kesatuan" tegas Danyon.
__ADS_1
"Siap" tegas Rival.
"Papa akan beritahu David pelan-pelan, tapi karena Yara belum tentu bisa menyadari mu dengan cepat, papa harap kamu bersabar. Juga harus berunding dengan David karena status David juga suami Yara"
***
Dua hari kemudian saat Yara sedang pergi ke pasar bersama Naya. Randy sudah menceritakan kepulangan Rival pada Naya. Akhirnya Naya mau mengerti dengan keadaan ini. Randy mengajak bicara David empat mata.
"David.. Rival sudah kembali" Randy mengawali pembicaraan saat sarapan.
"Aku sudah tau pa. Dua hari yang lalu aku mengikuti papa ke Batalyon" ucap David.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan. Mau bagaimanapun Yara dan Rival belum ada kata cerai" lirih Randy.
"Kita tunggu reaksi Yara dan kita akan ceritakan semua pada Yara" tegas David.
"Apa kamu sanggup??" tanya Randy.
"Lelaki bisa poligami. Tapi poliandri tabu di mata hukum dan agama pa"
"Baiklah, sebelum semua clear.. papa juga akan bicara pada Rival agar hati-hati dan berjaga jarak dengan Yara. Kamu tau sendiri khan sifat Rival agak brutal barbar"
-------
Lari pagi di mulai. Rambut Rival sudah rapi sebab selepas subuh tadi rambutnya sudah di cukur rapi. Randy sudah menceritakan kondisi Yara secara detail pada Rival dan Rival pun mengerti dengan semua cerita dan saran dari papanya.
Tiba selanjutnya adalah tikungan ke arah rumah Randy. Rival melihat pintu rumah itu terbuka, ada si kecil Arben berusia dua tahun sedang makan bersama Naya. Rival sangat rindu ingin memeluk putranya. Sebulir air mata rindu seorang ayah menetes di sudut mata. Sambil berlari Rival menangkupkan tangan menyapa Naya
"Assalamu'alaikum ma" lirihnya. Dengan jawaban kecil Naya pun terharu melihat Rival.
"Wa'alaikumsalam" jawabnya.
Arben tiba-tiba menangis kencang melihat Rival dan ingin mengejarnya. Mungkin saja naluri seorang anak timbul saat melihat papanya. Mendengar tangisan Arben, Yara keluar dan menenangkan Arben. Yara pun bisa melihat Rival yang menatap lekat ke arah matanya.
deg
Jantung Naya berdebar kencang. Air mata Yara meluncur begitu saja. Pandangan Rival tak lepas juga dari matanya. Rival tersenyum di balik perasaan sedihnya.
Aku sangat merindukanmu dek. Tak tau apakah aku sanggup menahan rindu ini lebih lama lagi.
__ADS_1
Anak buah Rival sudah tau bahwa sejak berita kematian Rival, istri komandannya itu depresi dan tidak bisa mengingat apa yang terjadi dengan jelas dan yang mereka tau, David adalah teman Yara dan Rival.
"Sabar Dan.. Cinta yang tulus tidak akan pernah kalah" Rival tersenyum sedikit terhibur mendengar ucapan itu.
"Terima kasih" jawab Rival tulus.
***
Yara mendapatkan pesanan kue dan makanan untuk syukuran di kantor dan yang membuat pesanan itu adalah Rival.
Hari dimana Yara mengantar pesanan makanan itu, Yara bertatap muka secara langsung dengan Rival.
"Makananmu enak sekali, mas suka" ucap Rival seperti biasanya. Yara seperti tak asing dengan suara dan gaya bicara yang terdengar familiar di telinga. Kepala Yara terasa pusing.
"Aku seperti sudah lama bertemu denganmu, tapi dimana...mas" Yara berucap canggung.
"Berusahalah mengingatku" senyum Rival terasa getir.
--------
Napas Yara sesak memikirkan perkataan pria yang sempat ditemuinya tadi. Bayangan wajah pria itu terus berkelebat di hati dan pikiran Yara. Nama yang ia baca juga terasa tidak asing di lihatnya 'R. Alfario'.
"Mikir apa dek? kenapa belum tidur?" tegur David yang memang sengaja pulang malam.
"Nggak ada mas" jawab Yara gugup. Hal itu membuat David tau, pasti Yara sudah bertemu dengan Rival.
***
Di acara kumpul anggota bersama keluarga. Yara mendapat order dari kantor untuk menyiapkan kue. Acara kali ini adalah botram. Yara melihat banyak anggota sudah berkumpul memasak bersama. Yara sudah meletakkan pesanan kue dan bergegas pulang. Tak disangka seorang anggota menjatuhkan belut yang akan di bersihkan ke atas kaki Yara.
"Hwaaaa.....Mas Rivaaalll" teriaknya kuat membuat semua anggota menoleh ke arahnya. Rival yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Yara segera berlari, ia memastikan pandangan Yara dan memeluk haru istri tercintanya.
"Kamu mengingatku? Kamu bisa mengingatku dek??" tanya Rival mengguncangkan bahu Yara. Pertemuan ini pun membawa perasaan haru di hati para anggota beserta istri.
Yara mundur beberapa langkah, ia nampak begitu sedih. Butir bening mengiringi jawaban di hatinya. Kedua tangannya hanya bisa menutup bibirnya yang tidak sanggup berbicara apapun. Ia mampu mengingat semua. Semua yang pernah terjadi. Dan begitu pedih mengingat ia sudah menikah dengan David. Suara tangisnya menjadi jadi. Yara melangkah mundur lagi dan berlari pulang.
.
.
__ADS_1