
Reno secepatnya pergi ke rumah David dengan di temani Randy.
Vernan duduk di sebelah Rival, menunduk berhadapan dengan David. Sedangkan Yara menemani Indira di dalam kamar.
"Saya tidak mau tau dan tidak mau dengar bagaimana masa lalu kalian. Hanya saya tidak bisa melihat perlakuan kamu terhadap istri saya" tegas David.
"Maaf bang!!" hanya itu yang terlontar dari mulut Vernan.
Reno datang dan menatap mata putranya dengan rasa kesal dan malu. Reno menampar dan menghajar Vernan yang begitu terasa begitu menyakitkan di tubuh.
"Semakin bertambah umur, semakin terbalik jalan pikiranmu"
"Wanita..wanita... dan wanita. Apa kamu tidak kasihan dengan bundamu? Adikmu juga perempuan Vernaaannn" kesal Reno menjadi jadi.
"Aku tau batasan yah dan aku tidak pernah merusak mereka" bantah Vernan.
Plaaakk
"Tapi ulahmu ini bisa merusak rumah tangga David" tangan Reno tak bisa di cegah.
"Aku tidak sengaja"
"Apakah sinyal di otakmu tidak bisa menjangkau asal usul kehadiran Indira disana?"
"Tidak yah, yang kutahu dia ada di hadapanku. Aku belum bisa melupakannya" jawab tegas Vernan.
"Maaf Abang. Tidak ada niat saya. Saya hanya merindukan Dira"
Rival menyenggol kaki Vernan sebagai tanda agar Vernan mengatur setiap ucapannya.
"Jangan pernah kamu ulangi lagi. Mengingat Ayah dan Papa, saya akan menganggap hal ini selesai. Saya akan mengubur dalam-dalam perasaan saya dan kisah kalian" ucap David.
-------
Randy, Reno, dan Vernan sudah pulang. Tinggal lah Rival berada di rumah David. Ketika Rival ingin mengajak Yara pulang, kedua wanita sedang tertidur pulas dalam kondisi hamil dengan masalahnya masing-masing.
"Jangan di bangunkan Val, biarkan mereka beristirahat!"
"Ya sudah bang, kita saja yang berpikir keras. Kasihan bumil kita" lanjut Rival.
David dan Rival duduk di teras depan agar suara mereka tidak mengganggu istri mereka yang sedang tidur.
__ADS_1
"Sabar bang, ujian rumah tangga"
"Iya Val, tidak apa-apa. Tapi sungguh aku benar-benar kaget dengan kejadian tadi" jawab David.
"Aku tidak berhati lapang seperti Abang. Dulu..saat aku begitu cemburu, bahkan aku bertindak di luar kendaliku" Rival mengakui tingkat emosinya yang memang kadang sedikit berlebihan.
"Kata siapa? Indira sampai begitu itu karena ulah kemarahan ku tadi"
"Haaahh" Rival melongo tak bisa menangkap jelas ucapan David.
"Aku melampiskan dengan marah, belum tuntas...eeehhh.. Dira sudah jadi begitu"
Rival menyunggingkan senyum mengerti apa yang dirasakan David saat ini. Rival mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya. Rival mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya setelah itu melemparkan kotak itu pada David.
"Sejak kapan kau merokok????" heran David melihat Rival memijat pelipisnya.
"Tidak sering. Yaa..hanya sekedar penghibur diri bang. Sesekali saja"
David pun ikut mengambil sebatang rokok dan ikut menyulutnya. Bagi mereka.. tidak pernah atau jarang bukan berarti tidak bisa.
"Aku masih tidak tega meninggalkan Indira walau hanya sebentar"
Rival menertawai David yang mulai tau rasanya resah setelah menikah dengan Indira.
"Mas...aku ingin pulang" tak tau kapan datangnya, Yara sudah ada di depan pintu. Rival melemparkan puntung rokok jauh di depan sana lalu mengibaskan pakaiannya dengan tangan berharap bau asap rokok berkurang dari tubuhnya.
"Ayo sayang!!!"
"Bang, kami pulang dulu" pamit Rival
--------
David mengunci pintu, lalu masuk ke dalam kamar. Tak ada Indira di dalam kamarnya. David menuju belakang rumah melihat Indira yang berusaha memuntahkan sesuatu tapi sudah tidak ada yang bisa keluar lagi.
"Sakit sekali ya?" David memijat tengkuk Indira. Suaranya sudah lebih lembut. Indira sampai gemetar panas dingin karena mualnya.
"Maaf yah, maafkan bunda" Indira mengerti, pasti kejadian tadi sangat menjengkelkan untuk David.
"Tidak apa-apa. Harusnya ayah yang minta maaf. Bunda sedang tidak sehat. Lagipula ayah juga salah, tidak bisa menahan emosi hingga menyakiti bunda. Ayah tau..ayah tadi sangat kasar" sesal David.
Indira menunduk tidak berani melihat pandangan David.
__ADS_1
"Coba ayah bisa rasakan. Pasti ayah gantikan rasa sakit bunda. Ayah tidak tega Bun" jujur David.
"Biar bunda saja yah. Ayah inginkan bunda saja, bunda sudah bahagia"
"Yakin Bun????" goda David membuat Indira tersenyum lagi.
***
Yara menuang ayam kecap di mangkok. Rival menutup matanya merasa mual melihat potongan ayam tersebut. Dalam pikirannya melayang membayangkan bagian tubuh rekannya yang ia lihat kemarin. Dadanya terasa sesak.
"Ada apa mas?" wajah sendu Rival tidak bisa di sembunyikan.
"Bikinkan mas telur goreng saja dek" senyum Rival mengusap pipi Yara.
Yara menutup mangkok ayam kecap itu meskipun wanginya menggugah selera makan, tapi tidak untuk Rival saat ini. Yara mendekat, Di usapnya dada Rival yang nampak berdetak begitu kencang. Dari suaranya Rival seperti menyimpan banyak beban di hati.
"Maaf mas, aku tidak peka dengan perasaan mas"
"Nggak apa-apa dek, Arben khan suka makan ayam kecapnya. Mas saja yang masih terngiang kejadian itu" Rival memeluk Yara, membelai rambut panjangnya dan mengusap punggungnya.
"Dek.. janji ya sama mas! Kamu tau takdir Allah sudah di tetapkan. Kali ini kamu masih bisa melihat suamimu disini, berdiri memelukmu. Tapi jika suatu saat nanti keridhoan Allah tidak berpihak pada mas lagi, tolong sekuatnya yang tabah. Mas percayakan buah hati mas padamu. Jaga dan didik mereka"
"Mas bicara apa sich???" Yara menangis dan mendorong tubuh Rival. Rival menggapai tangan Yara tapi istrinya itu sudah berlari masuk ke dalam kamar.
"Dek...sayang"
Rival membuka pintu kamar. Rival duduk di tepi ranjang membelai lagi rambut hitam Yara.
"Maaf kalau perkataan mas membuat mu sedih"
"Kenapa mas harus mengatakan sejelas jelasnya?? Aku tau mas! Tapi bagaimana jika aku jujur kalau aku tidak mampu kehilanganmu??" Yara sudah berurai air mata.
"Setiap manusia sudah di gariskan jalan hidupnya sayang. Jika sudah menjadi suratan, kita manusia tidak bisa menolak apa yang menjadi kehendak Nya" lanjut Rival.
"Tolong mas, aku tidak mau dengar lagi. Aku tidak bisa maaas" teriak Yara. Rival secepatnya mengecup bibir Yara bahkan mel***tnya.
"Mas juga tidak kuat mengatakannya sayang. Mas juga tidak bisa membayangkan jika kamu harus membesarkan anak kita sendiri tanpa suami"
"Jangan bicara lagi. Aku ingin bersamamu membesarkan anak kita. Biarkan anak kita tumbuh dalam cinta kita mas" Yara merasakan dadanya begitu sesak dalam tangisnya. Sungguh setiap ucapan Rival sangat menakutkan untuk di dengarnya.
"Iya sayang...iya" Rival mengunci bibir Yara dengan pagutannya lagi. Sebenarnya saat ini ia hanya ingin meringankan beban pikiran yang membuat dadanya kian sesak, mungkin lebih sesak dari Yara.
__ADS_1
.
.