Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
19. Motor


__ADS_3

Rival baru mendapatkan bonus dari hasil kerjanya di luar profesinya. Tiga bulan kembali di Indonesia, keuangannya sudah mulai berlipat ganda.


Hari ini Rival menerima amplop berisi uang sejumlah tiga puluh lima juta rupiah. Rival ingin segera memberikannya pada Yara, tapi sejak sore kemarin Rival tidak pulang karena mengawasi kegiatan untuk tontangkas.


"Dek, ke pos tengah sekarang ya! mas tunggu di sebelah pos gudang senjata" titah Rival pada Yara.


"Jauh mas, jalan kaki panas juga" tolak Yara.


"Masih jam sebelas dek, sebentar saja"


"Siapa yang suruh kamu jalan kaki, ada motor di garasi" Rival memberi tau Yara. Rival dan Yara memang sudah pindah ke rumah mereka sendiri. Rumah nomer delapan khusus perwira.


"Motor matic mas???" tanya Yara meyakinkan.


"Iyaa..cepat dek. Mas masih mau cek yang lain"


"Iii..iya mas" Yara beranjak mengambil kunci motor dengan ragu.


Rival menutup teleponnya, tidak ada yang lebih membuat hatinya bahagia selain melihat istrinya bahagia.


-------


Seorang Pratu melaporkan hal penting pada Rival.


"Ijin Let..Bu Danki jatuh dari sepeda motor"


"Haahh.. Astagfirullah" Rival berlari ke arah sumber suara yang memang ia dengar beberapa saat yang lalu, tapi Rival tidak menyangka bahwa suara itu adalah suara Yara yang mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Rival melihat banyak darah pada jilbab dan wajah Yara. Yara masih membuka matanya diantara kesadarannya yang mulai menghilang. Seketika ketakutan yang teramat sangat menyelimuti hatinya. Rival melihat Nathan berlari ke arah Yara dan akan menolongnya juga. Rival menendang kasar bahu Nathan.


"Jangan menyentuhnya. Cukup aku memberimu kesempatan hidup. Jangan sampai aku menghilangkan nyawamu karena istriku" Nathan mundur teratur, ia tau seberapa tingkat emosi Rival kalau sedang marah.


"Tolong bantu saya!!" Perintah Rival pada anak buahnya.


Mata Rival memerah, degup jantungnya berdetak kencang. Tangannya gemetar menggenggam tangan Yara.


Jangan tinggalkan aku sayang. Aku nggak sanggup tanpamu.


Ketakutan Rival membuatnya sangat pucat memikirkan hal buruk.


***


"Yara sudah di rawat, sudah tidak ada masalah" Randy mendekati Rival karena melihat menantunya begitu gemetar.


"Yara tidak bisa banyak hal juga tidak pintar banyak hal. Itu sebabnya papa agak berat melepasnya menikah denganmu karena Yara akan banyak menyusahkanmu" ucap Randy


"Saya menerima Yara apapun dan bagaimana pun adanya. Tidak ada penyesalan dalam hati saya pa. Ucap syukur saya mendapatkan Yara dalam hidup saya" tegas Rival.


"Terima kasih Val" Randy menepuk bahu Rival.


Pembicaraan mereka terputus karena dokter akan membicarakan sesuatu yang penting pada Rival, Rival pun mengajak Randy ikut serta ke ruangan dokter.


Dokter mempersilahkan Rival dan Randy untuk duduk kemudian menjelaskan hal penting.


"Pak Rival, tadi perut istri bapak terbentur trotoar. Maaf untuk hal yang harus saya sampaikan, ada memar di rahimnya jadi selama masa pemulihan hanya satu rahim yang berfungsi. Siklus bulanannya juga akan sedikit terganggu. Sabar ya pak, kemungkinan istri pak Rival hamil pasti ada tapi mungkin butuh waktu yang lebih lama" perasaan Rival bagai tersambar petir. Jika bukan karena ulahnya mungkin hal ini tidak akan terjadi.

__ADS_1


------


"Apa soal anak sudah terpikir Val??" tanya Randy.


"Iya pa, tadinya saya ingin segera memiliki momongan, apalagi Yara juga sudah menginginkannya" jawab Rival dengan lesu.


"Sabar Val, ujian setiap rumah tangga bermacam macam" Randy menenangkan Rival yang sangat sedih dengan pernyataan dokter.


------


"Mas nggak ke Batalyon lagi?" tanya Yara yang melihat Rival masuk ruang rawatnya bersama Randy.


"Tidak ada yang lebih penting selain kamu" Rival menutup pintu kamar.


Mama papa dan Zein pindah duduk ke sofa agar Rival bisa menemani Yara. Yara meringis sakit memegang perutnya, Rival rasanya ingin menangis menyesali yang sudah terjadi.


"Kenapa tidak bilang kalau tidak bisa naik motor?" Rival mengusap perut Yara.


"Aku takut mas marah" jawaban Yara semakin membuat Rival semakin bersedih.


"Mas..Untung saja ya aku tidak hamil. Kalau aku sedang hamil, aku tidak akan memaafkan diriku karena melukai anakku. Semoga saja setelah ini aku segera hamil ya mas!" tangan Yara menuntun tangan Rival agar mengusap perutnya.


"Aamiin" suara Rival tercekat menahan tangis. Randy yang berdiri di sana dalam hatinya juga ikut bersedih.


.


.

__ADS_1


__ADS_2