
Randy duduk karena terbangun dari tidurnya.
"Yara kenapa dek??"
"Sudah mas, biarkan saja" Naya menajamkan matanya. Randy tersadar bahwa Rival sudah pulang. Randy keluar dari kamarnya perlahan ingin pergi ke kamar mandi.
Saat di luar kamar Randy melihat Zein yang menempelkan telinganya di pintu kamar Yara. Randy segera melempar Zein dengan bantal leher yang ada di lemari hias ruang tengah
"Mau apa kamu, bujangan di larang nguping" tegur Randy.
"Huusstt aku penasaran pa, Yara dari tadi ribut. Bagaimana bang Rival di dalam ya" wajah Zein penuh dengan aura mesum.
"Jangan sok tau,cepat kembali tidur" tegas Randy.
--------
Rival baru saja selesai. Napasnya belum kembali dengan benar. Di liriknya Yara yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Rival ingin mengajak Yara bicara, hanya saja Rival memberi waktu agar Yara merasa lebih tenang.
"Aku nggak menyangka memang benar luar biasa Tuhan memberi rasa" batin Rival bersyukur dalam hati. Di belainya rambut panjang Yara.
Rival menyusul Yara tidur karena ia juga merasa sangat kelelahan.
***
__ADS_1
Pagi hari Yara menyiapkan sarapan, ia diam tak berbicara. Matanya sangat sembab. Randy menuju meja makan dan melihat wajah Yara yang murung. Zein nampak biasa saja melihat kakakny yang polos itu. Naya mendekati putrinya.
"Kenapa nak?" tanya Naya heran
"Ma..maaf..aku..mas Rival" Yara menangis terisak. Rival menghampiri istrinya dengan perasaan sangat bersalah. Antara rasa malu, sungkan, tidak enak bercampur menjadi satu.
"Selesaikan berdua sayang, tapi suamimu tidak salah. Yang di lakukan suamimu adalah hak nya, itu pun kewajiban bagimu" bujuk Naya sambil menyerahkan tangan Yara pada Rival. Yara menoleh melihat Randy. Randy mengangguk membenarkan ucapan Naya.
Rival memeluk dan membelai rambut Naya. Berucap lirih berusaha menenangkan Yara.
"Maaf ya sayang, mas nggak sabaran. Harusnya mas menunggu dan mengajarimu sampai kamu siap"
Yara mengangguk dan baru memahami banyak hal yang ia tidak tau, ternyata teori dan praktek itu beda adanya.
***
"Ternyata.. istrimu itu kamu tinggalkan begitu saja" ejek Nathan.
"Itu bukan urusanmu" ketus Rival
"Hhhaaahh..aku yakin Yara belum tau cerita antara kamu dan Larasati" Tangan Rival langsung mencengkeram kerah seragam Nathan yang membahas tentang Larasati di hadapannya.
"Jangan pernah membuka suaramu di depan istriku. Kamulah b******n gila yang membuat itu semua terjadi. Kalau sampai ada apa apa dengan istriku, jangan harap kepalamu ini masih tegak pada tempatnya" Rival membuang kasar Nathan hingga jatuh ke tanah.
__ADS_1
"Apa Yara juga tidak tahan padamu sampai kamu pergi setahun lamanya dia belum memberikanmu apa apa?? Sayangnya aku kalah cepat darimu, kalau tidak..pasti dia sudah menjadi istriku" Rival panas mendengarnya, semua caci maki dan kata kotor keluar dari mulut Rival.
"Aku sangat mencintai istriku, Jangan mengusik rumah tanggaku, dan jangan pernah mencintai wanita yang kucintai"
Para anggota memisahkan kedua perwira mereka tersebut.
Randy melihat ada keributan segera berlari menarik tangan Rival.
"Ada apa Val" Randy menatap tajam mata Rival.
---------
"B******n itu penyebabnya" Rival mengusap kesal wajahnya.
"Sekarang kamu masih ada rasa atau tidak dengan Larasati?"
"Jelas tidak lah pa, sejak kejadian itu. Bahkan sekarang dia sudah tidak ada lagi. Saya mohon Yara jangan sampai tau pa"
"Kamu harus cerita Val, Istrimu begitu polos. Jangan sampai menyakiti hatinya" saran pak Suherman.
"Pasti om, tapi saya masih menunggu waktu yang tepat" ucap Rival.
Awas saja kamu Nathan. Kalau Naya sampai tau hal ini aku bersumpah akan membunuhmu.
__ADS_1
.
.