
"Arben.. kamu tampan sekali kamu sayang"
"Jangan Bun, kasihan anak ayah donk..nanti kena tendang Arben, dia sedang aktif sekali" David menjauhkan Arben dari tangan Indira yang gemas ingin menggendong nya.
"Kalau gitu bunda cium Arben saja boleh ya ayah?" Arben tertawa gemas menerima ciuman dari Indira. Tak hentinya tawa khas bayi seusianya terdengar riang mendapatkan ciuman bertubi tubi dari Indira.
Beberapa saat kemudian kapal akan segera berangkat. David menaiki kapal yang sama dengan Rival.
"Ayah berangkat ya Bun.. hanya sebentar saja. Bunda jaga kesehatan disini" pesan David.
Rival memperhatikan setiap perlakuan David pada Indira.
Benarkah di hatimu sudah terisi sepenuhnya dengan nama Indira bang? Harusnya Abang sudah lebih mencintainya setelah Indira mengandung darah dagingmu.
Rival menggapai tangan Yara untuk berpamitan.
"6 minggu nggak lama sayang. Udah aahh jangan nangis ya. Sayang khan make up tirai anti badai nya bleberan "
"Itu lama mas ( mengalihkan pandangan ) Aku nggak nangis kok mas." Yara mulai melow dengan situasi saat ini. Rival hanya bisa membalas tingkah Yara dengan senyuman.
"Terus ini apa? ingus kucing??" tawa Rival menghapus air mata Yara yang menetes.
Bumilnya ini memang sulit berpisah dari Rival saat mengandung begini. Mungkin bawaan bayi. Bahkan terkadang Rival harus menghubunginya tengah malam untuk memastikan istrinya sudah tidur atau belum.
"Jangan dirasakan! Kalau kamu rasakan rindu satu hari bisa terasa seminggu. Lebih baik kerjakan yang lain.. main dengan Arben. Sibuk kan kegiatanmu saja. Juga banyak pertemuan di Batalyon bisa juga mengalihkan perhatian mu"
Berkata memang mudah tapi nyatanya Rival pun juga sulit menekan rasa rindu.
Rival mencium kening Yara, pipi kanan kiri serta sekilas sedikit menggigit lembut Yara lalu berjongkok mencium perut Yara.
"Jangan nakal ya dek. Jaga mama!!! Jangan sering membuat mama susah! Dedek anak pintar khan!"
Rival berdiri lagi mengusap punggung Yara. Matanya menoleh pada David yang sedang melakukan hal yang sama pada Indira yang juga secepatnya menghapus air matanya.
"Tidak baik ibu hamil menangis terus. Ayah hanya pergi bedah desa. 30 hari saja" bujuk David melihat tangannya masih di genggam Indira.
"Jangan melirik wanita lain ya yah!"
"Ayah nggak bisa janji Bun. Ayah punya mata, tidak mungkin ayah tidak melirik. Tapi ayah janji hati ini ayah jaga hanya untuk bunda" David mengusap punggung Indira berharap istrinya bisa tenang saat ia tinggalkan.
***
__ADS_1
"Dengan siapa Indira di rumah Abang?"
"Sendiri.. siapa lagi yang dia punya selain aku"
"Jangan sakiti hatinya bang! Saya sudah pernah membuat Yara kecewa dan itu tidak akan saya ulangi lagi seumur hidup" Rival tidak ingin menyimpan lagi rasa yang akan menjadi prasangka dalam hidupnya.
"Apa maksudmu Val" tanya David hati-hati meskipun ia merasakan kemana arah pembicaraan Rival.
"Bisakah Abang mengakui dengan jantan semua perasaan abang? Tolong Abang jangan membuka hati untuk Yara lagi. Demi Allah saya tidak ikhlas bang. Terkecuali Tuhan menghapus saya dari bumi ini. Indira membutuhkan Abang. Butuh kasih sayang Abang seutuhnya. Jangan Abang ingat Yara lagi" Rival menjawab David dengan tenang meskipun hatinya bergemuruh.
David menghela napas panjang melonggarkan semua yang berkecamuk dalam dadanya.
"Kamu sadar hal itu Val?"
"Iya bang, saya sadar. tatapan mata Abang masih banyak menyimpan rasa" ucap yakin Rival.
"Maaf untuk hal itu Val.. itu memang benar. Aku mengaku salah"
"Kalau saja Indira tau, ia akan sangat sakit hati bang" Rival menegaskan sejelas mungkin.
"Aku mencintai Indira. Bagaimanapun dia sudah mengandung anakku Val"
"Semoga Abang menyadari hal itu. Tapi hanya Abang dan Tuhan saja yang tau isi hati Abang" Rival meninggalkan David di sisi kapal yang melihat selat yang tampak terlihat luas.
Ya Allah.. bagaimana aku menyelamatkan istriku dari pandangan lelaki lain. Sudah banyak dosa karena kelalaianku.
***
David melanjutkan perjalanan lagi di desa yang akan ia perbaiki. Sedangkan Rival masih melanjutkan satu jam lagi ke arah pelabuhan terakhir ke arah bandara.
Dalam perjalanan David merenung. Ia memastikan isi hatinya. Ia tetap percaya hatinya sangat mencintai Indira istrinya. David mengusap kepala hingga wajah.
Maaf sayang.. maafkan hatiku yang kadang masih menyelipkan namanya di hatiku. Aku janji tidak akan begini lagi.
***
"Sayang.. Mas apel dulu ya! Kamu cepat istirahat"
"Iya mas. Mas juga cepat istirahat"
Rival sudah tiba di tempat pendidikan dan segera lapor kedatangan setelah ia kembali. Ia pun sudah menghubungi Yara agar istrinya tidak mencemaskan dia lagi.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Rival dan anggota lain mengadakan test Keswa. Satu persatu anggota melaksanakan test itu. Di akhir test itu senior Rival menanyakan sesuatu pada Rival. Pria berpangkat Mayor itu salut dengan setiap jawaban Rival.
"Lettu Rivaldi.. Jika Negara ini bergejolak dan Keluarga anda.. dalam hal ini istri, sedang dalam kondisi tidak baik seperti yang anda alami saat ini. Mana yang anda utamakan?"
Rival mendalami setiap pertanyaan seniornya itu. Setelah menarik napas panjang ia menjawab tegas.
"Ijin menjawab. Saya akan menjawab logis dari sisi kemanusiaan saya. Jika saya masih berada di samping istri saya. Saya akan mengutamakan istri saya dulu. Saya manusia, saya laki-laki sekaligus suami yang menjadi pegangan hidup bagi istri saya. Jika saya berada di Medan operasi, saya akan selesaikan tugas sesuai aturan yang berlaku karena sumpah saya berlaku sejak saya menyandang seragam yang saya kenakan ini. Dua-duanya punya pertanggungjawaban di hadapan Allah. Melindungi istri saya dan menjaga negara saya bukan hal yang bisa menjadi pertanyaan yang tepat untuk di jadikan pilihan. Itu naluri.. berasal dari hati"
***
Hembusan angin di pagi buta membuat dadanya kembali bergetar. Kini ia akan kembali melayangkan diri dari atas ketinggian untuk melatih para siswa peterjun.
Parasut sudah bertengger kembali di punggungnya.
"Assalamu'alaikum sayang.. " sapa Rival
"Wa'alaikumsalam mas. Sudah mau mulai ya?"
"Iya sayang. Sudah jam 07.00. Sudah sarapan dek?"
"Sebentar lagi mas" Yara memang sangat malas karena perasaannya tidak pernah merasa tenang.
"Jangan terlalu siang, kamu nggak mau makan tapi anakmu lapar sayang. Do'akan mas saja dan tidak perlu terlalu cemas. Tidak akan terjadi lagi hal yang kamu takutkan itu"
***
Dalam pesawat di ketinggian 8000ft, Rival memandang hamparan hijau juga garis berkelok. Hari ini Rival terjun bersama beberapa peterjun luar militer. Seorang peterjun bebas olahraga melompat, tubuhnya terombang ambing di angkasa, ia tidak sadar karena tanpa sengaja menabrak body pesawat.
Rival yang melompat di belakangnya bersama seorang siswa tanpa pikir panjang segera menarik parasut orang tersebut agar mengembang di udara.
Tak lama melayang, Rival turun dengan sempurna. Orang yang tadi ia bantu pun juga sudah turun namun ia masih terdiam pada posisinya. Rival mengangkat parasutnya lalu mendekati orang tersebut.
"Anda baik-baik saja?" tanya Rival.
Orang tersebut melepas helm dan penutup wajahnya.
"Iya.. apa kabar mas?" tanyanya yang ternyata seorang wanita yang cukup Rival kenal.
.
__ADS_1
.