Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
46. Tugas mendadak.


__ADS_3

Rival membantu Yara mengeringkan rambut sebelum memakai jilbab. Yara sudah menggigil kedinginan setelah puas bermain. Rasa bahagia Yara ikut menyalurkan kebahagiaan pula di hati Rival. Mereka pun kembali ke penginapan.


Dalam perjalanan ponsel Rival berbunyi.


..........


..........


..........


"Siap laksanakan perintah" jawabnya tegas lalu mematikan panggilan telepon.


"Ada apa mas?" tanya Yara.


"Maaf sayang, kita harus pulang sore ini! Ada perintah tugas" Rival mengusap pipi Yara dengan sangat menyesal.


"Iya mas, nggak apa-apa" Yara tersenyum ikhlas karena memang apapun yang ia minta sudah ia dapatkan di Bali.


"Mas janji akan menggantinya di lain waktu"


***


Tengah malam mereka tiba di Kalimantan. Rival menyiapkan seluruh keperluan yang akan di bawanya pagi ini. Yara sudah tidur karena Rival memintanya agar segera beristirahat.


Tidurlah sayang. Mas akan usahakan cepat menyelesaikan tugas ini agar kita bisa segera berkumpul lagi.


Rival membelai rambut Yara, ia tidak bisa tidur karena cemas akan meninggalkan Yara entah berapa lama.


-------


"Aku pasti akan merindukanmu mas" Yara sedikit berjinjit mencium pipi Rival. Yara benar-benar menahan tangisnya.


"Mas juga akan merindukanmu juga anak kita. Jaga dia baik-baik. Jaga kesehatanmu. Mas akan selalu berusaha menghubungimu sebisa mungkin" Rival memeluk Yara, tangannya mengelus lembut perut Yara yang mendapat respon kecil dari sang calon baby. Yara melihat ponsel Rival yang tergeletak di atas meja, ia tau pasti tugas suaminya sangat berat hingga harus menanggalkan identitasnya.


"I love you sayang. Mas sayang kamu" Rival melepaskan pelukannya lalu segera pergi dari hadapan Yara


***


Seisi ruangan bergetar seirama DJ memainkan musik. Lampu diskotik berkelip. Rival 'minum' sendirian di pojok ruangan.


"Aa..apa mau aku temani?" tanya seorang wanita dengan gugup berpakaian amat sexy bertubuh langsing dan bisa membuat para pria lupa daratan.

__ADS_1


"Sini sayang!!" Rival meraih tangan gadis itu dengan genit.


Maafkan aku sayang. Suamimu ini hanya bekerja.


"Siapa namamu?" Rival mencolek dagu gadis itu.


"Nesya.." jawabnya singkat.


"Ok Nesya...maaf aku harus memulai tugasku" gumam Rival dalam hati.


"Hhmmm..apa mas mau main denganku??" tanya Nesya genit dan manja. Rival melirik ada seseorang yang sengaja mengawasi pergerakan Nesya. Rival waspada dan hati-hati, sedangkan Nathan bersenang-senang dengan gadis lain di tempat disco tapi matanya pun waspada dengan pekerjaannya.


"Tentu saja cantik". Nesya duduk di antara kedua paha Rival yang tidak mungkin ia hindari saat ini dan ia tidak bisa secepat itu menolak ketika Nesya menciumnya. Rival merasa sangat bersalah pada Yara hingga seakan kejantanannya hilang saat memikirkan Yara di rumah. Ingin rasanya ia menangis kencang karena tuntutan pekerjaan yang ia hadapi kali ini sangatlah berat. Membongkar sindikat narkoba di lingkup 'Rantai Hitam'.


Flashback on


"Kalian harus menyusup ke dalam Rantai Hitam dan cari informasi dari anak buahnya apapun caranya dan selamatkan anak buah kita yang terperangkap dalam sindikatnya. Melalui wanita kalian akan cepat mendapatkan informasi. Jaga identitas kalian dan jaga diri. Jangan sampai terjebak masalah dalam kegiatan yang kalian lakukan. Mengerti!!!!!" pesan Komandan Satuan Intel.


"Siap mengerti" jawab Rival dan lainnya serempak. Rival menjadi ketua team pembongkaran sindikat tersebut.


----------


"Bawa ini!!!" Nathan menyerahkan beberapa bungkusan kecil pada Rival.


"Itu adalah obat yang membantu merangsang, agar lawanmu berhalusinasi dan menganggap ia sudah melakukannya denganmu. Ingat! pakai akalmu. Bagaimanapun lawanmu nanti adalah wanita. Kamu tidak berniat mengkhianati istrimu khan?"


"Kau gila. Tidak mungkin aku mengkhianati Yaraku. Tapi kau juga harus berjanji, jika terjadi sesuatu pada rumah tanggaku..kamu harus bersedia menjadi saksi untukku. Disini aku bekerja, bukan main perempuan!" tegas Rival.


"Anggap saja aku berhutang nyawa padamu. Aku akan selalu ada di belakangmu" jawab Nathan dengan yakin.


Flashback off


***


Nesya menggandeng Rival masuk ke dalam sebuah kamar. Nesya mulai merayu Rival dan hendak menciumnya.


"Tunggu sayang..Masuklah ke kamar mandi! Aku suka wanita yang wangi dan bersih" Nesya tersenyum dan menuruti perkataan Rival. Rival memesan dua minuman, tak lama minuman itu datang. Rival menaburkan obat pada minuman Nesya.


"Untuk apa pesan minuman?" tanya Nesya sesaat keluar dari kamar mandi.


"Aku terbiasa minum sebelum dan setelah melakukannya" datar Rival.

__ADS_1


Nesya memeluk pinggang Rival dan menatap pria di hadapannya karena Rival sama sekali tidak mau melihat wajahnya. Nesya merasa Rival sangat aneh.


Rival tau Nesya merasa curiga padanya. Rival menekankan pada hatinya jika ia saat ini sedang bertugas dan tidak berniat melakukan hal lain. Rival mendekatkan bibirnya di sela telinga Nesya.


"Ayo kita lakukan sekarang!" ajak Rival lembut. Rival mengambil gelas minumnya lalu meneguknya setengah, pancingannya membuat Nesya meminumnya juga.


Rival memberi sentuhan kecil hingga obat yang diminum Nesya bereaksi. Sepuluh menit terasa sangat lama bagi Rival karena Nesya sungguh membuatnya kelabakan. Nesya melucuti sendiri pakaiannya di hadapan Rival hingga Rival harus menarik selimut untuk menutupi tubuh Nesya. Hal ini di manfaatkan Rival untuk mengorek info dan merekam percakapan mereka yang terhubung pada Nathan dan bagian Intel. Tak lama Nesya tidur pulas.


Rival gemetar membayangkan bagaimana jadinya jika Yara tau yang ia lakukan saat ini. Perlahan ada seseorang yang membuka pintu kamarnya dan Rival tau itu pasti Nathan.


"Sudah cepat lepas pakaianmu dan tidur disampingnya!"


Rival sangat frustasi, ini sangat bertentangan dengan hatinya. Rival duduk pada tepi ranjang tak sampai hati melakukan hal ini. Ia mengusap wajahnya dengan mata mulai merah membendung air mata.


"Kamu sudah bekerja keras. Aku akan menjadi tamengmu. Aku akan menjadi saksi jika Yara salah paham padamu"


***


Suara burung berkicau membangunkan Nesya, ia terkejut ada seorang pria yang hanya mengenakan celana pendek tidur di sebelahnya. Nesya seolah mengingat telah melakukannya dengan Rival. Nesya memeluk haru pria yang tidur tengkurap jauh di sampingnya.


"Mas, kamu pria baik. Kamu tidak kasar saat bicara padaku. Kamu juga melakukannya dengan lembut" bisikan Nesya membangunkan pria yang di kenal Nesya dengan nama 'Aldi' itu.


"Apa kamu suka?" tanya Rival.


"Aku sangat suka mas" jawab Nesya malu-malu. Rival tersenyum mendengar jawaban Nesya padahal dalam hatinya berteriak dan menangis.


Maafkan suamimu ini dek. Aku tidak bermaksud bermain api.


"Lain kali kita ulang lagi! Sekarang aku harus berangkat ngojeg" kilah Rival yang mengaku pekerjaannya adalah tukang ojeg.


Rival memberi uang pada Nesya sebesar lima ratus ribu rupiah karena semalam Rival sudah membayar mahal pada mucikari sebelum membooking Nesya. Nesya tersenyum menerima pemberian 'Aldi'.


***


Rival dan rekan yang lain melacak informasi yang ia dapat setelah beberapa kali Rival menggali informasi dari Nesya dan akan menggerebek lokasi yang sudah di sebut Nesya setelah semua keterangan lengkap ia dapatkan.


--------


Rival merokok di kamar kost yang ia sewa bersama Nathan. Asap mengepul memenuhi kamar berukuran empat kali empat itu. Botol minuman berserakan di hadapan Rival, ia sudah menghabiskan banyak minuman haram itu. Nathan tau Rival bukanlah seorang perokok aktif, namun jika ia sudah seperti ini berarti Rival sudah pada titik lemahnya saat ini.


Nathan masuk dan melihat bagaimana tersiksanya Rival yang sudah dua bulan ini menahan kerinduan pada Yara dan selama itu hanya bisa empat kali menghubungi Yara agar tidak terdeteksi oleh lawan. Nathan merasakan kecemasan dan kerinduan seorang suami melihat Rival yang sangat kehilangan arah.

__ADS_1


.


.


__ADS_2