Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
98. Insiden persiapan naik pangkat


__ADS_3

Batalyon sudah mempersiapkan rencana panggung untuk acara kenaikan pangkat minggu depan sesuai permintaan Komandan. Rival dan Nathan akan naik pangkat juga.


Yara bersama ibu pengurus juga ikut sibuk mempersiapkan ruangan untuk di dekorasi. Arben yang aktif tidak mau dititipkan pada Yara dan Randy yang memang sudah pensiun. Sedangkan Reno tidak bisa berbuat banyak karena bocah kecil itu sedang ingin mengganggu papanya hingga Yara kerepotan mengejarnya dalam kondisi hamil.


Para anggota remaja mengikuti anak Danki yang memang luar biasa aktif. Rival bukannya tidak melihat tingkah putranya, hanya saja pekerjaan yang menumpuk dan harus kesana kemari membuatnya tidak selalu bisa melihat Arben.


"Ijin Bu. Ibu lanjut saja biar kami yang menjaga kakak" ucap seorang Pratu.


"Aduh.. terima kasih banyak ya om. Maaf merepotkan. Kalau nakal sekali tolong bilang papanya ya om. Sepertinya sudah sedikit lebih santai kegiatan papa Arben"


"Siap ibu"


-------


Perintah Apel di serukan, Pratu Yulius mengembalikan Arben ke ruangan Yara mendekorasi ruangan. Yara bersandar pada dinding sesaat merasakan pusing menderanya, ingin rasanya beristirahat tapi ini bukan saat yang tepat.


"Bu Rival, sebaiknya ini kita buat apa ya?" tanya ibu Wadan. Perhatian Yara jadi teralihkan, si kecil Arben tak hentinya berlari, hingga tak ada yang menyadari Arben masuk ke bukit belakang Batalyon.


--------


Yara keluar dari ruangan sendirian melihat Rival berjalan tanpa Arben ke arahnya.


"Arben mana dek?" tanya Rival.


"Lho..bukannya tadi mas sudah tidak ada kegiatan. Apa mas nggak main sama Arben?"


"Setelah kegiatan tadi mas mengecek ke gudang senjata dek! Kamu ini gimana jaga anak" kesal Rival tanpa sadar langsung mengedarkan pandangan dan pergi mencari Arben. Yara merasa hatinya sakit sekali Rival menyalahkannya karena Arben terlepas dari pengawasannya.


"Yul.. tolong bantu saya cari si Kakak" perintah Rival.


"Siap.."


--------


Sampai sore telah tiba. Anggota Batalyon sudah berusaha mencari bahkan sampai ke barak bujangan tapi Arben tidak ditemukan.


"Zein.. coba kamu cari ke arah bukit" pinta Rival yang sudah mulai tampak lelah. Keringat membasahi tubuhnya.


"Apa iya Arben kuat sampai sana?" jawab Zein ragu.


"Apa yang tidak mungkin untuk ponakanmu itu" tegas Rival.

__ADS_1


"Ok lah bang, aku cari kesana!" ucap Zein sambil lanjut pergi mencari Arben.


"Ya Tuhan.... Bukan main....mencari anak kecil satu saja sulitnya melebihi menangkap bandit" Rival mulai mendesah merasakan rasa badan dan pikirannya campur aduk tidak karuan.


"Tolong untuk kalian semua, tutup semua penampungan air di bawah tanah. Banyak anak kecil suka main di sekitar barak" perintah Rival lagi.


"Siap.." beberapa anggota menutup bak penampungan bawah tanah.


Rival memijat tengkuknya mulai gusar bingung entah kemana harus mencari putranya yang baru berusia dua tahun itu. Dari sana Rival bisa melihat Yara yang menangis sendirian lalu duduk di bawah pohon asem sambil mengusap perutnya. Rival mendekati Yara.


"Sibuk boleh, tapi lihat anakmu jalan kemana. Mas nggak lagi nongkrong, ngopi, kaki di atas sambil makan gorengan.. Mas kerja dek. Sekarang anakmu lari kemana kamu nggak tau" kesal Rival dengan marah tanpa sengaja bernada keras dan tajam pada Yara. Yara sangat terkejut. Ia semakin memeluk erat perutnya yang tiba-tiba menjadi keram.


Rival baru menyadari bahwa ia baru saja membentak Yara.


"Maafin mas dek.. mas nggak sengaja"


Yara menepis tangan Rival yang mencoba memegang bahunya.


"Kalau tau Arben akan hilang dari pandanganku lebih baik aku menggendongnya sejak tadi. Aku sudah sangat merasa bersalah. Kenapa mas tidak berhenti marah. Aku juga menyesal mas" Isak tangis Yara tidak bisa di tahannya lagi.


"Arben.. Ben... maafkan mama. Mama yang sudah membuat mu hilang... Arben..." suara Yara sudah hampir hilang menangisi Arben.


Rival memeluk Yara yang masih duduk disana.


"Nggak mas. Aku mau ikut! Aku nggak tenang"


"Dek.. mas mau naik ke atas bukit. Kamu nggak akan kuat. Disana itu hutan. Kalau kamu ada apa-apa mas harus gimana? mas nggak akan bisa fokus mencari Arben. Khawatir kondisimu. Apalagi ada yang paling mas khawatirkan. Si dedek nggak bisa kecapekan. Jangan cari ribut sama mas, Mas ingin semua baik-baik saja... Ya sayang!!!"


"Kalau tunggu disini boleh?" Yara masih menawar lagi.


Rival membuang nafas kasar, lebih baik menuruti istrinya daripada istrinya semakin mengajaknya berdebat.


"Ya sudah..tapi disini saja dan janji jangan kaget apapun yang terjadi. Ingat.. ada anak mas yang harus kamu jaga juga!" tegasnya.


Rival berlari cepat menuju bukit


--------


Sudah banyak anggota yang mencarinya.


Tiba-tiba seorang anggota melihat sepatu Arben di sisi jurang.

__ADS_1


"Ijin Dan.. ada sepatu Arben disini!"


"Ya Allah.. kemana kamu nak!" Rival menggenggam sepatu itu dan mengedarkan pandangan ke seluruh sisi bukit termasuk ke bawah jurang.


Tak lama mata Rival membulat tajam melihat bocah gemuk itu yang tau bagaimana awalnya hingga sudah tergantung pada dahan pohon sedang menikmati madu dari sarang nya.


"Astagfirullah........" Degub jantung Rival tidak bisa di kendalikan karena terlalu kaget. Kakinya melangkah cepat menuruni sisi bukit. Tangannya sibuk menyulut rokok di bibirnya membuat asap agar lebah itu pergi mengitari putranya.


Rival menghisap dalam rokok di bibirnya hingga dadanya terasa sesak lalu menghembuskannya. Entah cara yang ia gunakan benar atau tidak, yang pasti lebah itu pergi mengitari Arben. Rival segera mengangkat tubuh balita berbobot 18 kilogram itu.


"Kamu ini nakal sekali. Tau tidak.. papa memarahi mama karena ulahmu" ingin sekali rasanya Rival menjitak putra gemuknya sambil naik ke atas di bantu Zein yang mati kutu tidak berbicara apapun lagi melihat ulah keponakannya.


Di lihatnya baik-baik banyak luka gores pada wajah dan kakinya yang berdarah juga bengkak besar di tangan tapi anak itu tidak menangis. Rival menurunkan Arben dari gendongan nya. Kaki Rival terasa lemas hingga ia berjongkok menunduk sesaat menormalkan nafas berkali-kali tak sanggup membayangkan hal buruk menimpa putranya.


"Kamu ikut sifat siapa? mengerjai papa, hampir membuat jantung papa lepas dari tempatnya?" tanya Rival tak berbobot.


"Jelas sifat Abang lah. Begitu bapaknya ya begitu anaknya" kesal Zein menepuk dahinya ikut cemas melihat hal konyol di hadapannya.


------


Para anggota sudah turun dari bukit. Yara melihat Rival menggendong Arben yang mengangkat nya dengan kedua tangan.


"Arbeeenn..... " teriak kuat Yara berlari menghampiri Rival, membayangkan hal yang tidak-tidak apalagi melihat badan Arben yang banyak luka.


"Tetap disana, Jangan teriak!!" cegah Rival.


"Arben kenapa mas?????" Yara ambruk duduk bersimpuh di tanah, ia menangis tidak bisa mengendalikan diri.


Rival menyerahkan Arben pada Zein lalu mempercepat langkahnya untuk menolong istri nya.


"Mas khan sudah bilang jangan kaget. Arben tidak apa-apa. Dia hanya tidur.. setelah asyik bermain dan mengerjai om-om disini"


Yara memeluk Rival erat. Rival mendudukan Yara pada bangku taman di bawah pohon tadi. Rival terus mengusap punggung Yara hingga tenang.


"Bawa sini Zein. Biar mamanya lihat kelakuan putranya"


Yara melihat wajah tanpa dosa yang tidur pulas setelah membuat insiden disana.


"Terima kasih banyak ya om atas bantuannya" Ucap Yara tulus.


"Siap ibu. Sama-sama!!" jawab kompak mereka.

__ADS_1


.


.


__ADS_2