
Rival menepuk dadanya merasa tidak kuat menghadapi ini semua.
"Sabar bang, semua butuh proses" Zein memberi semangat pada Rival. Rival hanya bisa melihat punggung Yara yang semakin tak terlihat lagi.
-------
Sesampainya Yara di rumah, Yara masuk di dalam kamar dan menguncinya rapat. Ia menangis menumpahkan seluruh perasaannya. Rasa rindu juga jelas ia rasakan, tapi Yara juga bingung karena sekarang ia sudah menikah dengan David.
kriiinngg.. kriiinngg.. kriiinngg
"Hallo.. Assalamu'alaikum" jawab Yara mengangkat ponselnya.
"Wa'alaikumsalam.."
Yara mengenali suara itu dengan baik, suara Rival yang selama ini ia rindukan.
"Temui mas di sebelah minimarket dekat pelabuhan. Mas tunggu jam tujuh malam nanti" ajak Rival.
"Nggak bisa mas" suara Yara tersendat oleh tangisnya.
"Bang David sedang PAM di luar. Temui mas malam nanti atau mas datang obrak abrik rumah papa. Assalamu'alaikum." ancam Rival lalu menutup panggilan telepon.
Wa'alaikumsalam
Yara tau sifat Rival. Yara menelepon David untuk meminta ijin dan David mengijinkannya. Ia keluar dari kamar dan meminta ijin pada orang tuanya. Yara meminta ijin untuk mendekorasi panggung pengantin dan mengecek pesanan kue.
***
"Ada apa mas?" tanya Yara.
"Naiklah dulu!!" Rival mengajak Yara naik motor menuju ke sebuah taman tempatnya dulu pernah duduk berdua dengan Yara.
___
''Apa semudah itu kamu melupakanku dek?" tanya Rival.
"Aku tidak tau bagaimana caranya aku menjabarkan perasaanku saat ini mas, semua begitu rumit untuk ku" jawab Yara penuh beban dan ketakutan.
"Karena kamu istri bang David?" Yara mengangguk.
"Mas tidak pernah mengucapkan kata pisah"
Yara tak tahan lagi, ia memeluk Rival dan menangis di dalam pelukannya. Cukup lama mereka seperti itu menumpahkan rasa rindu yang ada.
"Ikut mas sekarang!!" Yara melepas pelukannya dan menghapus air matanya mengikuti langkah Rival.
-------
"Mas...ini hotel" pekik Yara.
"Apa ada yang salah?" Rival menggandeng tangan Yara masuk ke dalam hotel. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.
Rival sudah mendapatkan kunci hotel dan mengajak Yara masuk.
"Kita harus bicara" tarik Rival pelan
"Mas..ini salah" tolak Yara ingin keluar.
"Apa bang David lebih segalanya dariku? Atau sungguhkah kamu tidak merindukanku??" kesal Rival.
Yara membungkam bibir Rival dengan ciumannya. Rasa terabaikan yang ia rasakan membuat Yara menjadi rindu kembali dengan belaian hangat dan sentuhan Rival.
__ADS_1
Rival yang juga sudah tidak bisa menahan rasa rindunya tak menunggu waktu lama untuk membalas ciuman itu. Desiran hangat mengalir di sela urat nadi mereka. Rival membuka jilbab Yara.
"Sudah setahun lebih mas tidak merasakannya sayang" suara parau Rival membuat tindakannya tidak terkontrol lagi, tangannya menjelajah ke segala arah.
"Habiskan malam ini bersamaku ya!" wajah memelas Rival memerah sudah tidak kuat lagi memendam hasratnya.
Rival menyelesaikannya hingga puas tanpa sisa dan Yara juga sangat menikmati setiap sentuhan dan perlakuan Rival itu. Entah berapa banyak mereka melakukannya, hingga tidak mengingat apapun lagi selain melepaskan rasa rindu.
-------
Yara tidur dengan sangat pulas dalam selimutnya. Rival menyalakan sebatang rokok di atas kasur melupakan asap mengepul memenuhi kamar.
Apa kamu tidak melakukannya dengan bang David. Aku tau kamu luar dalam sayang, kamu memang selalu bisa merawat diri, tapi aku ini seperti baru menyentuhmu kembali. Kamu pun begitu liar meluapkan perasaanmu.
Sebatang rokok telah habis dan Rival menyusul Yara untuk tidur.
--------
Yara terbangun dari tidurnya dengan kaget melihat Rival tidur di sebelahnya. Rasa yang tadi ia lakukan bersama Rival masih terasa membekas.
"Tambah gagah saja kamu mas" kecup Yara pada bibir Rival.
"Jelas saja, sesuatu untuk menyenangkanmu selalu kujaga dengan baik" jawab Rival dengan suara khas bangun tidur.
"Mas mau lagi untuk bekal semangat kerja pagi ini" ucap Rival lalu memulai serangan fajar lagi.
***
Rival mengatur kegiatan kantor dengan baik pagi ini. Staminanya juga bagus. Wajahnya nampak cerah dan tanpa beban.
"Emosi Abang nampak stabil, Abang habis menang lotre?" ledek Zein yang sedang mengira sesuatu.
-------
Siang hari Rival menyempatkan datang ke kantor David.
"Selamat siang. Ijin menghadap Kapten David" sapa Rival.
"Masuk!!" David tidak begitu terkejut dengan kehadiran Rival.
"Apa kabar bang?" basa basi Rival.
"Masih dalam kondisi nyaman. Apa kamu sudah bertemu Yara?" tanya David langsung ke inti masalah.
"Sudah kemarin bang"
David tersenyum berat.
"Aku tidak bisa bicara banyak Val. Maaf ya kalau aku harus menikahi Yara"
"Aku juga bingung dengan situasi ini bang. Aku pun tidak pernah menceraikan Yara. Semua orang hanya mengira aku mati saja" ucap Rival dengan sedih.
"Soal anakmu, aku juga minta maaf. Kondisi saat itu sangat genting dan....."
"Aku paham bang. Sudahlah!! Aku juga tidak ingin mengingat kisah buruk kemarin" hati Rival sakit sekali jika harus mendengar semua kisahnya.
---------
Rival keluar dengan perasaan lebih lega sudah bertemu langsung dengan David. Rival mengambil ponselnya.
Rival : Assalamu'alaikum. Mas tunggu kamu di tempat kemarin!
__ADS_1
Yara : Ini siang mas. Aku harus alasan apa lagi??
Rival : Kamu mau mas yang menjemputmu?
Yara : Ya sudah mas, aku ijin mas David. Assalamu'alaikum.
Rival : Hmm
"Wa'alaikumsalam" lirihnya sambil menutup panggil telepon.
Yara mengangkat ponselnya meminta ijin untuk keluar pergi mengerjakan wedding organizer lain. Dengan berat hati ia harus mengijinkan istrinya 'bekerja'.
Rival pergi ke Mess dan berganti pakaian lalu menjemput Yara di tempat kemarin. Kali ini Rival mengajak Yara ke hotel yang berbeda.
"Mas, kenapa kita selalu pergi ke hotel. Ini bahaya mas!!"
"Mas yang akan tanggung akibatnya. Kamu hanya perlu menurut apa kata ku!" tegas Rival sambil menggandeng tangan Yara.
---------
Randy menghubungi Yara berkali kali tapi tidak ada jawaban dan ini sudah hampir magrib.
"Sudah pa! jangan di cari lagi. Mungkin Yara bersama Rival sekarang"
"Apaaa???" mata Randy melotot tajam.
"Bukannya papa melarang. Tapi status kalian itu rumit. Rival juga begitu.. sulit sekali menahan perasaan" kesal Randy.
David menyulut rokoknya berharap perasaannya yang campur aduk menjadi sedikit lebih baik.
--------
"Kamu puas??" Yara mengangguk.
"Mau lagi?" bisik Rival. Pipi Yara memerah.
"Mau mas" jawab Yara. Entah mengapa rindu mereka seolah tidak pernah habis dan seakan membayar semua kerinduan yang menumpuk selama ini.
_____
_____
"Sampai kapan kita harus seperti ini mas?" tanya Yara.
"Sampai hubungan kita jelas. Sabar ya! Mas akan usahakan kita cepat bersama lagi"
"Aku tidak tahan hubungan seperti ini mas. Kita seperti pasangan yang sedang selingkuh" Yara mengusap air matanya.
"Kita memang sedang bermain api di belakang bang David" goda Rival.
"Mas..jangan menambah rasa bersalah ku" Yara mengusap air matanya.
"Iya sayang, mas tau. Tapi mas juga butuh kamu. Pada siapa lagi mas curahkan rasa rindu, keluh dan kesah? Mas hanya ingin kamu. Papa melarangku bertemu denganmu diam-diam seperti ini setidaknya sampai jelas hubungan kita. Tapi maaf sayang, mas memang egois. Mas tidak kuat menahan perasaan lebih lama lagi. Batinku sakit sekali menahan rindu hingga rasanya sesak di dada" jujur Rival.
Yara memeluk Rival dengan erat.
"Sejujurnya aku juga sangat merindukan semua tentangmu mas. Belaian dan kasih sayang ini benar-benar kurindu" ucap Yara mulai pasrah.
.
.
__ADS_1