
Rival menidurkan Yara pada tempat tidur. Rival mengambil minyak angin dan membangunkan Yara.
"Dek..bangun dek!!" panik Rival mengoleskan minyak angin ke sekitar pelipis dan hidung Yara.
Dasar sial! kenapa bisa sampai kacau begini.
Rival memijat pelipis kanan Yara yang bengkak. Rival tidak bisa menghilangkan rasa cemasnya apalagi Yara yang tengah mengandung buah hatinya selalu membuatnya panik.
Yara perlahan membuka mata. Suaranya serak begitu ketakutan, tangannya gemetar.
"Ada ular mas"
Rival membelai rambut Yara dan menenangkannya.
"Itu cuma belut sayang. Mas tadi pergi cari belut"
Yara membelalakan mata setengah kesal karena Rival tak memberi taunya lebih dulu jika tadi akan pergi mencari belut.
"Cuma mas?? Aku hampir mati karena ketakutan tapi mas dengan santai bilang itu cuma belut. Asmaku hampir kambuh tadi mas" kesal Yara sambil memukuli Rival, kakinya menendang nendang hingga tanpa sengaja tangan Yara tersangkut dan membuat handuk yang melingkar di pinggang Rival terlepas.
"Yaaa..kamu sih.. belut yang ini jadi marah minta di tangkap juga" wajah Rival di buat cemas.
Sebenarnya hati Yara menjadi berdesir melihat tubuh suaminya begitu 'wow' di hadapannya. Yara bingung menutupi salah tingkahnya.
"Sini aku tangkap, setelah itu aku belah!" kesal Yara.
"Eeeiittss..nggak nyesel kamu? ini buat nyenengin kamu lho" goda Rival.
"Apa sich mas, kok mas jadi nakal gitu" Yara menjadi malu sendiri dengan ucapan Rival.
Rival yang tau tingkah malu-malu istrinya semakin ingin menggoda Yara. Godaan Rival yang nakal membuat Yara terbawa suasana sedangkan ia sendiri lupa di rumahnya sedang ada tiga bujangan di dalam rumahnya.
Rival terus menggoda Yara hingga ia terjebak pada ulahnya sendiri. Kecupan demi kecupan mendarat hangat pada tubuh Yara. Lenguhan kecil Yara begitu menggairahkan terdengar di telinga Rival dan membuat Rival lupa daratan.
Sedangkan di luar sana ke tiga anak buah Rival tanpa sengaja mendengar suara asing dari kamar Rival. Mereka bertiga tertawa cekikikan mendengar suara Yara yang ternyata sangat manja dan Rival tetap pada mode gagahnya.
Sesaat terhanyut, Rival mengingat ada tiga anak buah sedang berada di rumahnya.
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim" Rival mengusap wajahnya menyudahi acara yang sedang berlangsung.
"Mas..mau kemana??" manja Yara karena Rival tiba-tiba berhenti memanjakannya dan segera mengambil pakaian santai juga celana pendek.
"Hhssstt..pelankan suaramu sayang!! nanti kita lanjut lagi. Mas harus membereskan tiga ikan pindang di dapur" Rival menggigit bibir bawah Yara dengan lembut.
"Jangan keluar dulu!!" tegas Rival.
Rival keluar kamar tanpa suara dan mendengar percakapan ketiga anak buahnya.
"Suara istri komandan membuatku ingin segera menikah" ucap Arif
"Tak kusangka komandan begitu hot menggoda istrinya"
"Pelankan suara kalian, nanti komandan dengar" bisik Rafael.
Ba*****n tengik. Berani sekali mereka menguping acara tamasya ku.
"Kurang ajar.. kalian nguping urusan suami istri. push up kalian sekarang 35 kali!!!" geram Rival pada anak buahnya.
Arif, Dio dan Rafael begitu terkejut karena Rival tiba-tiba muncul di belakang mereka. Tidak mau ada yang salah lagi. Mereka siap menerima setiap hukuman dari Rival.
-------
"Berhubung ini hari Sabtu, kalian bantu saya bersihkan belut"
Ketiga anak buah Rival begitu girang karena bagi mereka yang bujangan, makan gratis adalah hal paling menyenangkan di manapun berada.
Tak butuh waktu lama mereka segera melakukan eksekusi. Yara baru saja pulang dari belanja di mamang sayur yang lewat di depan rumah, ia belanja sesuai pesanan Rival.
Yara mundur perlahan melihat Dio sedang membersihkan belut, Yara menjadi pusing. Perut Yara serasa di aduk kuat, mual mendera hingga ia harus berpegangan pada sisi pintu, dadanya sesak.
Rafael melihat istri Danki sedang tidak baik segera menolong Yara.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Rafael takut salah. Ketika Rafael akan pergi memanggil Rival, Zein dan Mutia yang sedang menggendong putrinya datang ke rumah Yara dan Rival.
"Kenapa Raf? tanya Zein melihat Rafael kebingungan. Dio dan Arif juga ikut panik.
__ADS_1
"Ijin Dan, sepertinya Bu Rival tidak kuat lihat darah" Zein menoleh ke sekeliling dan melihat cara Dio memotong belut dengan aneh.
"Pantas.. kamu itu mau bersihkan belut atau mau mutilasi, sampai remuk begitu!! Mana Abang Rival" Zein menggeleng melihat cara Dio yang membersihkan belut dengan cara di geprak. Zein menyangga Yara yang sudah lemas.
"Aku dari belakang bereskan kandang ayam" ujar Rival mencuci tangannya.
"Duuhh.. ini kenapa lagi istriku???" Rival panik berjalan cepat mengambil alih Yara yang sudah pusing.
"Nggak apa-apa bang. Aku juga sering begitu dulu. Tiba-tiba pusing, pingsan. Asal tidak sering. Begitu kata dokter Bram" jelas Mutia.
Rival tidak bisa begitu saja tenang walau dokter pun sudah pernah menjelaskan langsung padanya.
Setelah mereka semua duduk di belakang sambil sesekali membantu tiga bujangan jomblo yang sangat bahagia itu, Rival melirik putri kecil Zein dan Mutia.
"Abang mau gendong juga?" tanya Zein pada Rival.
Rival mengangkat tubuh mungil Gayatri Wuri dengan senang hati. Di ciumnya dengan penuh cinta seorang bayi yang masih di tangannya. Tiba-tiba Rival merasakan sesak dalam dadanya. Ingatan saat mengadzani Vena muncul kembali. Sebulir air mata menetes di pipinya. Rival merasa sudah cukup dan mengembalikan Ay pada ibunya.
Rival memeluk Yara dengan rasa gelisah.
Zein memberi kode pada ketiga anak buahnya agar tutup mulut pada situasi tidak sengaja ini. Ia mengarahkan ketiga anak buahnya agar melakukan hal lain dulu.
"Mas kenapa?" lembut Yara yang masih nampak lemas.
"Mas akan membawamu bertemu dengan Vena. Sekalian mengambil cuti dan mengajakmu jalan-jalan" tampak Rival sangat memaksakan senyumnya.
"Mengapa hatimu begitu kuat mencintai Larasati dan Vena mas? Apa tidak cukup aku dan anakmu untuk membahagiakanmu??" Isak tangis Yara terdengar lagi. Tangannya menghentak menyingkirkan tangan Rival. Hatinya begitu sensitif mendengar nama itu.
Rival ikut menangis sesenggukan menunduk sangat merasa bersalah tertelungkup di paha Yara dengan kepala menghadap ke arah perut Yara yang nampak mulai membesar memeluknya dengan wajah memelas meminta pengampunan dari Yara.
"Ampun dek, maafin mas selalu mengecewakamu, jangan katakan mas mencintai Larasati lagi sebab mas sudah bilang padamu berulang kali.. tidak ada rasa cinta di hatiku untuk dia. Sudah cukup rasa sakit yang dia berikan untukku. Mas sangat kecewa padanya bahkan setitik sisa cinta pun tak ada. Tapi kamu harus tau sayang, Vena hanyalah korban dari keegoisan orang tuanya. Anak itu tidak salah sayang"
Yara mengakui sulit sekali menghilangkan rasa cemburu di hatinya, bukan ia tidak berusaha menghilangkan rasa itu. Tapi mengusahakan lapang dada memang sangat sulit.
"Bawa aku bertemu anakku jika kamu cuti!" ucap Nathan yang tidak tau sejak kapan dia muncul disana. Rival menoleh dan melihat mata Nathan yang juga merah berkaca-kaca.
.
__ADS_1
.