
Nantikan kelanjutan kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario di Untuk Untuk Kamu 3 ( Titip Rindu ). Sambungan cerita langsung setelah tamat. Hanya di channel NaraY.
🌹🌹🌹🌹
"Danki..." Pak Willy membantu menggeser Rival yang memeluk jenazah istrinya. Danki begitu syok hingga tidak bisa menerima kenyataan ini.
Oka menelepon personel Kompi untuk persiapan kepulangan jenazah ibu Danki.
***
David masuk dalam rumah Randy. Indira mengusap bahu David yang juga nampak terkejut mendengar kabar meninggalnya Yara. Naya dan Randy sudah terlihat lebih baik tapi tidak dengan Rival yang hanya berjalan diam tanpa berucap sepatah kata pun. Terlihat pikiran Rival kosong melompong bagai mayat hidup yang tidak tau arah.
"Apa ayah baik-baik saja"
"Iya Bun.."
"Ayo masuk kalau ayah sudah kuat"
David langsung menggandeng tangan Indira. Setelah menemui orang tua Yara. David mendekat pada Rival. David mengusap dada Rival untuk menguatkan.
"Tak ada yang sanggup melawan takdir"
"Aku menyesalinya bang. Jika aku tau kembalinya aku akan membuatnya seperti ini, aku memilih untuk tidak kembali dan membiarkannya tetap menjadi istri Abang"
"huussttt.. tarik ucapanmu itu"
"Kakaaaakk" Zein berlari melihat jenazah Yara terbujur kaku.
"Kak Yara.. Ya Allah.. Apa yang terjadi bang????" Zein menarik pakaian Rival.
"Zein.. berhenti.. tidak ada yang salah" tegur Randy. Zein melepaskan tangannya lalu memeluk jenazah Yara.
"Zein sayang kakak. Maafkan Zein kak" ucapnya lemah.
"Pak.. kita mandikan jenazah almarhumah"
"Biarkan saya melayani istri saya terakhir kalinya" ucap Rival.
***
Rival mengusap kening Yara, mengguyur perlahan tubuh kaku itu. Rasa sakit mendera perasaan Rival. Tak terbayangkan harus kehilangan istri tercinta dalam keadaan seperti ini.
Kamu cantik dalam tidur panjangmu. Mas akan berusaha mengikhlaskan mu pergi walaupun berat terasa menyiksa batin ini. Selamat tidur sayang.
"I love you sayang" gumamnya.
Rival terus meneteskan air mata hingga tubuhnya terhuyung menyangga badan di tempat permandian terakhir Yara.
"Jangan menangis di depan jenazah ibu pak!" tegur pelan soerang ustadzah. Rival memilih keluar saat tak kuat lagi menatap wajah teduh Yara.
"Tolong tenangkan pak Rival" Zein mengarahkan Rival untuk duduk di samping Randy. Zein tau Rival begitu kehilangan Yara.
__ADS_1
"Makan ya le ?" tanya Randy.
"Aku nggak lapar pa, aku hanya mau Yara kembali"
"Dengar papa le, papa juga kehilangan Yara. Tapi ketentuan Yang Kuasa lebih besar adanya. Arben belum mengerti kepergian mamanya, apalagi Abrian.. bahkan air susu ibunya belum ia rasakan"
"Jangan ingatkan aku lagi kalau Yara sudah pergi pa .. Aku nggak kuat pa" Isakan tangis belum bisa berhenti mengalir dari sudut matanya.
-------
Yara sudah di kafani. Arben berjalan kesana kemari.
"Mama tidur, cantik" semakin terpukul perasaan Rival mendengar Arben yang tak tau apa-apa perihal kepergian mamanya.
"Pak, jenazah mau di tutup.. ini terakhir kali pak Rival bisa memandang ibu"
Rival mendekat pada jenazah Yara, menghapus air mata yang masih meleleh.
Kupandang wajah cantikmu untuk terakhir kalinya, tak akan pernah luntur cintaku untuk kamu.
Rival mencium kening Yara.
"Ya Allah Ya Rabb.. mas nggak kuat dek" ucapnya mulai tidak tahan lagi dengan perasaannya. Rival menunduk mengusap wajahnya. Randy mengucapkan permintaan maaf mewakili Rival yang sangat terpukul tidak mampu berucap banyak.
***
Rival, Zein, David, dan Reno menerima jenazah Yara. Setelah semua naik, Rival mengadzani Yara lalu naik ke atas.
"Istriku pa..."
Reno menepuk bahu Rival berkali kali agar bapak dua anak itu lebih kuat. Bunga terhampar bertaburan di depan matanya.
Para pelayat satu persatu meninggalkan makam. Rival menyandarkan kepala pada papan bertuliskan nama Yara.
"Taukah kamu.. mas sekarang begitu menyesalinya dek. Kalau saja mas tidak menyentuh mu, tidak akan kamu susah payah mengandung Abrian" teriaknya meluapkan tangis karena perasaannya teramat sakit
"Istighfar bang, Abang tidak bisa menyalahkan takdir" bujuk Zein.
"Ya Allah.. Astagfirullah hal adzim" Rival melonggarkan dadanya yang terasa berat dan sesak. Berkali-kali ia meremas dadanya yang tidak kunjung reda rasa sakit nya.
"Ya Allah.. bisakah aku memintanya kembali. Aku tidak akan minta yang lain. Aku hanya mau dia ya Allah.. UjianMu ini terlalu berat kurasakan" teriak Rival kembali, ia begitu histeris memeluk papan kematian Yara membuat Zein, Oka, Pak Willy, dan pak Imanuel ikut terhanyut mendengar suami Yara itu.
"Abang.. ikhlaskan kakak. Jangan persulit langkahnya bang" bujuk Zein.
"Tinggalkan Abang sendiri" pinta Rival dalam kesesakan batinnya. Kini ia lebih membuka perasaan.
"Tolong tinggalkan Abang sendiri. Abang ingin meluangkan waktu berdua dengan istri Abang." Rival mengucapkannya sekali lagi.
Zein pergi meninggalkan Rival namun Zein menunggui Rival bersama Oka, David, pak Willy dan pak Imanuel di sana. Mereka khawatir Danki mereka akan bertindak bodoh mengingat Danki mereka teramat sangat mencintai almarhumah istrinya.
Rival mengusap tanah basah di makam Yara.
__ADS_1
"Puaskah kamu sayang, jika hukuman ini yang kamu minta untuk menebus semua waktu dan kepedihan yang mas berikan untukmu. Saat mas di ambang kematian, tak sedikit pun mas ingin tinggalkan kamu, tapi sekarang kamu yang inginkan pergi dari sisiku"
"Bagaimana mas akan melewati hari tanpamu membesarkan anak-anak kita. Mana janjimu yang akan selalu setia hidup denganku??? Tega sekali kamu dek"
Rival menelungkup di hamparan bunga makam Yara. Cukup banyak tekanan dalam batinnya, Bahkan rasa pening tak tertahan sempat tak dirasakan. Rival meronta di makam Yara.
"Aku tidak sekuat itu Yaraaaa"
"Kita kesana saja bang. Bang Rival sudah sulit di kendalikan" ajak Zein.
David membalik badan Rival
"Abangmu tidak sadar Zein. Kita bawa ke rumah sakit. Badannya panas sekali"
***
"Kondisinya drop total, harus rawat dulu!!!" ucap dokter Muklas
"Siap.. lakukan saja"
"Saya beri dia obat penenang. Dari kemarin Rival tidak istirahat dan terus menangis. Dia tertekan sekali"
Siap.. kami mengerti" jawab Zein.
_______
"Bagaimana abangmu Zein??" tanya Randy.
"Drop pa, masih tidur. Abang masih belum bisa terima kenyataan. Sekarang masih sama bang David dan yang lain di dalam" Randy menghela napas panjang lalu masuk melihat kondisi Rival.
"Terima kasih le , kamu sudah mencintai putri papa sampai seperti ini. Untuk nama Yara.. papa menghaturkan banyak terima kasih" Randy menghapus air matanya.
"Sudah pa, yang terpenting sekarang bagaimana kita membesarkan hati Abang, ada anak yang butuh kasih sayang Abang"
"Iya Zein.. kamu benar"
Tak lama Rival mulai sadar. Melihat sekeliling kamar.
"Astagfirullah hal adzim... Yara..." Ucap Rival tercekat mengusap wajahnya yang masih pucat.
"Yang kuat bang, masih ada Arben dan Abrian yang butuh Abang" ucap Zein.
"Yara..sampai kapanpun kamu akan selalu ada dalam hatiku" lirihnya sendu.
***
Rival berjongkok menabur bunga di makam Yara.
"Hari ini Abrian sudah boleh pulang sayang. Kamu yang tenang disana ya! Walau hati ini berat melepasmu, Mas akan mencoba untuk ikhlas menerima takdir Nya. Bahagia lah dalam tidurmu yang panjang sayang. Cinta mas akan selalu mengalir dalam doa. Bidadariku... kini mas sadar arti sebuah kerinduan, Rindu menunggumu yang tidak akan pernah kembali lagi. jangan lelah menunggu mas disana. Titip Rindu dan salam sayang untuk anak kita. Papa sayang kamu ma.. tak akan pernah terganti!!! I love you cinta" Rival mencium papan makam Yara..lalu pergi menyimpan seribu luka dalam dada.
.
__ADS_1
.