
Arben keluar dari pintu bawah garasi lalu kembali berlari ke rumah Zein nafasnya terengah karena badannya yang besar. Wajahnya nampak kesal. Malam jam sembilan kemarin Arben minta bangun dan makan di rumah Zein sampai tidur di rumah om nya itu. Meskipun Ay dan Arben sering bertengkar, tapi mereka saling mencari jika tidak bertemu.
"Ada apa kamu kembali lagi?" tanya Zein heran melihat Arben kembali lagi ke rumahnya dengan marah. Arben hanya diam saja. tapi matanya melihat piring yang di bawa Mutia.
"Bunda.. mau" tunjuk Arben sambil melompat lompat meminta tempe goreng yang di letakkan Mutia di atas meja makan.
"Mau berapa sayang?" tanya Mutia pada Arben.
"Lima (✌️)" jawabnya girang.
"Itu dua" Mutia tertawa geli membenarkan ucapan Arben sambil memberi Arben tempe di tangan kanan dan kiri Arben.
Bocah gemuk ini menikmati tempenya sambil termenung duduk di bangku kayu kecil buatan Zein.
"Arben pulang ambil baju ya. Nanti mandi disini!" perintah Zein.
"Nggak"
"Ayah antar" ajak Zein.
"Nggak"
"Dasar mirip papanya. Kalau sudah bilang 'nggak', harga mati untuk berubah pikiran" kesal Zein.
"Sayang..masih ada baju Ben disini?"
"Ada yah. Nanti di ambilkan di lemari" Zein mengangkat Arben yang lumayan terasa di tangannya.
--------
"Kenapa Ben nggak mau pulang?"
"Papa nakal sama mama" jawab Arben.
Zein menyudahi acara interogasinya mengira pasti kakak dan abangnya sedang adu mulut di rumah.
***
David mengusap rambutnya ke belakang, berbaring di samping Indira yang tidur pulas setelah ia membuatnya lelah. Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi tapi David tidak tega membangunkan istrinya yang tidur di balik selimut bersamanya.
David mengelus pelan wajah istrinya.
Apa aku baru menyadari kamu secantik ini Dira. Aku begitu bodoh karena terlambat menyadari kalau aku sangat mencintaimu Dira. Dalam hati kecil ini memang masih tersimpan nama Yara yang sulit aku buang. Maaf untuk hal itu, mungkin karena Yara adalah wanita pertama yang aku cintai, tapi bukan berarti hatiku tidak terpenuhi oleh kehadiranmu sayang. Malah kehadiran mu itu nadi kehidupan kedua untuk ku. Percayalah sayang. Tidak ada istri menjadi prioritas nomer dua ku. Kamu tetap yang utama karena kamu pun juga sudah rela merawat benih yang aku tanam dalam rahim mu, Tidak ada alasan aku tidak mencintaimu.
Indira menggeliat menyamankan badannya. Tangannya meremas sesuatu yang membuat David tersentak. Indira pun terkejut dan menyingkirkan tangannya. Matanya seketika terbuka. Wajahnya memerah malu.
David melihat jam dinding sudah semakin siang sedangkan jam 07.00 ia sudah harus di lapangan untuk apel pagi untuk upacara kenaikan pangkat.
"Bun.. satu kali lagi ya. kilat saja" pinta David memelas.
"Ayah yakin bisa kilat?" Indira ragu karena David memang belum pernah melakukannya dengan kilat.
__ADS_1
"Bisa.." jawabnya singkat dan dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya.
***
Rival sudah berlutut menekuk satu kaki mengikuti kegiatan upacara. Danyon mengguyur Rival dengan air bunga. Menandakan ia sudah sah menjadi Kapten.
"Selamat atas kenaikan pangkatmu. Sesuai Surat Perintah. Kapten Rivaldi Alfario akan memimpin kompi BS di daerah Jawa" ucap Komandan.
"Siap.. Laksanakan perintah" tegas Rival.
Yara yang berdiri di samping Rival memberikan setangkai bunga yang indah untuk suaminya.
"Selamat ya pa atas kenaikan pangkatnya. Semoga papa bisa mengemban amanah pangkat ini dengan baik" ucap Yara yang ingin merasakan sesaat waktu terindahnya hanya berdua saja.
"Terima kasih ma" Rival memeluk Yara dengan haru, lupa akan pakaiannya yang basah.
"Terima kasih mama selalu ada di samping papa sampai papa bisa menjadi seperti sekarang ini. Tanpa kesabaran mama, papa tidak akan bisa sebahagia dan sekuat ini menjalani hidup. Sekali lagi terima kasih istriku"
"Aawwhh.. basah mas"
"Maaf sayang.. nanti pakai jaket mas di ruangan"
--------
Rival berguling mengikuti tradisi Batalyon setiap ada anggota yang naik pangkat. Kali ini tidak seperti biasa. Berguling dan melaksanakan setiap tradisi membuatnya perutnya tidak enak. Baru sepuluh kali berputar perutnya serasa di aduk.
Yara mendekat pada Rival dan membungkukkan badan. Pakaian suaminya yang basah sudah kotor bercampur tanah dan lumpur.
"Itu bertanya apa menghina?" kesal Rival.
hhkk
Rasa mual hinggap menyerang Rival membuatnya lemas tidak berkutik. Petugas kesehatan berlari ke arah Rival.
"Ijin Dan.. Mau saya bawa pakai tandu?" tanya petugas kesehatan lapangan.
"Apa saya terlihat selemah itu??" mata Rival melotot mendengar sedari tadi ia di remehkan.
"Siap salah"
Rival berdiri dan berjalan menuju ruang kesehatan diikuti Yara. Rival melihat Arben berlarian kencang kesana kemari hingga badan dan pipinya bergetar seakan mau tumpah. Para anggota dan keluarga hanya bisa melihat tingkah polah anak Rival itu.
"Ben.. nanti jatuh" cegah Rival tapi anaknya itu tidak mengindahkannya dan terus berlari.
Rival mendekati putranya dan berniat menangkapnya. Arben menghindar tidak mau menerima uluran tangan Rival. Wajahnya nampak kesal.
"Dari pagi dia begitu bang" sela Zein.
"Kenapa kak. Kakak marah sama papa?" bujuk Rival mencoba menggendong Arben sekali lagi.
"Papa nakal" jawab Arben khas anak kecil.
__ADS_1
"Nakal apa?" Yara sedikit menunduk bicara dengan Arben.
"Papa naik mama" polosnya tidak mau melihat ke arah Rival.
Zein terpingkal tidak bisa menahan tawanya apalagi wajah Rival langsung merah padam menahan malu. Yara tersenyum salah tingkah mencubit pelan bibir Arben. Ternyata Arben merasa papanya sedang menyakiti mamanya.
Para anggota terlihat menahan tawa juga tapi mereka segera beranjak dari tempat itu memberi muka pada atasannya yang tanpa di duga mengalami kejadian tidak sengaja namun sangat memalukan itu.
"eeheeemm ( Rival melonggarkan jalan napasny )... papa.. tadi lagi pijat mama" Rival perlahan memberi penjelasan pada Arben.
"Adik di perut minta di pijat papa"
Arben melihat wajah papanya seakan mencari keseriusan. Tak lama Arben tertawa riang dan mau ikut dalam gendongan papanya.
"Ya Allah..kapan dia masuk mas. Apa yang dia lihat" cemas Yara.
"Lihat papa naik mama" ledek Zein meniru suara Arben.
"Kau bisa diam tidak???" lirik Rival
"Waahh..mata keponakanku sudah ternoda" tak hentinya Zein meledek.
"Zein.. jangan kurang ajar di depan Arben" tegur Yara.
"Abang dan kak Yara memang ceroboh. Kenapa bisa sampai lupa mengunci pintu, sampai Arben mengintip kalian dalam kamar" tanya Zein.
"Aku sudah menguncinya Zein. Bahkan aku melakukannya di dalam selimut, aku tidak sebodoh itu. Aku sadar sudah punya Ben. Kau kira aku bapak yang tidak bermoral?"
"Lalu darimana dia masuk???" tanya Yara.
Mereka bertiga saling pandang menerka darimana Arben bisa masuk ke dalam rumah.
-------
"Apa apaan kamu ini. Tidak bisa jaga wibawa sampai di dengar anggota lain" tegur pak Suherman di dalam ruangan sambil memberi selembar surat perintah.
"Salah paham itu om. Kejadiannya tidak begitu" jawab Rival santai.
"Kenapa Arben bisa ngomong jelas begitu" selidik pak Suherman.
"Ya mungkin posisiku memang tidak tepat waktu Ben mengintip, tapi kurasa aman. Dia tidak mungkin melihatnya. Aku tidak seceroboh itu om" santai Rival.
"Berarti Ben takut mendengar suara kalian" tawa Zein kembali pecah membuat Rival jengkel mendengar nya.
***
"Lihat bang!! ini ada obeng, Pintu bawah garasi Abang kunci slot nya longgar. Pasti Arben bisa mencungkil lalu mendorong nya"
"Aseeeemmm... Arben ini banyak sekali tingkahnya" gemas sekali Rival dibuatnya.
.
__ADS_1
.