
"Abang tidak menikahi Larasati khan?" pertanyaan Zein membuat Rival geram. Rival berbalik pada Zein.
"Aku memang membantunya Zein........."
Yara gelap mata membayangkan hal yang tidak pasti, soal ketidak jujuran Rival juga membayangi dirinya hanya sebagai pengganti Larasati. Yara mengambil pistol di saku Rival dan menarik sesuatu yang dia tidak paham apa gunanya.
Zein bergeser melindungi tubuh Mutia, Rival terkejut berusaha mengambil pistol agar tidak mencelakakan siapapun. Rival memegang pistol itu agar tidak meledak ke segala arah termasuk mengenai Yara yang sedang mengandung.
doooorrr
Pistol itu tertekan menembak sisi perut Rival. Yara tersentak kaget melepaskan pistol tersebut. Rival meringis merasakan sakit pada sisi perut dan menekan lukanya. Darah segar mengucur dari sela jarinya. Zein mengambil pistol tersebut dan menyimpannya lalu panik mengawasi pergerakan Rival. Mutia keluar ruangan mencari dokter.
"Kamu nggak apa-apa Khan dek?" cemas Rival mencari cari kemungkinan ada yang luka pada tubuh Yara padahal luka itu ada pada diri Rival sendiri.
"Jangan di ulang lagi, itu bukan mainanmu" sendu Rival mengusap pipi Yara.
"Maas..aku. nggak sengaja" Yara menangis menyesali perbuatannya.
"Mas tau sayang"
Dokter berlarian datang ke kamar Yara membawa alat medis.
"Let, lukanya harus di rawat dulu" ucap seorang dokter.
"Disini saja! Ini hanya luka kecil!" ucap Rival.
"Tapi Let.."
"Redam masalah ini. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Sudah cepat lakukan disini" perintah Rival dengan sedikit menahan perih.
***
"Bagaimana kondisi kakakku bang, aku belum mengabari mama dan papa soal kejadian ini" tanya Zein di ruang tamu sambil menyandarkan Mutia pada bahunya. Istri Zein itu nampak sangat lelah.
__ADS_1
"Sementara biarkan kakakmu tidur, kasihan sekali dia begitu stress karena berita ini" Rival menghela napas.
Yara melangkah menuju ruang tamu.
"Sini sayang, kamu sudah bangun??" Rival meraih tangan Yara yang ternyata sudah bangun dari tidurnya. Yara melihat sejenak lalu menyambut tangan Rival.
Yara duduk di samping Rival dan Rival pun membelai, memeluk Yara dengan sayang.
"Tanyakan apa yang ingin kamu tau, tapi jangan pernah kamu lakukan hal semacam itu lagi. Aku tidak mau ada lagi perdebatan di antara kita, kasihan anak kita sayang" bujuk Rival.
Yara belum menjawab perkataan Rival, tatapan matanya begitu kosong dan ragu, tapi hatinya menyiratkan rasa penasaran yang sama dengan pertanyaan yang di tanyakan Zein tadi di rumah sakit.
Rival mengerti dan ia ingin ini adalah terakhir kali pembahasan tentang Larasati.
"Aku membantu Larasati mulai awal kehamilannya hingga Vena lahir, tapi aku tidak menikah dengan Larasati"
"Mas kumpul kebo?" Yara menghentak melepaskan tangan Rival yang memeluknya.
"Terus apa yang mas lakukan selama bersama Larasati??" nada suara Yara mulai tinggi lagi. Rival menghela napas dan berusaha sesabar mungkin, kini Yara sedang mengandung darah dagingnya dan ia tidak ingin hal buruk sekecil apapun terjadi pada mereka.
"Kamu ingin aku lakukan apa?? Apa aku akan melakukannya karena Larasati sudah terlanjur hamil?? itu maksudmu??" Yara menunduk tak sanggup menjawab.
"Tidak ada. Bagaimana bisa melakukannya kalau cintaku sudah hancur dan habis tak tersisa"
"Rasa ingin menikahinya memang ada, karena banyak pertimbangan dalam hatiku saat itu tapi mengingat bagaimana dia mengkhianatiku sampai hamil anak dari Nathan.. cintaku sudah hilang. Tidak lagi cinta pada Larasati aku hanya kasihan pada anaknya, itu saja"
Yara tak ada bedanya dengan Naya, kalau sudah cemburu bahkan serigala buas pun di terkamnya juga. Rival pun menanggapi sifat ini dengan hati dan kepala dingin karena baginya cemburu itu lebih baik daripada istri yang tidak perhatian walau terkadang cemburu itu bisa menyusahkannya juga.
"Jangan pernah bahas Larasati lagi" lirih Yara hampir tak terdengar. Rival beralih melipat kedua tangannya dengan tatapan di buat kesal.
"Kalau begitu buang jauh David dari pikiran dan hatimu juga"
Zein dan Mutia tersenyum karena sudah bisa melihat hubungan Rival dan Yara mulai menghangat kembali.
__ADS_1
"Apa sich mas"
"Harus adil donk sayang.. kalau tidak..." wajah Yara sudah mulai berubah lagi.
"Kalau tidak..aku akan menciummu" Rival menggoda dan mencium Yara melupakan ada sepasang kekasih yang melihatnya sejak tadi. Suara tawa Yara membuat hati Zein dan Mutia ikut bahagia.
"Ayo kita pulang sayang, tugas kita sebagai obat nyamuk sudah selesai" Zein berdiri dan menggandeng tangan Mutia.
"Eehh..mau kemana kamu" tanya Rival.
"Ingin melakukan apa yang kalian lakukan lah" sewot Zein dengan wajah kesalnya. Mutia mencubit gemas pinggang Zein.
Sesaat setelah Zein pergi.
"Jangan marah seperti itu lagi ya" ucap Rival serius.
"Apa??"
Rival kembali memeluk Yara dengan erat, sungguh perasaan Rival saat ini adalah sangat takut kehilangan Yara, yang kedua tak ingin kehilangan anaknya lagi.
"Aku mencintaimu tulus ikhlas sayang, satu kali aku takut kamu ada di dalam lautan sana. Kedua kamu marah dan bermain dengan istri pertamaku" Yara terkejut dan hendak mendorong Rival tapi Rival memeluknya lagi. Detak jantung Rival terasa kencang dan tubuhnya gemetar.
"Kamu boleh marah dan cemburu bahkan melukaiku pun aku ijinkan asalkan kamu puas, tapi jangan kamu sentuh istri pertamaku dan jangan cemburu padanya..biar aku yang menjaga dan merawatnya karena kalau tadi sampai dia melukaimu, maka nyawaku akan ikut bersamamu. Kamu bisa janji dek?"
Yara baru paham maksud Rival, Yara menahan haru merasakan cinta Rival untuk dirinya. Pria dengan sifat yang begitu kaku bisa seperti ini di hadapannya.
"Aku tetap cemburu dan ingin mengajaknya berkelahi" goda Yara.
Rival mendesah susah mendengarnya.
.
.
__ADS_1