Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
75. Kisah kita


__ADS_3

"Jangan pa!!!" Rival dan David menghambur menutup tubuh Yara bersamaan.


Cambukan kuat mendarat di punggung David dan Rival. Mereka merasakan betapa sakit dan kuatnya cambukan itu. Wajah keduanya menahan sakit dari cambukan Rival. Mereka tau Yara pasti tidak akan kuat menerimanya.


Randy yang kalap menyingkirkan tubuh David dan Rival lalu menarik tangan Yara dan mendorongnya hingga jatuh tersungkur di lantai dengan keras. Yara merintih kesakitan.


Plaaaaakk.. plaaaaakk


Dua tamparan keras mendarat di pipi Yara.


"Jangan sakiti istriku pa" cegah David memeluk Yara.


"Aku yang salah pa" Rival berlutut memohon memegang kaki Randy namun tangannya masih intens menjaga dan melindungi Yara.


Randy membuka laci lemari hias mengambil obat yang dulu sempat Yara minum untuk menggugurkan kandungan dan sengaja menggertak Yara agar ia mengaku siapa ayah dari anaknya.


"Mengakulah dek!" bujuk David tak tega.


"Mas tak apa kalau itu anak bang David" bisik Rival ikhlas. Nyalinya ciut sudah tidak tahan melihat istrinya mengalami hal sesakit ini.


David menepuk bahu Rival sedikit lebih kencang.


"Eehh..bodoh. Kau yang menghabiskan Yara di hotel tapi kau mau angkat tangan. Gila kau Val" pelan suara David dengan kesal.


"Kau tidak menyentuhnya kah bang?" bisik selidik Rival tak kalah kesal.


Kedua pria itu menahan tangis dari sakitnya perasaan yang ia hadapi sekarang.


Randy melempar obat itu di hadapan Yara.


"MINUM!!!" perintah Randy menghentikan perdebatan Rival dan David.


Dengan gemetar sudah lemas ketakutan, Yara mengambil obat itu namun Rival merebutnya.


"Jangan lagi ada obat laknat seperti ini!!!!!"


Yara terkulai lemas menghantam tembok. Rival menarik tubuh Yara kedalam pelukannya.


"Ini anak mas Rival pa, aku hanya melakukannya dengan mas Rival" semua pandangan yang ada dihadapan Yara hilang seketika, ia tidak sadarkan diri.


-------


Rival menemani Yara di dalam kamar bersama David. Yara memeluk bantal dan masih merasa lemas.

__ADS_1


Randy dan Naya masuk ke kamarnya sendiri untuk menenangkan diri membiarkan kedua pria tersebut menyelesaikan masalahnya.


Hening dalam kamar Yara. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar hingga Rival angkat bicara.


"Jadi selama ini apa yang Abang lakukan? Aku tidak yakin Abang tidak melakukan apapun" tanya Rival tegas memastikan.


"Aku tidak akan mengatakan pada pria cemburuan sepertimu" tegas David serius. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya sambil melihat ketegangan Rival dalam tatapannya yang sedari tadi mengusap perut Yara.


"Jujur saja aku sudah melihat apa kau lihat. Aku juga sudah merasakan apa yang kau rasakan. Hanya saja.. aku tidak 'melakukannya' dengan Yara"


"Pantas saja" gumam Rival.


"Aku sudah berusaha menjaga berlianmu meskipun kadang aku memang mencuri kesempatan untuk bisa bermesraan dengan Yara"


Rival tersenyum gemas tapi tidak berani membayangkan apa saja yang sudah di lakukan David pada Yara.


"Kalau Abang hanya menyakiti batinnya seperti ini kenapa Abang nikahi. Abang khan bisa menolaknya atau memakai cara lain" Rival terpancing suasana.


"Keluar kau!!! Aku akan lakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai suaminya" tegas David sambil memegang tangan Yara.


"Jangan sentuh Yaraku!!!!!" cegah Rival tajam.


"Kau pikir mudah menjadi aku yang harus menyelamatkan istrimu yang saat itu depresi kehilanganmu???? Kau pikir mudah tidak menyentuh wanita yang sudah menjadi istrimu???? Pikirkan perasaanku saat Yara mendekatiku tapi aku tidak bisa memenuhi itu semua padahal hasratku mungkin sudah di ujung tanduk. Kemana kau pergi sampai satu tahun baru kembali????" bentak David.


"Aku pun ingin kembali bang. Tulang ekorku terhantam, aku tidak bisa berjalan hampir lima bulan. Tidak ada akses di hutan tengah perbatasan. Hanya satu bulan sekali ada kendaraan ke arah kota yang juga tidak bisa di sebut kota. Aku hidup bersama keluarga nelayan tua di Malaysia. Selanjutnya aku bekerja untuk bisa kembali kesini. Apa kau pun berpikir aku tidak tersiksa dengan semua ini bang???? Aku hampir putus asa dengan keadaanku" nada Rival tak kalah tinggi.


flashback on


Rival terlempar ke sungai setelah jatuh dari helikopter dan menabrak dahan pohon. Arus yang sangat deras mengombang ambingkan Rival hingga berbalik ke muara sungai.


***


Rival mulai sadar dari pingsannya. Seorang nenek dan kakek tua menempelkan dedaunan yang sudah di tumbuk ke dada Rival.


Rival mengerang mengatur napasnya. Badannya sangat sakit dan tidak bisa di gerak kan.


"Sabar nak. Badanmu penuh luka. Kakek rasa tulangmu ada yang patah" Rival gusar dan frustasi mengalami kejadian ini.


"Aaarrggghhh... aku tidak mau seperti ini" teriaknya dengan kesal. Rival memperhatikan jarinya, tidak ada cincin kawinnya.


"Mana cincin kawinku kek??" tanya Rival.


"Itu ( tunjuk kakek ). Kakek jadikan kalungmu sampai tubuhmu sehat" ucap kakek.

__ADS_1


------


Siang hari itu Rival belajar bangun dari tidurnya dan belajar menggerakkan kaki yang tidak mampu bergerak sama sekali. Kakek dan nenek itu masih sangat sehat dalam membantu Rival.


"Sshh..huuuhh.. sakit sekali kek" Rival menggerakkan badan sekuat tenaga.


"Pelan saja. Gerakan jari kaki dulu"


Karena Rival gigih, hari itu pun ia bisa menggerakkan jari kakinya.


"Siapa namamu nak?" tanya kakek.


"Rival kek. Panggil saya Rival!" jawab Rival.


"Val, ada benda di dadamu. Kakek harus mengambilnya tapi kondisi mu harus sadar. Juga kamu harus menahan rasa sakitnya. Ini pedalaman, jauh dari kota"


"Ambil saja kek. Lakukan apa yang menurut kakek baik" jawab Rival pasrah.


Kakek memanggang besi lalu menunggunya hingga lebih dingin. Kakek membersihkan dada Rival dengan kain hangat lalu mulai mengambil peluru yang bersarang di dada Rival.


"Aaarrggghhh.. La ilaha ilallah.. Sakit sekali Ya Allah" Rival menegang menggelinjang kesakitan. Peluh memenuhi dahinya.


Kakek bisa mengambil satu peluru, lalu mengambil peluru satu lagi. Rival menggelinjang kesakitan lagi.


"Allahu Akbar... Yara.. tunggu mas ya dek. Kakak Arben sama dedek tunggu papa pulang" teriak Rival.


Kakek membersihkan darah yang mengalir. Ketika kakek membalut dengan ramuan dan kain. Rasa perih menjalar pada lukanya yang dalam. Rival menggigit bibir sekuatnya hingga ia pingsan merasakan sakitnya.


***


"Yara.. sayang.." nama itu terus meluncur dari bibir Rival. Kakek merasa iba dengan rasa cinta Rival yang setiap saat selalu mengingat Yara. Tubuh Rival demam dan menggigil.


"Kasihan sekali kamu Rival" gumam kakek sambil menyelimuti badan Rival dengan kain. Nenek menyuapi Rival obat ramuan kakek sendiri. Dengan telaten nenek menyuapi obat itu hingga habis.


-------


Beberapa hari telah berlalu, kondisi Rival sudah lebih baik dan ia mulai belajar berdiri walau mengangkat tubuh saja begitu sulit.


"Kek, saya mau tanya sesuatu" tanya Rival pada kakek dengan canggung sambil melihat ke arah nenek dengan tidak enak. Kakek pun memberi kode agar nenek meninggalkan mereka berdua. Setelah nenek pergi, Rival memberanikan diri untuk bertanya.


"Kek.. saya rasa tidak hanya kaki saya yang lumpuh, tapi ..." Rival mengacak rambutnya dengan resah.


"Kakek sudah tau, karena kakek yang merawatmu. Nanti kita obati" jawab kakek menepuk bahu Rival yang belum bisa menerima kondisi dirinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2