
Mulai saat itu Rival ketat mengawasi Arben dan lebih berhati-hati mengawasi tingkah putranya. Segala yang dilakukan Arben sebisa mungkin dalam pengawasannya.
"Kamu kenapa dek?"
"Badanku sakit mas" jawabnya karena memang sedari tadi hingga malam ini Yara hanya tiduran saja.
"Apa yang sakit. Sini mas pijat"
Yara memiringkan badan sambil melingkarkan tangan di pinggang pria yang akan menjadi ayah lagi itu.
"Ya Allah dek.. kamu demam?" Rival khawatir memegang punggung Yara yang terasa hangat.
"Nggak apa-apa mas, hanya capek sedikiiiiit 👌" jawabnya.
"Ini pasti karena mas peluk basah basahan tadi siang ya?"
"Nggak mas, memang dari kemarin rasanya aku mau flu"
"Kenapa nggak bilang sich. Kalau kamu bilang khan mas nggak akan ngajak kamu tanding, beberapa hari ini mas terus menghajarmu..pasti gara-gara itu juga kamu capek. Maaf ya sayang" sesal Rival.
"Nggak apa-apa mas. Aku baik-baik aja kok"
"Besok mas ijin. Kita ke rumah sakit ya! cemas Rival. Yara mengangguk mengiyakan ajakan Rival. Ia tau tidak akan bisa membantah suaminya itu.
***
Rival masuk kembali ke ruangan Farhan setelah selesai menerima panggilan telepon.
"Mana liat sekali lagi! Aku belum lihat anak ku"
Yara menatap mata Farhan. Farhan membuang nafas kasar.
"Anakmu baik-baik saja, istrimu hanya lelah" ucap Farhan, namun tetap ada yang mengganjal dalam hatinya apalagi melihat Rival begitu bahagia melihat hasil USG anak keduanya.
Perut Yara sedang di bersihkan oleh seorang perawat. Yara masih berbincang dengan perawat itu sedangkan Rival mengikuti langkah Farhan setelah littingnya itu memberi kode.
"Val, apa kamu tau istrimu mengalami flek? Istrimu demam karena terlalu lelah" ucap Farhan.
"Yang benar kamu??? Ada Flek???" Rival tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Jadi benar kamu nggak tau? Sekarang kamu harus sangat berhati-hati, boleh berhubungan kalau keadaan Yara sudah stabil. Tapi ingat, kamu kontrol juga dirimu sendiri"
Rival masih diam tak berbicara.
"Aku rasa Yara punya alasan kenapa dia tidak bilang atau mungkin belum sempat bilang sama kamu. Nggak perlu marah-marah, itu akan membuat perasaan nya jadi buruk, bisa mempengaruhi kehamilannya juga"
Rival mengusap wajahnya dengan tidak sabar. Ingin sekarang rasanya ia marah pada Yara.
"Tapi ini keterlaluan Han"
"Sabar..." ucap Farhan.
Tak lama Yara menghampiri Rival dan mereka berpamitan pada Farhan.
-------
__ADS_1
Rival berjalan cepat meninggalkan Yara yang jauh tertinggal di belakangnya. Perut yang besar membuat Yara kesulitan berjalan cepat.
"Mas tunggu"
Tak ada jawaban apapun dari Rival.
"Mas..." panggil Yara lagi. Mereka pun berjalan sampai ke parkiran dan Rival melaju kencang.
"Ada apa mas? kenapa mas jadi diam sejak keluar ruangan tadi?"
"Sejak kapan kamu keluar flek??? Kenapa nggak bilang sama mas???" kesal Rival.
"Aku baru tau semalam mas. Maaf!"
"Kalau kamu merasa sakit kalau lagi sama mas, bilang dek. Mas pasti berhenti. Nggak akan lanjut lagi. Mas tau maksudmu menyenangkan hati suami, kamu harusnya pikirkan anak dalam kandungan kamu juga. Mana mungkin ayahnya tega anaknya kesakitan. Namanya laki-laki otaknya nggak jauh dari gituan dek, tapi kalau sampai nyawa anak jadi taruhannya.. mas lebih baik nggak gituan meskipun harus puasa lama, yang penting anak istri aman. Ngerti nggak kamu?????" bentak Rival kuat. Amarahnya tak tertahan karena Yara tidak langsung bilang masalahnya.
Yara menangis di dalam mobil membuat Rival yang belum reda amarahnya jadi kesal lagi.
"Jangan nangis!!!! Apa keadaan jadi baik-baik saja kalau kamu sudah menangis seperti itu???" bentak Rival lagi. Sampai akhirnya mereka tiba di rumah, Yara turun perlahan tapi Rival tidak ikut turun dan langsung tancap gas menuju Batalyon.
Apa-apaan jalan pikirnya itu. Dari semalam tidak bilang apapun. Kalau sampai ada apa-apa sama anak ku bagaimana caraku menebus rasa bersalah ku.
Sesampainya di Batalyon, wajah Rival penuh amarah dan kekecewaan. Zein menatap nya dari jauh dalam hati menebak mungkin memang saat ini Yara dan Rival sedang ribut.
Rival menyiapkan berkas kepindahannya ke pulau Jawa. Mertuanya sudah lebih dulu kesana setelah pensiun. Ia kembali memikirkan Yara, pikiran dan hatinya berdebat karena harus membawa Yara pindah tugas dalam kondisi nya yang tidak stabil. Dalam ruangan yang sepi ia duduk bersandar.
"Ya Allah....." gumamnya melegakan hati sambil mengusap wajahnya.
***
Saat membuka pintu kamar, Rival melihat Yara menggigil tanpa selimut.
"Ya Allah dek.. kamu menggigil begini. Kenapa tadi nggak telepon mas??" cemas Rival mendekap Yara dan langsung menyelimuti Yara.
"Ada flek lagi nggak?" tanya Yara. Yara menggeleng menjawab pertanyaan Rival.
"Sungguh?? jangan bohong" tegas Rival.
"Nggak mas" lirih Yara.
"Minggu depan kita sudah harus berangkat ke Jawa dek. Kalau kondisi mu seperti ini bagaimana nanti" Rival mendesah bingung mengusap perut Yara.
"Mas ambilkan obat ya! kamu istirahat... mas mau menata barang kita"
Yara mengalungkan tangannya saat Rival akan beranjak pergi.
"Maaf mas, aku hanya tidak ingin mas kecewa kalau tau tentang kondisi ku semalam"
"Mas akan lebih kecewa kalau kamu nggak jujur. Mas sayang kalian, jadi jujurlah pada setiap keadaan yang terjadi karena kamu yang merasakan pertama kali. Mas nggak akan bisa siap siaga kalau nggak tau keadaanmu. Masa mas harus mengintip nya setiap hari untuk memastikan anak mas itu baik-baik saja atau tidak"
"Iya mas" jawab Yara pasrah.
Rival menuju dapur mengambil air untuk Yara.
"Mamaaaaa... maem" putra kesayangan Rival itu datang dengan mendobrak pintu ruang tamu hingga gelas terlepas dari tangan Rival, untung saja gelas yang di bawa Rival adalah gelas plastik bagus yang tidak mudah pecah.
__ADS_1
"Kakak.. kalau baru pulang itu ucap salam, bukan dobrak pintu" tegur Rival sambil menyeret kain pel dengan kakinya.
"Lapel pa. Kakak Aben lapel" acting nya dengan wajah memelas.
"Mau makan apa? Memangnya tadi nggak makan?" tanya Rival.
"Sedikit" jawab Arben memelas
"Makan apa?"
"Nasi kecap seperti punya ayah"
"Tunggu sebentar papa ambilkan" Rival mengangkat Arben agar duduk tenang di meja makan.
"Haduuhh Ben.. badanmu mantap sekali. Makanan apa yang kamu nggak mau" keluh Rival.
"Semua mau" jawab Arben riang.
"Kamu ini, papa sembelih daging ular pun juga bakalan masuk dalam lambungmu yang macam galon itu" gumam Rival.
Rival dengan cekatan mengambilkan nasi dan kecap pada piring makan Arben.
"Lauk apa? Ayam, tahu atau tempe?" tanya Rival.
"Nggak mau. Itu aja" Arben merebut piring itu dari tangan Rival.
"Masya Allah.. pelan Ben!!"
Arben segera melahap nasi itu tapi dia langsung diam tapi beberapa detik kemudian menangis kencang.
"Eehh.. ada apa?" tanya Rival bingung. Yara segera keluar dari dalam kamar karena mendengar keributan itu. Rival menarik pinggang Yara agar duduk di dekat Arben.
"Kenapa nangis. Kakak minta apa?" tanya Yara lembut.
"Mau nasi kecap seperti yang di rumah ayah"
"Apa sih mas?" tanya Yara dengan bingung melihat Rival. Rival pun mengangkat bahu. Tangis Arben semakin kencang membuat nya panik, lalu mengambil ponselnya untuk mengubungi Zein.
"Zein, Arben dari rumahmu nangis nih. Minta nasi kecap seperti di rumah mu. Memangnya dia makan apa?" tanya Rival.
Zein terdiam sesaat..lalu tertawa.
"Oohh.. itu bang. Dia makan........."
Rival menutup panggilan telepon.
"Astagfirullah hal adzim....kamu ini Ben. Berapa banyak kosakata yang harus papa hafalkan untuk mengerti apa maumu?" Rival melirik Arben dengan gemas, ingin mengacak rambutnya.
"Apa kata Zein. Arben minta apa?"
"Dia minta WAJIK"
.
.
__ADS_1