Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
70. Saat kau pergi


__ADS_3

Rival terjun bersama kelima anak buahnya.


Ledakan kencang sempat ia dengar dan ia lihat, helikopter itu hancur. Keadaan malam membuatnya tak bisa melihat dengan jelas kemana ia mendaratkan kaki. Dengan dua luka tembak dan kondisi yang tidak begitu fit, Rival jatuh menimpa dahan pohon dan terlempar ke tengah sungai berarus deras.


***


Helikopter Nathan dan Zein akan tiba di markas. Hanya helikopter Rival saja yang tidak kembali. Di dalam markas semua terhenyak mendapat kabar hilangnya helikopter Rival.


Nathan dan Zein sudah masuk di dalam kantor dan mendengar berita itu. Danyon sudah terduduk kaget, mungkin jika beliau mempunyai riwayat sakit jantung pasti ia akan mati seketika. Sedangkan Zein menangis pilu tak sanggup mengatakan apapun lagi, apalagi harus berhadapan dengan Yara.


"Kita umumkan saja hilangnya sepuluh orang yang berada dalam helikopter. Dan kita juga harus menyampaikan pada keluarga anggota. Termasuk Yara" ucap Danyon tegas namun terdengar sedih.


Randy sudah mendengar kabar itu, ia pun bingung bagaimana harus mengatakannya pada Yara. Putrinya itu belum pulih total.


Berita ini tidak bisa di tutupi lagi. Helikopter yang meledak berhamburan pasti menewaskan seluruh awaknya. Yara memakai jilbab lalu berlari ke Batalyon tanpa menggunakan alas kaki. Yara melihat bingkai Foto Rival sudah di keluarkan dari ruang penyimpanan. Foto dengan wajah tampan dan gagah penuh wibawa.


"Tidaaaakkk.. suamiku masih ada. Jangan pernah keluarkan foto itu" Para anggota terdiam melihat jeritan Yara. Zein berlari dan memeluk Yara.


"Sudah kak. Abang sudah tiada. Sabarlah kak. Masih ada aku" tangis Zein ikut pecah merasa bersalah.


"Tidak Zein.. aku tau suamiku tidak akan pernah meninggalkanku. Jangan keluarkan foto itu. Aku mohon Zein" begitu kalapnya Yara hingga asmanya kambuh. Yara meremas kuat bagian perutnya.


"BAWA MOBIL KE RUMAH SAKIT!!!!!"


Mobil melesat cepat ke rumah sakit. Sepanjang jalan Zein sangat kalut.


"Ayo kak yang kuat!!! Suamimu yang ganas itu tak akan membiarkan ku hidup meski aku berada di neraka sekalipun" panik Zein mengusap jemari Yara yang terus merintih kesakitan memanggil nama Rival.


***


Para petugas SAR mencari jejak kehidupan di antara puing hancurnya helikopter. Berita sampai pada Batalyon. Nihil korban ditemukan.


-------


"Zein.. kandungannya sangat lemah. Tolong tanda tangani surat ini untuk menguatkannya lagi" Zein menerima surat pernyataan dari Farhan dengan tangan gemetar. Akhirnya ia menandatangani dengan berat hati.


Yara yang sudah di beri suntikan obat bius sudah tidak mengingat apapun lagi. Dalam tidurnya Yara merasa ada suara anak kecil yang memanggilnya. Yara sangat senang melihatnya.


"Mama kembalilah pulang. Aku senang dan bahagia disini" ucap anak kecil itu.


"Di mana mas Rival?" gumam Yara.


Yara duduk di sebuah bangku panjang di pinggir sungai.

__ADS_1


"Papa berada di jembatan sebelah sana. Aku sudah bertemu papa"


"Mas Rivaaalll" Yara tersadar dari tidurnya, sudah ada keluarganya disana. Hanya Zein yang duduk di sofa dalam pelukan Mutia. Zein merasa sangat bersalah.


Ponsel Zein berdering.


"Ijin..selamat siang. Lapor..telah di temukan seragam atas nama 'R. Alfario' " laporan seorang anak buah.


"Iya..itu nama dari Lettu Rivaldi Alfario. Itu pakaian kakak ipar saya" jawab Zein tegar meskipun hatinya menangis.


"Papa...mas Rival belum juga kembali. Aku harus apa pa???" teriakan Yara menjadi jadi. Randy terdiam merasakan bagaimana Naya dulu harus mengalami hal serupa saat mendengar dirinya tak bernyawa.


***


Kantor menaikan bendera setengah tiang. Yara meminta pulang untuk mengikuti prosesi penghormatan terakhir pemakaman para prajurit yang gugur.


Yara memaksa untuk pulang dan tidak ingin melihat rumah sakit, padahal kondisi seharusnya ia mendapatkan perawatan intensif.


"Kalau kamu tidak kuat lebih baik di rumah saja!" bujuk Naya.


"Tidak ma, aku harus memastikan itu mas Rival atau bukan" ucap Yara sekuat mungkin. Di peluknya si kecil Arben yang belum tau semua kejadian ini.


Peti jenazah keluar dari dalam ambulans. David memakai seragam upacara menghadiri 'pemakaman'. Di lihatnya Yara berdiri menopang tubuhnya dengan susah payah memeluk foto Rival dan terisak kuat.


"Bang.. maaf mengganggumu tengah malam. Aku titip istriku sebentar saja!" ucap Rival.


"Kau gila.. apa kau tidak takut aku akan menikungmu setelah apa yang terjadi antara kita?" selidik David.


"King cobra pasti sudah memikirkan baik dan buruknya berhadapan dengan singa gunung macam kau bang" sinis Rival.


"Kau ini meminta tolong tapi kaku sekali padaku" David berpura pura kesal.


"Tolong jaga Yara sebentar saja untuk ku. Hanya Abang saja yang free disini. Papa sudah pusing dengan kejadian belakangan ini" suara Rival bagai menjatuhkan harga dirinya.


"Haaahh..kau ini" David pun merasa berat karena ia tau resikonya pun berat kali ini.


flashback off


"Yang kuat dek!! Rival pun tidak akan sanggup melihatmu seperti ini" David tak tahan melihat kerapuhan wanita yang masih ada dalam hatinya.


Peti jenazah yang tertutup bendera itu melintas di hadapan Yara. Yara menghambur menabrak peti mati itu. Di tepisnya foto Rival hingga jatuh dan pecah. Yara menggenggam bendera di atas peti mati itu.


"Mas Rivalku belum meninggal, Jangan taburkan bunganya!!! Jangan beri namanya di sini!!!!" teriak Yara histeris. David memeluk menenangkan Yara.

__ADS_1


"Sudah dek..sudah!! Ayo istighfar..Ingat Arben..ingat kandunganmu!!" bujuk David.


"Mas Rival jahat.. kenapa mas Rival meninggalkanku sendiri" teriak Yara.


"Tolong ambilkan kursi!" perintah David. David membimbing Yara untuk duduk. Dia sama sekali tidak melepaskan tangannya dari Yara, begitupun Yara yang tidak melepas genggaman tangan itu.


Andaikan aku bisa memelukmu dek. Tapi kini takdir kita berbeda. Kamu bukan milikku, dan mudah mudahan perasaan mu benar. Jika Rival kembali, baru aku akan melepaskan tanganmu ini.


-------


Tembakan di area makam terdengar kencang. Liang lahat itu telah tertutup tanah dengan sempurna. Yara jatuh memeluk papan nama di makam itu. Tangisnya kembali pecah.


"Ini bukan kamu mas. Mas jahat mempermainkan ku seperti ini. Aku sangat membencimu mas Rival" teriaknya sekuat mungkin. Yara memercing merasakan perutnya begitu sakit, Yara pingsan memeluk tanah yang sudah tertutup bunga. Zein tak kuat melihat kakaknya hingga badannya pun harus di sangga oleh anak buahnya.


"Ya Allah dek, bagaimana aku harus bersikap?" lirih David, ia mengangkat tubuh Yara namun ia merasakan sesuatu saat menggendong Yara.


"Astagfirullah..cepat antar saya ke rumah sakit" panik David.


"Ada apa bang?" tanya Zein.


David tidak menjawab, Zein pun melihat kepanikan dari wajah David. David menunjukan tangannya yang terkena noda darah.


"Bagaimana ini Zein" David memejamkan matanya dengan gusar.


Zein begitu syok hingga tidak bisa berkata kata.


-------


"Apa katamu??" Zein nampak kaget.


"Saya titip kak Yara sebentar bang" ucap Zein sambil berlari keluar rumah sakit.


"Tunggu Zein!!!!" Teriak David tapi Zein terburu buru dan tidak mendengarnya lagi.


David menendang kursi ruang tunggu dengan keras.


"Mengapa kalian semua melimpahkannya padaku. Aku bisa saja memutuskan yang terbaik untuk Yara. Tapi dia bukan siapa-siapaku saat ini" umpat David kesal.


"Pak David.. ada gawat darurat" sapa seorang dokter wanita.


.


.

__ADS_1


__ADS_2