
Yara selesai mandi pagi dengan menggigil. Rival sudah berangkat lebih dulu. Air pagi ini membuat tulangnya mati rasa dan berat terasa membalut tubuh. Untuk terakhir kalinya Rival melarang Yara pergi karena khawatir melihat Yara yang tidak sehat.
***
Rival memakai seragam khas yang membuatnya semakin terlihat tampan. Para anggota sudah siap dengan yel mereka. Tampak barisan Batalyon H datang, ada David mengarahkan anak buahnya. Bagaimanapun juga David adalah kapten disana.
"Bang, Danyon memanggil Abang" tegur Zein membuyarkan pikiran Rival.
"Cckk..ada apa lagi sih" kesal Rival.
"Mana Mutia?" tanya Rival lagi
"Duduk disana perutnya sudah besar, sudah 6 bulan kandungannya" Zein menunjuk Mutia yang duduk di bagian depan bersama istri perwira lain.
"Ok..aku ke Danyon dulu"
-------
"Ada Kapten David disini. Kamu jangan gegabah membuat keributan seperti kemarin. Hari ini akan ada panglima" Danyon mengingatkan Rival.
"Saya tidak akan melakukan apapun kalau David bertingkah sewajarnya dan tidak sok menampakkan wajah rindu di depan istriku"
"Om yang akan menamparmu lebih dulu kalau kamu ribut masih memakai seragam ini" bentak Danyon.
"Saya juga akan menghajar dia kalau sampai mereka mengingat masa lalu di depanku" ucap Rival keras kepala dan tidak mau tau.
"Astagfirullah.. bagaimana caramu di lahirkan!! Kenapa aku bisa punya keponakan sekeras batu sepertimu!! Ingat Rival, masa lalumu tentang Larasati juga meninggalkan bekas di hati Yara hingga kamu kehilangan anakmu" Rival seketika duduk dan lemas mendengar penuturan On Suherman.
Hati Rival begitu sakit mengingat bayi yang ada dalam kandungan Yara harus meninggal dalam usia 23 minggu. Bayi yang sudah hampir sempurna, mungil harus dia relakan pergi karena masa lalu bersama Larasati.
Rival menutup wajahnya merasa ngeri dan tidak ingin mengingat itu. Kehilangan anaknya dan Yara yang terbaring lemah saat itu membuat hatinya seribu kali lebih sakit.
"Tahan emosimu!!! kalau boleh om tau, Kenapa kamu begitu posesif pada Yara" Danyon meredam suasana karena di lihatnya Rival terlihat sangat tertekan.
"Aku dan Nathan berteman sejak awal bangku SMA. Kami bertemu dengan Larasati. Entah siapa yang menyukai lebih dulu. Aku berpacaran dengan Larasati. Aku yang suka kehidupan 'liar' mulai berkurang karena permintaan Larasati. Enam tahun lamanya aku berpacaran hingga nasibku bisa bekerja di Bogor lagi. Malam itu aku ada tugas luar, aku menitipkan Larasati pada Nathan. Empat bulan setelahnya terjadilah awal mula peristiwa buruk itu" jelas Rival.
tok..tok..tok..
__ADS_1
"Ijin Komandan. Persiapan akhir tinggal menunggu Komandan" lapor ajudan memutus percakapan Rival dan Danyon.
Danyon dan Rival melihat Yara berjalan cepat seolah menghapus air matanya.
"Val..apa Yara tadi mendengar kita bicara?" Danyon mencoba menerka.
"Semoga saja tidak om" ucap Rival ragu.
"Ijin Komandan..Danki.. saya kira ibu Danki dari sini, sebab dari tadi Bu Danki berdiri di depan pintu" Ajudan menjelaskan.
Rival dan pak Suherman saling bertatapan.
"Tidak ada waktu sekarang! kita harus bekerja dulu" Rival mengangguk menyetujui pak Suherman.
***
Yara menyandarkan kedua tangannya pada sisi meja yang penuh hiasan dan makanan di dalam gedung. Tubuhnya gemetar.
David yang tidak sengaja melihat Yara, berniat menolong karena di ruang itu hanya ada beberapa orang saja tapi tidak ada satupun yang peka dengan kondisi ibu Danki mereka.
Langkah lari kecil David mendekati Yara.
"Mas Rival sibuk dengan Danyon tadi. Mungkin sekarang ada di lapangan"
"Aku panggil Rival sekarang" David.
"Jangan mas.. aagghh..hhkk " Yara menyeimbangkan badannya. David menyangga tubuh Yara.
"Mas..tolong bantu saya!! tolong cari Lettu Rival, katakan padanya istrinya sedang sakit!!!" David memberi perintah.
"Siap Dan" seorang Praka mencari Rival secepatnya.
-------
Rival berjalan mencari Yara setelah selesai mengarahkan pasukan. Tak lama berselang, Rival melihat David sedang menemani Yara yang menyandarkan punggung dan kepalanya pada sofa. David duduk di sebelah Yara sambil memainkan ponsel.
"Aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu datang kalau kamu masih belum sehat" ucap Rival datar dengan nada meninggi. Seketika David terkejut dan langsung berdiri.
__ADS_1
"Kenapa mas selalu ingin marah padaku" Lirih Yara.
"Aku tidak marah, aku hanya ingin kamu lebih banyak di rumah, minimal sampai kamu sehat" Rival menahan diri yang sebenarnya ia sudah merasa tidak nyaman melihat David duduk di sebelah Yara tadi.
Praka yang tadi sempat mencari Rival akhirnya menghadap di hadapan Rival dan Rival sudah tau alasannya.
"Saya sudah tau istri saya tidak sehat, 30 menit lagi panglima akan datang, lebih baik semua kesana" Rival menggandeng tangan Yara agar berjalan bersamanya. David menggeleng kepala melihat Rival, tapi dalam hati ia juga merasa tenang.
***
Riuh yel menyambut kedatangan panglima. Ibu panglima datang menyalami satu persatu istri pengurus yang menyambutnya, tiba saat berhadapan dengan Yara, Ibu panglima menegurnya.
"Dengan siapa ini?"
"Ijin ibu, Saya istri dari Lettu Rivaldi Alfario" jawab Yara menyambut ibu panglima yang lembut menyapanya.
"Apa Bu Rival sedang tidak sehat? Yang mana suaminya?" tanya Ibu panglima melihat raut wajah Yara.
"Ijin.. yang sedang bersalaman dengan bapak"
Ibu panglima tersenyum mengusap lengan Yara, ibu panglima pun berjalan mendekati bapak panglima.
-------
Acara berlangsung lancar hingga saatnya acara santai setelah ramah tamah. Yara gelisah tidak nyaman duduk di sana sedangkan Rival masih menyiapkan acara pamit panglima. Yara ingin keluar dari ruangan tapi tidak enak rasanya seolah mengabaikan panglima.
Rival mengurus kegiatan terakhirnya dengan pikiran melayang layang, tapi pekerjaan harus ia selesaikan dengan total. Rival melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Ijin Komandan, kotak kenang-kenangan khusus untuk panglima tidak ada" lapor seorang anak buah.
"Bagaimana kerja kalian ini, saya sudah mengarahkan berulang kali agar meja kotak kenang-kenangan itu di letakan di sisi gedung agar tidak tercampur kotak yang lain" Rival akhirnya keluar ruangan dengan kesal dan mencari kotak itu secepatnya.
Yara menutup matanya menahan badan yang semakin lelah. David melihat Yara di dalam sana tidak tahan untuk tidak berbicara.
"Val, kalau aku jadi kamu..aku akan membawa Yara keluar dari ruangan itu"
"Tidak perlu Abang arahkan juga saya ingin membawanya" jawaban Rival tajam sambil berlari ke arah panglima yang akan keluar gedung. David mengikuti Rival.
__ADS_1
.
.