Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
42. Meriang


__ADS_3

Malam ini Rival, Nathan dan Yara berunding akan mengajak Vena ikut serta. Nathan ingin merawat anaknya sendiri karena ingin menebus semua kesalahannya. Awalnya keluarga sangat menolak tapi apalah daya, dengan tidak ikut Nathan juga keadaan Vena tidak jauh lebih baik.


Keluarga hanya meminta waktu tiga hari bermain bersama Vena karena tiga hari lagi Nathan akan membawanya pergi, Hanya malam ini saja Nathan membawa Vena pergi karena gadis kecil itu tidak ingin berpisah dengan papanya.


"Mau makan apa sayang? kamu mulai tidak mau makan lagi" tanya Rival saat menyetir mobil yang di sewanya.


"Nggak mau mas, aku nggak selera makan" jawab Yara malas masih mengingat kejadian di rumah Mbak Ira tadi.


Rival tak tau lagi bagaimana cara membujuk Yara yang mulai tidak mau makan lagi. Vena turun dari pangkuan papanya dan mengusap perut Yara. Vena nampak sangat sayang pada Yara. Yara mengerti Vena juga mulai sayang pada calon 'adiknya', Yara menyentuh lengan Rival.


"Aku mau makan mas, tapi yang pedas itu" tunjuk Yara pada sebuah rumah makan.


"Itu pedas sekali, orang Banyuwangi masakannya rata-rata pedas" tolak Rival. Mendengar itu Yara melipat tangan di depan dada dengan bibir manyun andalan ketika Yara ngambek. Rival mengelus dadanya menyerah kalah.


"Ya sudah ayo!"


--------


Di tengah acara makan Rival merasakan pusing yang drastis dan mulai tidak enak badan. Rival merasa meriang. Ia menyudahi makannya dan menunduk di meja dengan tangan sebagai alas.


"Kamu kenapa Val" tanya Nathan yang melihat Rival menunduk sambil menyuapi Vena soto ayam.


"Kepalaku sakit sekali, sepertinya aku nggak sanggup menyetir mobil"


"Ya sudah biar aku yang bawa"


Yara melirik ke arah Rival. Meskipun Yara masih merasa sebal pada Rival, tapi melihat Rival sakit membuatnya merasa tidak tega juga. Yara memijat bahu suaminya untuk mengurangi rasa sakit


Setelah kenyang mereka pun kembali pulang. Vena juga sudah mengantuk setelah selesai makan.


-------


Rival baru mengantar Yara buang air kecil ke tempat mandi di belakang rumah. Yara sangat takut berjalan di jalan setapak yang gelap di malam hari. Hanya penerangan lampu redup di tempat mandi itu.


"Dek, buatkan mas tato bisa nggak?" tanya Rival.

__ADS_1


"Tato mas???" Yara tidak paham maksud Rival.


"Iyaa..bahasa Inggrisnya di kerokin"


"Oohh bisa mas" jawab Yara tersenyum menunduk membuat Rival gemas melihat istrinya yang lugu.


Coba aku nggak tepar dek, kamu pasti kusikat habis


---------


Nathan dan Vena sudah masuk di kamar sebelah kamar Rival sedangkan Mbah Putri dan Mbah Kakung sudah tidur di kamar depan. Kamar Rival hanya bersekat bilik bambu dengan kamar Nathan hingga ia harus berbisik pada Yara jika ingin bicara. Lampu kamarpun sangat redup remang-remang.


Yara gelisah berada di tempat baru karena ia takut gelap sedangkan Rival sangat suka tidur dengan lampu gelap karena lebih nyenyak saat beristirahat. Rival mengecek semua pintu dan mematikan lampu lalu kembali ke dalam kamar


"Mas aku takut gelap" Yara kembali pada mode aslinya yang selalu manja setiap ada Rival.


"Nggak usah takut ada mas disini! Kamu kenapa pakai baju begitu dek???" mata Rival langsung cerah melihat Yara memakai hot pants hamil dan tank top menunjukkan lekuk tubuh indah dengan perut sedikit membuncit. Rival menelan ludahnya dengan kasar.


"Aku lupa membawa semua baju tidurku" Yara memainkan kakinya dan tangannya sibuk menutupi tubuhnya yang terlihat.


Yara merasakan badan Rival yang demam, wajahnya juga pucat. Yara segera menyelesaikannya. Tak lama wajah Rival perlahan memerah dan tidak begitu pucat lagi. Yara turun dari tubuh Rival setelah suaminya memintanya turun. Rival membalikkan badan dan bernapas lega.


"Naik di atasku lagi dan buat tato di dadaku" perintah Rival. Yara masih bengong.


"Lagi?? Kalau aku duduk di atasmu berarti aku harus duduk di......" Yara bingung menggigit kecil bibir bawahnya.


"Iyaaa sayang..sudah cepat!" Tanpa sadar suara Yara terdengar di kamar Nathan yang sedang membelai rambut Vena. Nathan mengulum senyum mendengar keluguan Yara.


Yara merasa tidak nyaman pada tempatnya duduk karena Rival yang bereaksi, gerakan Yara malah semakin membuat Rival panas. Rival sudah menahannya sejak siang tadi, bahkan saat ini dia juga sedang meriang. Tapi Yara yang tidak bisa diam di 'tempat duduknya' membuat Rival terganggu.


"Kamu jangan gerak terus dek! cobra saktimu jadi pengen keluar sarang nih" ucap jujur Rival sambil memejamkan mata karena masih merasa pusing.


"Mas khan lagi sakit. Mana kuat?" polos Yara seolah menantang Rival. Rival langsung melotot membuka matanya lebar. Nathan yang mendengarnya tertawa cekikikan menutup mulutnya dengan bantal.


Semoga saja Nathan sudah tidur dan tidak mendengar Yara yang mengoceh.

__ADS_1


Rival langsung duduk dan membungkam bibir Yara dengan ciuman mautnya. Yara kaget saat Rival duduk tepat di hadapannya. Yara menjadi sedikit terangkat duduk di pangkuan Rival.


"Aku ini laki-laki..kalau sudah begini, tanggung untuk tidak begitu" jawab Rival gemas. Yara hanya mengkedip kedipkan mata karena tidak paham maksud suaminya.


"Kamu ini kebiasaan banget sih sayang" kesal Rival sudah sampai di ubun-ubun. Suaranya sudah sangat berat. Walaupun tubuhnya menggigil tapi birahi yang membuncah membuatnya melupakan kalau ia sedang tidak enak badan.


Perlahan Rival memulai lagi dan Yara mengerti keinginan suaminya. Malam ini Yara melayani kebutuhan suaminya tanpa menyadari di kamar sebelah ada pria yang sedang tersiksa mendengar suara mereka. Menutup telinga pun tak ada gunanya.


-------


Rival baru merasakan betapa berkali lipat rasa lelah yang ia rasakan, napasnya terasa hampir putus, kepalanya terasa berat dan perutnya sakit seperti di aduk. Rival tidak tega membangunkan Yara yang sudah terlelap lelah karena menuruti keinginannya.


Rival mencari sendiri obat di dalam kemudian meminumnya dengan segelas air di sampingnya lalu kembali tidur dengan memeluk Yara.


***


"Suamimu kenapa? apa dia tidur lagi" tanya Mbah Putri lembut.


"Meriang Mbah, mas Rival kecapekan" jawab Yara yang tengah berada di dapur membantu si Mbah sejak subuh tadi.


Tak disangka Rival sudah bisa bangun dan sudah baikan ikut duduk bersama Yara dan si mbah di dapur.


"Kamu kenapa Val? apa masih sakit? ini Kakung ambilkan bahan untuk membuat jamu agar sakitmu cepat sembuh" tampak Nathan ikut di belakang Mbah Kakung dengan senyum penuh arti melihat Rival.


"Lho..Nathan sudah bangun. Nyenyak nggak tidurnya? Maaf rumah Si mbah begini adanya" ucap Mbah Putri yang melihat Nathan membawa bahan jamu.


"Nyenyak Mbah, hanya sempat terbangun sedikit mendengar suara cobra sakti mendesis" sontak Rival tersedak kopi yang sedang di minumnya sedangkan Yara gugup hingga menjatuhkan tutup panci tidak berani menoleh ke arah Nathan.


"Astagfirullah..kenapa bisa ada ular di sekitar sini kung. Harus kung cari dan usir pergi" ucap Mbah Putri ketakutan.


Rival tetap menunduk dengan wajah yang memerah sambil mengumpat dalam hati karena ia menyadari semalam dirinya memang begitu ganas menyalurkan hasratnya walaupun dengan sangat hati-hati.


.


.

__ADS_1


__ADS_2