
Yara keluar dari gedung. Para perwira beserta istri berdampingan dan bersalaman dengan panglima. Panglima dan Ibu panglima berhadapan dengan Rival dan Yara saat ini.
"Jaga kesehatan dan terima kasih atas kerja keras ibu Rival menyiapkan acara ini, saya sangat terkesan dengan usaha Bu Rival walaupun dalam keadaan tidak sehat" pesan ibu Panglima.
"Siap ibu, terima kasih banyak" senyum Yara yang tidak mampu lagi berbicara banyak.
"Lettu Rival" tegur Panglima
"Siap"
"Jaga istri sebaik mungkin, kasihan istrimu itu sudah lelah" lanjut panglima.
"Siap laksanakan"
Suara yel terus mengiringi hingga panglima berjalan menuju mobil dan tidak nampak lagi. Yara berjalan pelan menuju kursi meja tamu.
"Kami juga pamit pulang Val"
"Siap bang, hati hati di jalan" Rival menegakkan badan sekilas.
"Jaga Yara atau aku akan mengambilnya darimu" senyum David berbisik dengan sengaja. Ucapan David membuat Rival yang sudah lelah menjadikan darahnya meninggi. Rival memegang pergelangan tangan David.
"Masa lalu adalah masa lalu, sekarang aku masa depan Yara" seringai Rival setenang mungkin. David tersenyum melihat sifat Rival.
Tak lama beberapa ibu melihat Yara menelungkup pada meja. Nafasnya tersengal. Yara meremas kuat baju di dadanya.
"Pak, ada baiknya ibu segera di bawa pulang" Bu Ridwan menegur Rival. Rival tak peduli lagi pada David dan berjalan menuju Yara yang tidak karuan.
"Sebenarnya kamu ini kenapa dek?? Tadi sudah kubilang jangan berangkat!!" Rival masih terbalut rasa kesal sambil membantu Yara berdiri.
"Bisakah jangan marah padaku terus mas, aku tidak kuat lagi" ucap Yara pelan karena sesak. Melihat Yara seperti ini rasa tidak tega tentu saja hadir dalam hati seorang suami.
__ADS_1
"Ya Allah ibu, ibu tidak apa-apa?" tanya Bu Syaiful melihat sedikit noda di rok Yara. Rival ikut melihat rok belakang Yara.
"Kamu ini, apa tidak pakai pembalut tadi???" gerutu Rival terpaksa melepas pakaiannya dan menutup Rok Yara.
Yara terkejut dan terisak kuat memegang lengan Rival dengan sisa tenaganya menahan sakit. Tubuh Yara ringan ambruk di hadapan Rival. Rival terkejut menangkap pinggang Yara dan memeluknya.
"Mas....tolong selamatkan anakmu" Rival mengeryit berusaha memahami perkataan Yara.
"Apa maksudmu?" suara Rival ragu.
"Aku...hamil mas" jantung Rival berdetak kencang cemas berada pada situasi ini.
"Ulangi dek!!! ulangi lagi!!!" mata Rival berkaca kaca menepuk pipi Yara. Tapi Yara sudah tidak sadar.
"Ibu sedang hamil pak. Kemarin ibu juga baru tau kalau ibu sedang hamil. Ibu seharian mual, kami mau memanggil bapak tapi ibu melarangnya karena pekerjaan bapak sangat banyak" ucap Bu Ridwan.
"Astagfirullah dek, kamu anggap apa aku ini. Kenapa kamu nggak bilang" Rival ikut menitikkan air mata lalu mengangkat Yara.
"Kenapa kak Yara bang???" Zein panik tiba tiba Rival menggendong Yara masuk ke dalam mobil.
"Abang....ada apa dengan kakakku??" teriak Zein melihat wajah pucat Yara. Mutia menarik lengan Zein agar tidak berteriak lagi. Wajah Rival saat ini bagai mayat hidup.
"Ini ada darah bang?? Kak Yara kenapa bang????" Zein semakin syok.
"Diamlah Zein. Aku ini berusaha menyelamatkan anakku!!" Rival tak bisa lagi menahan air matanya. Mobil melaju kencang menuju RST.
"Cepat Hen!!!!!!" bentak Rival pada Pratu Henry karena panik.
***
Rival terus memegang tangan Yara tak ingin meninggalkan Yara sendiri. Yara sudah membuka mata dengan selang infus menancap di punggung tangan.
__ADS_1
"Alhamdulillah pak, kandungan ibu baik baik saja. Cuma memang ada gejala lemah kandungan" senyum dokter.
"Allahu Akbar.." Rival tak kuasa menahan haru. kakinya lemas tak bertenaga. Rival duduk menggenggam tangan Yara, mengusap wajahnya dengan lega.
"Kamu satu satunya wanita yang bisa membuatku seperti ini dek" Rival menciumi Yara dengan sayang. Rasa bahagia membuncah kuat dalam diri Rival.
"Apa saat kehamilan Larasati perhatianmu seperti ini mas? Bukankah sampai kelahiran anaknya mas selalu menemaninya!" Yara terbawa perasaan melihat wajah Rival sebahagia itu. Rival tertegun mendengar perkataan Yara. Mengapa istrinya itu tiba tiba membahas Larasati. Dokter dan perawat keluar dari ruangan itu.
Zein mendekat membelai rambut Yara sambil menggandeng Mutia. Rival menyerahkan kursinya agar Mutia bisa duduk.
"Aku memang belum cerita dan tidak ingin cerita karena takut tidak bisa menjaga perasaanmu, terlebih sekarang ada anakku. Aku pun tidak mau menyakiti hati ibunya. Masa lalu tetaplah masa lalu sayang..sama sepertimu saat mencintai bang David dulu" Rival berat mengutarakan isi hatinya walaupun sudah tidak berbekas lagi rasa cinta dan sayang untuk Larasati.
"Katakan mas, ceritakan padaku!!!! Aku mendengarnya tadi..bahkan setiap pembicaraanmu selalu ada pembahasan Larasati dan Larasati lagi bahkan sampai tidurpun mungkin masih ada Larasati dalam hatimu" teriak Yara langsung bangun memukuli Rival, tak ada perlawanan sedikitpun dari Rival sampai akhirnya Rival memeluknya.
"Aku hanya tidak ingin mengingat saat dia mengandung anak Nathan. Aku yang melamar dia..aku yang mencintai dia, aku pernah berharap anak yang di kandungnya adalah anakku, tapi dia berkhianat, semua hancur. Dua hari sebelum aku menikah dengannya.. Larasati mengaku bahwa ia hamil anak Nathan, tapi Nathan tidak mengakuinya dan menuduhku ayah dari anak yang di kandung Larasati" semakin kencang Rival memeluk Yara dengan air mata yang sudah menetes.
"Kamu sangat mencintainya mas????"
"Dulu sayang, itu dulu. Sekarang hanya ada kamu.. sungguh" Rival merasa ketakutan.
"Mas bohong...tidak mungkin sedalam itu kalau tidak pernah terjadi apapun antara mas dan Larasati" Yara meronta dari pelukan Rival. Dada Rival sangat sesak melihat istrinya seperti ini. Keadaan Yara sangat memburuk. Apalagi hormon kehamilan membuat emosi Yara tidak stabil.
Mutia terisak ketakutan memeluk pinggang Zein hingga perutnya kram. Tadinya Zein menahan emosi sekuat mungkin karena ada dua wanita yang harus ia jaga kondisinya. Tapi melihat Yara seperti itu emosinya ikut naik.
"Aku harap ucapan bang Nathan tidak benar"
"Ucapan apa Zein, jangan mengada ada"
.
.
__ADS_1