Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
99. Yang terabaikan


__ADS_3

uhuuukk..hkk.hhkkkk


"Kenapa mas?" Yara mengusap dada Rival.


"Mas terlalu kuat menghisap rokok di bukit tadi" ucapnya ikut meremas dadanya sendiri.


Yara memukul paha Rival dengan kencang.


"Kenapa mas merokok??" kesal Yara.


"Nanti saja tanyanya. Mas capek dek" keluhnya.


-------


Sampai di rumah Yara memandikan Arben di bantu Rival. Rival tidak membiarkan Yara menggendong Arben yang gemuk itu. Pria kecil itu belum mau bangun walaupun Rival sudah mengganggunya sejak tadi.


"Mas, kenapa dia belum bangun juga?" cemas Yara.


"Nggak apa-apa dek. Capek dia main dari pagi"


"Tapi Ben belum makan mas"


"Kalau bangun nanti cepat kasih dia makan. Kalau dia lapar pasti cepat bangun" jawab Rival.


"Anakmu ini tadi tergantung di dahan pohon sambil makan madu dari sarangnya"


"Haaahh.. serius mas??" Yara tidak percaya dengan kelakuan putranya.


"Masa mas bohong! Mas menghisap rokok untuk menghalau lebah itu agar tidak menyengat si kakak" jawab Rival.


"Tapi tangan Arben masih kena sengat mas!"


"Itu sebelum mas datang kenanya. Waktu mas angkat ke atas sudah bengkak begini" jelas Rival.


"Sudah mas!!" Yara sudah selesai memandikan Arben, Rival pun mengangkat badan Arben keluar dari dalam bak yang sudah tidak muat lagi di badannya.


"Ya Allah.. ampun dah... lengan papa keseleo ini Ben!!!!!" gerutu Rival membawa Arben ke dalam kamar.


Rival menidurkan Arben lalu memakaikan popok dan bajunya.


"Anak bujang papa. Dasar nakal, papa sunat kamu nanti" Rival mencubit pelan perut Arben lalu dengan cekatan memakaikan baju Arben.


"Iihh.. nggak mau lihat sunat. Sama mas aja. Ngeri.. aku nggak berani lihatnya"


Tawa Rival tak bisa di tahan melihat ekspresi takut di wajah Yara.

__ADS_1


"Kok nggak berani itu lho. Enak aja kamu mau lihat jadinya aja"


"Aahh.. pokoknya nggak mau. Aku takut. Lihat yang sudah jadi aja beres"


"Nakal kamu ya. Makanya itu perutmu sampai begitu, itu hasil dari mau tau jadinya aja"


Yara melirik kesal melihat Rival yang tertawa.


"Ini bukan karena aku mau tau jadinya, tapi mas yang nggak sabar nunggu jadinya"


"Hmm.. mulai mancing-mancing. Setahun nahan kangen itu berat dek. Sudah ketemu istri masa mas anggurin?" Rival memainkan alisnya dengan licik menggoda Yara.


"Itu berarti mas yang nakal. Bukan aku"


"Mau tau nakalnya mas ya? Mau di pamerin lagi hasil jadi yang kamu ributkan??" Rival menubruk Yara agar tiduran di sampingnya. Ia sudah terlalu gemas melihat Yara.


***


Pagi ini Rival akan memakai seragam loreng kebesarannya. Hari ini pangkatnya resmi naik satu tingkat. Tanggung jawab Rival akan semakin besar nantinya.


-------


Di tempatnya David juga persiapan naik pangkat.


"Bunda.. apakah bunda tidak keberatan ikut ayah keluar Kalimantan? ayah akan pindah ke Jawa ikut pangkat ayah"


"Terima kasih ya Bun" David mencium manis kening Indira. kehamilannya sudah jalan lima bulan. Saat ini yang di rasakan David hanya cemas. Melihat Indira berjalan kesana kemari menyiapkan seragam yang akan David pakai.


"Bun..apa rasanya perut besar begitu? apa sakit?" tanya David penasaran.


"Nggak yah"


"Apa bunda tidak merasakan sakit saat adek menendang perut bunda?" David terus bertanya.


"Nggak ayah, nggak ada rasanya. Hanya kadang sedikit capek aja" jawab Indira santai sambil menggantung pakaian David di dinding kamar.


"Apa bunda cinta ayah?"


"Kenapa tanya itu yah? Ayah ada-ada saja" Indira heran dengan sikap David.


"Ayah takut perlakuan bunda ke ayah hanya sebatas bakti dan kewajiban bunda pada suami tanpa berlandaskan cinta"


"Ayah sendiri?? Apa ayah sungguh mencintai bunda? Apakah ayah benar menyayangi bunda dan sudah melupakan cinta ayah untuk mbak Yara?"


David tersentak bingung harus menjawab apa. Hatinya mengatakan cinta pada Indira. Tapi mengapa mulutnya sulit berucap. Bayangan Yara sudah hilang dari ingatannya, tapi tak bisa di pungkiri masih membekas dalam hatinya. Indira tersenyum pahit, namun dalam hatinya sangat sakit.

__ADS_1


"Bunda ingin ayah tulus mencintai bunda. Maaf kalau bunda tidak tau diri. Bunda mengharapkan lebih dari ayah" Indira berjalan keluar kamar sambil memegang perutnya.


Astagfirullah.. istriku sampai berbicara seperti itu. Ini benar-benar teguran yang keras untuk ku. Mungkin selama ini jiwaku tidak sepenuhnya menganggap dia ada.


David berdiri dan berjalan menyusul Indira yang sedang membersihkan dapur dan memasak makanan di pagi buta seperti ini. David mengingat kapan terakhir kali menyentuh indira. Ia tercengang menyadari sudah dua bulan ia tidak memberi hak Indira.


David mendekap Indira dari belakang. Bingung mengatakan apa, banyak hal yang membuat David merasa sangat bersalah.


"Bunda tidak bisa di bandingkan dengan mbak Yara. Yang mungkin pintar melayani hasrat ayah, yang tau keinginan ayah, sabar dan tidak mengharapkan banyak hal seperti bunda" Indira menahan tangisnya.


"Cukup Bun" David menghadapkan Indira agar bisa melihat ke arahnya.


"Jangan pernah bunda membandingkan diri dengan Yara. Dalam hal ranjang, ayah tidak tau seberapa pintar dia melayani suami. Yang ayah tau, hanya bunda yang bisa memenuhi semua kebutuhan ayah. Jangan tanyakan hal yang memancing emosi bunda. Ingat anak kita Bun"


"Ayah bohong khan? juga kalau ayah ingat anak, kenapa ayah tidak bisa melupakan mbak Yara" sebenarnya Indira menahan rasa sesak dalam dada, ia tidak ingin David melihat sisi lemahnya.


"Demi Allah ayah tidak bohong. Kalau sekedar bermain dan menyentuh sekedar untuk mengurangi rasa itu, iya pernah. Suami istri saling melihat, iya..ayah akui pernah. tapi melakukannya nggak Bun. Tidak usah bertanya lagi apa yang pernah ayah lakukan dengan Yara. Itu masa lalu, tidak akan mengiringi hati ayah sekarang. Ayah minta maaf.. ayah yang salah membuat bunda jadi seperti ini"


David merasakan dada Indira berdenyut kencang, nafasnya menahan tangis. David menyandarkan kepala Indira di bahunya.


"Bunda tau ayah masih mencintai mbak Yara. Bunda melihatnya di pelabuhan. Salahkah bunda mencintai ayah, Bunda menggantungkan hidup sama ayah"


"Ya Allah.. Maafkan ayah ya bun. Ayah belum bisa menjadi imam yang baik untuk bunda. Ayah tau bunda sangat kecewa. Sungguh Bun.. ayah tidak sengaja. Ayah sangat sayang sama bunda, Yara hanya bagian masa lalu"


Indira memeluk erat pinggang David, tangis lepas sekencang itu tidak pernah David dengar sebelumnya. Trenyuh dan merasa sangat bersalah melihat istrinya begitu terluka karena terabaikan.


"Sampai kapan bunda bisa selalu memeluk ayah tanpa takut bayang-bayang masa lalu ayah?"


"Selamanya Bun. Selamanya tubuh dan hati ini bisa bunda peluk"


"Apa sekarang ayah masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri?" David semakin tidak tega mendengar tangis Indira.


Indira beralih menatap mata David. Anggukan kecil tapi masih terlihat ragu menjawab pertanyaan David. David menghapus air mata yang membuat hatinya ikut sakit.


"Maaf bunda terlalu berharap lebih" sendu Indira membuat bola matanya tertunduk lesu.


"Semua hak bunda. Ayah sayang bunda, sangat mencintai bunda. Bagaimana ayah ungkapkan kalau sekedar kata tidak cukup untuk membuat bunda percaya?"


Indira berjinjit mencium bibir David.


"Bunda percaya ayah sudah tau, bagaimana caranya memperlakukan seorang istri"


Seketika itu David merasakan tubuhnya bagai tersengat aliran listrik tegangan tinggi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2