
Beberapa anggota menekan dada Rival beberapa kali. Belum ada reaksi apapun. Mata Rival yang belum terbuka merasa dingin di sekujur tubuhnya, kabut asap menutup seluruh penglihatannya.
"Papa kenapa disini?" tanya seorang anak perempuan padanya sambil menggandeng anak laki-laki kecil.
"Papa rindu kalian sayang" Rival memeluk putri yang nampak pada bayangannya.
"Tidak bisa pa, adik-adik dan mama menunggu papa di sana" tolak putrinya.
"Kamu akan sendirian nak"
"Tidak pa, aku bahagia disini. Aku bersama adik disini dengan tenang sebab papa dan mama selalu menghadiahiku dengan do'a" ucap putri kecil itu menggendong si baby boy.
"Lihat pa, adik sedang sakit disana. Papa harus pulang, kasihan mama" tunjuk gadis itu mengarah ke langit menunjuk pada siluet bayi laki-laki yang bernapas lemah dengan keadaan tidak sehat. Rival menunduk ragu, di dengarnya suara orang bergantian memanggil namanya, di sisi lain ada suara tangis Yara.
"Pulanglah pa, suatu saat kita akan bertemu.. "
Bayangan dua anak itu menghilang bersama kabut dingin yang mulai memudar. Rival merasakan tekanan pada dadanya.
------
Para petugas menekan dada lebih kuat hingga ia bisa membuka matanya.
"Let... bisa dengar suara saya. Coba buka mata Let" suara bersahutan membangunkan Rival.
"Yara.. Yara.....Yara...." ucapnya hingga matanya membuka sempurna dan mampu menyaksikan sisa puing tidak jauh dari tempatnya di sadarkan sekarang.
flashback off
"Mas nggak apa-apa?" tanya Yara dengan mata sembabnya.
"Mudah-mudahan sayang. Maaf mas belum sepenuhnya lupa kejadian kemarin" jawab Rival.
"Aku ngerti mas" jawab Yara menyandarkan kepala pada bahu Rival. Rafael yang menjadi supir mereka saat itu juga merasakan haru biru sebab ia tau persis beberapa kejadian yang pernah Danki nya alami.
***
Rival bersama beberapa anggota lain dalam beberapa mobil menyambangi rumah duka. Aura kesedihan masih kental terasa. Aroma bunga mengitari di sela langkah mereka. Yara mengapit erat lengan Rival.
__ADS_1
Suara tangisan masih terdengar jelas, mungkin sejak kemarin. Rival mengantarkan satu kotak pakaian bayi yang di beli almarhum Afrizal.
"Bu Afrizal. Saya mengucapkan belasungkawa yang sedalam dalamnya atas kepergian almarhum Lettu Afrizal. Saya menyerahkan amanat terakhir almarhum" Rival menyerahkan kotak besar itu kepada istri almarhum Afrizal.
Istri almarhum Lettu Afrizal menerima kotak tersebut lalu membukanya. Baju bayi laki-laki seperti yang di inginkan almarhum. Tangis istri almarhum terdengar ngilu ikut menyayat hati Rival. Ia tidak tega juga resah memikirkan Yara yang ikut memeluk istri almarhum.
Andaikan aku melihat mu dalam posisi ini sekali lagi. Mungkin ku minta agar arwah ku pun ikut hancur lebur, sebab saat nyawaku masih ada disini..melihatmu menangis saja sudah bagai neraka untuk ku.
Rival menghapus butiran bening di sudut matanya. Ia berjongkok membantu istri almarhum agar bisa duduk bersandar di dinding.
"Bolehkah saya memegang perut ibu?" tanya Rival berhati-hati pada istri almarhum. Istri almarhum mengijinkannya.
Rival memegang perut istri almarhum. Ada gerakan kencang di dalam sana. Rival semakin sedih di buatnya. Calon bayi berusia 29 minggu, sudah harus menjadi yatim.
Suara Rival begitu merdu menyayat hati membacakan Surat Yusuf dan Surat Mariam membuat para pelayat ikut hanyut dalam perasaan mereka masing-masing.
"Yang kuat ya nak, sungguh ayahmu begitu menginginkan yang terbaik untukmu, sangat sayang padamu. Kelak ingatlah ayahmu juga mengharumkan nama bangsa. Biarkan hanya tinggal nama, tapi dalam darahmu mengalir kuat jiwa seorang prajurit"
Rival berdiri sudah tidak tahan melihat banyaknya tetes air mata dalam ruangan itu. Rival menggandeng Yara keluar ruangan, tidak menginginkan Yara semakin larut dalam suasana.
"Mas sudah merasa lebih baik" tanya Yara dalam keadaan hati yang masih belum stabil.
Yara memeluk Rival di dalam mobil. Rival membalas pelukan itu dengan posesif dan akhirnya Rival mulai ikut menangis.
Ya Allah.. jika masih boleh aku memohon, Utuhkan lah rumah tangga kami, jauhkan dari segala cobaan dan marabahaya. Aku sangat mencintai wanita ini juga anak yang telah Engkau berikan di tengah kami.
"Aku sudah baik-baik saja mas. Mas yang tenang ya. Mas bisa lanjutkan tugas dengan tenang, Aku akan sabar menunggumu kembali" senyum tulus Yara pada Rival.
"Iya dek. Terima kasih atas semua pengertian mu"
Bagi seorang pria, senyum wanita adalah penyemangat, kekuatan dan sebuah keyakinan untuk mempertahankan suatu keputusan.
***
Malam hari David membawa Indira menemui Rival dan Yara di rumah. Indira dan Yara mengobrol di dalam rumah agar lebih santai. Sedangkan David dan Rival mengobrol di teras rumah.
"Maaf baru melihat mu sekarang. Bagaimana kondisimu?" tanya David.
__ADS_1
"Santai bang!! Alhamdulillah seperti yang Abang lihat, saya baik-baik saja" rona wajah Rival sudah terlihat lebih santai.
"Afrizal mengajak saya bertukar tempat. Jika pada saat itu saya yang naik lebih dulu. Mungkin saya saat ini pulang tinggal nama bang" jelas Rival.
"Takdir Tuhan tidak bisa di tolak Val"
"Apa Yara sudah lebih baik sekarang?" rasa penasaran David membuat Rival mulai tersenyum.
Abang adalah mantan terindah istriku.
"Kemarin sempat tidak sadar. Aku memutuskan ijin pulang melihat kondisinya. Kasihan anak ku juga bang. Aku sangat menginginkan anak ku itu. Tidak tega aku melihat kondisi Yara seperti itu"
"Pilihan yang sulit dalam hidup kita" jawab David.
"Jelas bang!! Jika di teruskan, aku tidak kuat bang. Istriku dalam kondisi mental terburuknya. Satu kali pengalaman belum sepenuhnya terhapus, sudah harus menerima hal pahit ini lagi. Tentara juga manusia, punya hati dan nurani. Ini tentang keluarga bang. tentang anak istri. Aku bisa saja tidak pulang. Tapi apa pertanggung jawaban ku sebagai sebagai suami? Istriku membutuhkanku"
David mengangguk membenarkan dan menempatkan posisinya pada posisi Rival jika hal ini terjadi padanya.
Mereka terdiam sejenak hingga David mengingat sesuatu.
"Huussttt.. Val, Indira sedang hamil" bisik David.
"Waahh.. serius bang? Cepat sekali Abang selesaikan" mata Rival melotot.
David menepuk dada dengan sombong.
"Apa yang tidak bisa di lakukan Kapten David?"
"Cckk..abang kesini hanya untuk mengacungkan kecongkakan?? Ya.. Percaya lah saya bang. Akhirnya usaha Abang siang malam berbuah manis secepat ini"
"Tapi kenapa Indira kuat dan tidak mual sama sekali ya Val? Apa ada yang salah?" heran David.
"Kondisi tiap wanita beda lah bang! Abang banyak bersyukur. Kalau sudah seperti Yara ini susah bang. Kita pun jadi cemas setengah mati. Nikmati saja proses jadi bapak"
David tertegun memahami penjelasan Rival.
"Kurasa mungkin lebih baik begini Val" David mengangguk yakin"
__ADS_1
.
.