
Pagutan Rival meringankan sedikit beban di hatinya, tak terasa menyengat si empunya tubuh untuk meminta penyelesaian. Rasa inginnya semakin kuat, yang semakin ingin menyelesaikan semuanya, tapi ia tak mau egois, ia tidak mau keinginannya mengganggu kesehatan Yara dan buah hatinya.
Rival tetap melanjutkan pagutannya meskipun sangat sulit mengekang sebuah rasa.
"Mas pengen?" tanya Yara yang merasakan napas Rival yang menggebu.
"Nggak" bisiknya pelan. Yara mengerutkan kening karena ia tau bagian tubuh Rival sudah menegang sempurna.
"Sungguh??" Yara seperti tak percaya. Biasanya saat sudah begini, Rival akan mengajaknya berhubungan badan. Tapi kali ini tidak seperti biasanya.
Rival mengangguk
"Heemb"
Dengan senyuman yang sulit untuk di artikan.
"Kita jemput Ben ke rumah mama ya! Mas kangen sekali. Besok mas sudah harus berangkat lagi"
"Iya mas. Mas makan dulu ya. Setelah itu kita pergi ke rumah mama"
***
"Jagoan papa" senyum sumringah Rival mengangkat tinggi Arben, menggelitik dan bercanda di ruang tengah rumah Randy. Randy memperhatikan canda tawa menantu dan cucu keduanya.
Semoga aku terus bisa melihat pemandangan ini dan Yara tidak akan pernah menangis lagi.
--------
"Bagaimana kelanjutan persiapan pendidikanmu" tanya Randy melihat Rival sedari tadi belum berhenti bermain dengan Arben.
"Akan ada test Keswa pa, kalau hasil testnya buruk, siswa tersebut tidak bisa melanjutkan. Termasuk aku pa"
"Sejauh ini papa lihat kamu masih stabil. Semoga bisa lolos test" meskipun Randy tampak biasa saja tapi tak bisa di pungkiri rasa takutnya masih tetap ada.
"Aamiin pa. Aku juga tidak ingin larut dalam suasana seperti ini"
"Aaaa... buka mulutnya lagi!!" Rival sedang menyuapi Arben makan siang.
"Sudah..." Arben berlari sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Sini habiskan dulu! Nanti papa belikan ice cream" Arben yang lincah itu langsung mendekati papanya minta untuk di suapi lagi.
"Masih kangen sama kamu nak.. tapi papa harus berangkat kerja" gumam Rival pelan.
"Papa dulu juga begitu kalau meninggalkan Yara dan Zein berangkat tugas. Papa sampai sengaja tidak menoleh lagi ke arah mereka. Kalau papa menoleh melihat anak-anak papa, pasti akan terasa semakin berat"
"Bagaimana pun beratnya, harus kita hadapi. Ini juga demi membahagiakan mereka. Aku kuatkan hati mencari nafkah hanya untuk mereka pa" senyum Rival sambil tangannya terus menyuapi Arben.
***
Jam 22.00 Rival sedang mempacking barang yang tidak seberapa banyak.
"Apa hanya itu saja yang akan mas bawa?"
"Iya.. memangnya mau apalagi?"
Rival memang tidak membawa banyak barang lagi dan saat pulang pun hanya membawa pakaian yang melekat di tasnya dengan tas kecil di punggungnya.
"Kalau kamu bisa mas bawa, lebih baik kamu yang mas bawa" goda Rival.
"Ya sudah mas, aku ikut saja"
"Kalau aku kangen bagaimana?" Yara pun tidak tahan untuk tidak menggoda Rival.
"Tahan rindu sebentar saja. Mas pasti cepat pulang. Tersisa 6 minggu lagi"
"Kalau aku tidak mau???" mata Yara berkedip membuat Rival salah tingkah. Tidak akan ada suami yang tidak tergoda pesona istri yang sengaja memancing hasratnya sejak tadi.
"Kalau tidak mau berarti mas harus memberimu pembayaran di muka, setelah mas pulang..mas akan lunasi semuanya"
Rival menggendong Yara masuk ke dalam kamar, Sekarang sudah mulai terasa bobot Yara yang semakin bertambah pada masa kehamilannya bahkan bertambahnya bobot Yara menjadi kelegaan bagi Rival. Ia merasa tenang anak dan istrinya masih dalam keadaan sehat.
Rival menidurkan Yara di ranjang. Rival membelai rambut panjang Yara, tangannya mengusap pipi lembutnya, jemari kaku khas seorang pria menyusuri tiap lekuk indah peruntuh imannya.
Yara terbuai dalam permainan Rival. Lenguhan tidak bisa di tahannya, Rival pun seakan lupa diri jika sudah berhadapan dengan istrinya.
"Mas tidak bisa memanjakanmu lebih malam ini. Ada yang harus mas jaga disini ( mengusap perut Yara ). Sabar ya! Kalau sudah lebih sehat mas baru akan menengok anak kita" entah ada rasa kecewa atau tidak. Yara ikut tersenyum membalas perkataan Rival.
-----------
__ADS_1
Yara sudah tidur pulas sedangkan mata Rival sangat sulit terpejam. Tangannya tak henti mengusap perut Yara. Pikirannya melayang memikirkan banyak hal. Besok ia akan lanjut menjadi jumpmaster lagi, tapi kejadian kemarin juga sampai memukul batinnya begitu kuat. Bukan karena dia takut, tapi lebih kepada Yara yang menjadi trauma dengan banyaknya insiden dalam rumah tangganya.
Belum lagi sebenarnya Rival juga sangat merindukan waktu intim terhangatnya bersama Yara.
"Nggak apa-apa sayang. Mas masih bisa tahan meskipun rasa ini kadang menyiksa batin. Tapi mas lebih tersiksa melihatmu begitu kehilanganku. Tangismu itu terlalu menyakitkan untuk mas rasakan. Kamu dan anak kita adalah sebuah alasan kenapa mas masih disini"
Perlahan Rival bangun, menyelimuti Yara mengecup keningnya dengan sayang dan menengok Arben pada ranjangnya. Kecupan sayang pun tak lupa ia tinggalkan untuk putra tercintanya.
Rival melangkah keluar kamar lalu memilih duduk menyendiri di sudut belakang rumahnya untuk menenangkan hati yang entah tidak nyaman di bagian yang mana.
***
Pagi hari tiba saatnya Rival berangkat kembali ke kota B. Yara mengantar Rival pergi bersama Randy dan Naya. Zein tidak bisa mengantar karena sedang ada dinas luar.
Randy dan Naya sedang berbincang dengan keluarga litting. Suasana pagi namun cukup panas disana membuat Arben sangat bosan sedangkan Rival juga sedang berbincang dengan rekannya dan beberapa anggota Batalyon. Arben berlari jauh dan Yara pun mengejar Arben lalu menggendongnya. Kehamilan Yara yang semakin membesar membuatnya lumayan kepayahan. Nyeri juga terasa karena tingkah Arben yang menghentakan kaki menendan perut Yara.
"Sini Abang gendong!" Yara menoleh pada sumber suara yang ternyata adalah Indira. Indira sedang membeli makanan dan minuman karena ia sudah mulai sering lapar walaupun mual terkadang menyerangnya.
"Papiiii" sapa Arben menciumi pipi David dan David juga menciumi wajah Arben. David begitu sayang pada Arben. Bagaimana pun juga Arben tetap menjadi 'putra' dalam hidupnya. Hatinya begitu tulus ikhlas menyayangi Arben meskipun tidak ada setetes darah yang mengalir dari dirinya pada tubuh Arben.
"Terima kasih ya bang!" ucap Yara menundukkan pandangan di hadapan David.
deg..deg..
Getaran detak jantung David sangat sulit ia kendalikan meskipun ia yakin nama Yara telah terhapus dari dalam hatinya.
Astagfirullah hal adzim Ya Allah.. ada apa dengan perasaanku ini. Kenapa mataku bisa Zina seberat ini. Ampuni hamba Ya Allah.. hilangkan bayangan wanita yang tidak akan pernah menjadi halal bagiku. Jagalah perasaan hamba hanya untuk wanita yang halal untukku.
"Eehhmm.. iya dek" David mengalihkan pandangan sambil menggendong Arben, menjauh dari mantan istrinya itu.
"Ada apa dek?" Rival memegang bahu Yara yang terpaku menunduk pada tanah yang di pijaknya.
"Nggak ada apa-apa mas" Yara menengadah dan tersenyum menatap bola mata Rival. Rival akhirnya tidak menyiakan senyum yang selalu ingin ia lihat, bibir Rival ikut tersungging manis mengukir senyum.
Aku seorang pria dek. Aku juga tau kalau masih banyak rasa yang tersimpan dalam hati bang David untukmu. Mudah-mudahan aku tidak melihat cintamu lagi untuknya kecuali jasadku telah bersatu dengan tanah.
.
.
__ADS_1