
Rival menunggu Sertu Budi dalam ruangannya. Suara ketukan terdengar
"Ijin Danki. Sertu Budi dan istri menghadap" laporan Sertu Budi pada Lettu Rival.
"Silahkan duduk" Rival mengarahkan Budi dan istri untuk duduk di sofa.
"Langsung saja pak Budi. Saya memanggil pak Budi terkait ucapan istri bapak pada istri saya. Jika menurut pandangan saya dalam segi aturan kedinasan, itu tidak pantas untuk menjadi contoh yang lain" Rival menjabarkan.
"Maaf pak, saya tidak tau kalau ibu tadi ternyata istri bapak" istri Sertu Budi membela diri.
"Lantas jika saya ini berpangkat di bawah suami ibu apa pantas cara ibu menegur istri saya seperti tadi?? pandangan Rival membuat yang melihat menjadi ngeri. Istri Sertu Budi menunduk tidak berani bicara.
"Di balik semua ini tidak ada dengan hubungannya dengan pangkat, jabatan dan kantor, saya tetaplah seorang suami. Tentu ada hal yang tidak bisa saya terima dari ucapan istri pak Budi"
"Siap salah. Saya tidak mendidik istri saya dengan baik. Saya akan terima keputusan Danki" tegas Budi.
"Tidak ada pak, hanya tolong bimbing istri bapak jangan sampai terulang lagi. Sudah cukup pak Budi tau kalau saya tidak bisa menerima kejadian hari ini"
"Siap Danki. Terima kasih" ucap Sertu Budi.
--------
"Sudah selesai dek rapatnya?" tanya Rival yang melihat Yara masuk ke dalam ruangan miliknya dengan wajah lelah.
"Sudah mas"
"Jangan terlalu lelah, kamu baru saja sembuh" Rival menghampiri Yara dan mengajaknya duduk di sofa. Yara memejamkan mata bersandar pada sofa. Rival mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir istrinya tiba tiba pintu terbuka.
"Bang, berkas pengajuan nikahku...." Zein masuk menggaruk kepalanya.
"Kalian yang berbuat, aku yang malu"
Rival menoleh ke arah Zein, Yara membuka mata dan mendorong dada Rival.
"Iihh..mas ini. Di kantor juga masih nakal" sungut Yara. Rival berdiri dari duduknya menuju meja kerja.
"Sekali kali nakal khan tidak apa-apa" lirih Rival. Zein menggeleng melihat kakak iparnya.
"Zein, kebijakan Komandan..juga dari pusat. Pangkatmu bisa tertunda satu sampai tiga periode. Kami akan berusaha yang terbaik untukmu" Rival menyerahkan berkas yang diminta Zein.
"Tidak masalah bang yang penting aku menikah dulu" jawab Zein sendu.
"Jaga Mutia dan anakmu baik - baik Zein"
__ADS_1
"Pasti bang"
"Bagaimana Mutia sekarang?" Yara khawatir dengan kondisi Mutia.
"Di kost saja, mulai mabuk. Dia tidak bekerja lagi, aku melarangnya" ucap Zein.
"Kurasa itu lebih baik Zein" Yara menyetujui keputusan Zein.
"Iya, biarkan Mutia beristirahat kasihan anaknya juga kalau banyak bekerja saat hamil muda pasti tidak nyaman" imbuh Rival.
"Kupikir juga begitu bang" jawab Zein.
***
"Mas.. Zein akan punya anak sebentar lagi. Bagaimana denganku?" Yara merasa bahagia akan mendapatkan keponakan tapi perasaan sedihnya tidak bisa di bohongi.
Rival membelai rambut panjang Yara sedih dengan pertanyaan istrinya.
"Kalau kamu tanyakan itu, mas tidak akan bisa menjawab karena Allah yang Maha Memberi tapi kita akan mengusahakan agar keinginan kita itu bisa secepatnya terwujud"
"Apa Tuhan masih percaya padaku mas?" lirih Yara. Rival hanya menjawab pernyataan istrinya dengan senyuman.
Yang paling sedih dalam hatiku salah satunya seperti ini sayang. Melihatmu bersedih juga membuat aku tak karuan.
***
--------
"Kamu tidurlah.. bulan depan kita akan masuk asrama, tidak disini lagi" ucap Zein.
"Aku takut mas"
"Kakakku saja berani masuk saat menjadi istri bang Rival, lalu kenapa dengan kamu. Lagipula nanti kakakku akan menemanimu" Zein mengusap perut datar Mutia yang kini berusia hampir tiga bulan.
***
Malam hari Rival mengajak Yara makan di rumah makan juga akan belanja kebutuhan bulanan. Yara memilih rumah makan pinggir pantai kesukaannya. Awalnya Rival menolak karena angin begitu kencang dan dingin.
Yara menggosok tangannya yang mulai terasa dingin.
"Apa mas bilang!?!? Dingin khan disini!" Rival beralih duduk di samping Yara sambil melepas jaketnya. Mereka masih duduk santai disana setelah selesai makan malam.
"Aku sudah pakai jaket mas" Yara menolak perhatian Rival.
__ADS_1
"Nyatanya kamu masih kedinginan" Rival tetap memakaikan jaket. Yara tidak jadi menolak.
"Mas nggak dingin?" tanya Yara.
"Biasa saja sayang" jawab Rival yang memang tidak merasa kedinginan.
"Bagaimana persiapan penyambutan panglima?"
"Hampir beres mas, tinggal pelaksanaan saja" Yara menyeruput lemon teh hangat karena Rival melarang Yara meminum minuman dingin.
"Kamu yang merasakan lelahnya tubuhmu, istirahat yang cukup dan jangan memaksakan tenagamu" Rival mengusap perut Yara.
"Apa yang mas sentuh" Yara heran dengan perlakuan Rival.
"Bukankah mendoakan yang baik tidak salah!"
"Tidak salah mas, aku juga berharap dia akan cepat ada disini" Yara mengikuti tangan Rival menyentuh perutnya.
"Kapan kamu siap?" pertanyaan Rival membuat Yara menunduk.
"Aku takut gagal mas" lirih Yara.
"Mencoba itu lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali" Rival membujuk Yara karena dua bulan tidak ada usaha yang mereka lakukan dan Rival juga kemarin tidak memaksakan jika Yara belum siap berusaha lagi.
"Apa mas tidak akan meninggalkan aku jika aku gagal?" Rival terkejut dengan pertanyaan Yara yang sama sekali tidak ada dalam pikiran bahkan singgah pun tidak.
"Aku tidak butuh wanita lain untuk memberiku anak. Dan kamu tidak perlu cemas menantikan anak kita akan hadir disini. Karena aku akan menunggunya. Tidak ada yang berhak menjadi ibu dari anakku kecuali kamu. Sudah puas Nyonya Rival mendengarnya??" jujur Yara merasa tenang dan bahagia mendengar ucapan Rival.
"Terima kasih Lettu Rivaldi" senyum Yara yang malu malu membuat hati Rival berdesir seketika, ia mengalihkan pandangannya menatap ombak yang menyisir pinggir pantai.
"Setelah ini ayo cepat pulang.. belanjanya besok saja" Ajak Rival.
"Kenapa mas, ini belum begitu malam" ucap Yara yang masih ingin berjalan jalan.
"Besok mas antarkan kemana saja kamu mau dek" ajak Rival mengulurkan tangan. Wajah Yara menjadi cemberut karena jalan jalannya yang tertunda.
"Ayo, kamu harus menjinakan peliharaanmu" sesaat Yara memperhatikan wajah suaminya dan akhirnya ia mengerti.
"Ya sudah mas, ayo" Yara menerima uluran tangan suaminya.
.
.
__ADS_1