
Usia kandungan Yara sudah menjelang tiga bulan, perutnya sudah sedikit terlihat. Tahun ini mulai musim hujan lagi dan Batalyon membuat kolam lele. Yara berjalan pelan ke kebun belakang Batalyon, tanah yang terkena air hujan lumayan licin untuk di lewati.
Sesekali Yara berhenti berjalan ketika merasakan pusing dan mual. Rival melepas topi rimba miliknya saat melihat Yara datang ke arah kebun belakang.
"Mau minum dek?" tanya Rival pada Yara yang berkeringat padahal jarak dari arah depan ke kebun tidaklah jauh sebab Yara di jemput oleh seorang anggota agar bisa sampai kebun lebih cepat.
"Iya mas" Yara mengangguk lemah seperti baru berjalan ribuan meter.
Rival tersenyum dan berjalan ke koperasi anggota untuk mengambilkan Yara minuman.
"Ini dek!!" Rival mengambilkan jus kotak untuk Yara.
Beberapa saat setelah minum, Yara kembali terserang mual. Yara menyandarkan kepalanya pada perut Rival yang sedang berdiri menghadap Yara.
"Kamu disini saja, tidak perlu bergabung dengan yang lain" Rival cemas sambil memijat punggung Yara
"Ini sudah resiko menjadi istrimu mas"
"Mas paham itu, tapi siapa yang akan memaksakan jika seorang istri prajurit dalam kondisi seperti ini, istri seorang prajurit itu juga seorang manusia dan tidak selalu kuat. Mas sangat berterima kasih atas keikhlasanmu ikut organisasi dan menjaga nama baik mas, tapi mas juga tau kondisimu saat ini" jelas Rival.
"Ada apa Val?" tanya Naya melihat Yara memeluk Rival.
"Mabuk lagi ma" jawaban Rival hanya membuat Naya tersenyum sambil ikut membelai putrinya.
"Itu sama seperti mamanya dulu, paling susah lagi saat hamil Zein sampai aku rasanya kalang kabut" kenang Randy.
braaaakk
"Bu Zein.." teriakan para ibu mengagetkan semua yang ada disana.
Mutia menjatuhkan pupuk karena perutnya terasa sakit. Mukanya memercing kesakitan.
"Zeeeeeiiiinnn" teriak Rival kuat tak peduli sekarang mereka ada dimana. Zein menoleh saat melihat ada keributan di kebun dan menghampiri Mutia yang ternyata akan melahirkan.
"Ayo kita bawa istrimu ke rumah sakit" ajak Naya pada Zein. Naya, Randy dan Zein pergi ke RST.
Yara tadinya ingin menyusul memakai mobilnya setelah merasa lebih baik, tapi mual Yara semakin menjadi. Yara mengubah posisi duduk dengan berbagai arah namun sia - sia. Yara merasa sangat tersiksa karena sudah tidak bisa mengeluarkan apapun lagi dari perutnya. Hingga Yara tidak kuat lagi, dari sudut bibirnya ada sedikit darah.
"Astagfirullah hal adzim....kamu kenapa dek" jantung Rival seakan berdetak mati.
__ADS_1
"Sakiiit mas" Yara meremas kuat baju Rival.
"Ayo dek!! mas antar ke rumah sakit"
Tanpa menunggu lama, Rival segera membawa Yara ke rumah sakit
-------
"Kamu masih kuat nggak dek?" tanya Rival sengaja mengajak Yara bicara di dalam mobil.
Yara tidak menjawab atau merespon pertanyaan Rival.
"Dek..dek..sayang.." Rival melaju cepat karena jelas Yara sudah tidak sadar lagi.
--------
"Yara kenapa Val?" tanya Randy ikut cemas setengah berlari melihat Rival meletakkan Yara di atas brankar.
"Nggak tau pa, Yara sering seperti ini" gugup Rival.
Randy tau perasaan Rival saat ini karena ia pernah mengalami dan paham rasanya apalagi kehamilan Yara sama seperti kondisi Naya dulu.
"Kondisi seperti ini memang ada pak, dan Bu Yara seperti muntah darah itu karena lambungnya terjadi gesekan karena terlalu sering muntah, juga tidak masalah ada pendarahan sedikit asalkan tidak sering. Riwayat orang tua bisa jadi mempengaruhi" banyak yang dokter jelaskan pada Rival hingga rasanya tak masuk di kepala Rival, yang ia tau saat ini Rival ingin Yara sehat kembali.
--------
"Mama dulu juga begitu Val, Kamu jaga saja Yara sebaik dan sesabar mungkin" pesan Randy.
"Iya pa" Jawab Rival sambil mendekap Yara yang sudah sadar.
"Maaf ya pa aku dan mas Rival tidak menemani Mutia" ucap Randy.
"Tidak apa-apa, sana cepat pulang dan istirahatlah. Hari hampir hujan" titah Randy.
-------
Malam hari saat Yara sudah tidur, Rival masih terjaga memikirkan Yara dan merasa gelisah Mutia akan melahirkan. Teringat jelas bagaimana saat dulu Larasati kesakitan saat melahirkan Vena.
Mudah mudahan Tuhan selalu melindungi kamu dan anak kita.
__ADS_1
***
Kegiatan kantor sangat padat. Rival memijat tengkuk yang sudah terasa berat. Sudah jam enam sore.
Yara pasti kesepian di rumah. Aku harus segera pulang. Kasihan Yara.
Danyon mendekati Rival saat baru keluar dari ruangan.
"Val, kamu besok ke markas, kamu cari staff yang bernama Azizah dan kamu rundingkan acara tontangkas bulan depan.
"Ada Nathan" tolak Rival mentah mentah.
"Ini pekerjaan Val, jangan kamu campur aduk dengan masalah pribadi. Sudah untung Azizah tidak mengungkit tentang kamu" sewot Danyon.
"Masalah apalagi sich om????" desah kesal Rival keluar begitu saja.
"Apa kamu pikir om tidak tau rumor kamu selama di Kongo dulu?"
"Om pikir aku sebejat itu?" tegas Rival tidak percaya.
"Jujur om pusing memikirkan banyaknya rumor tentangmu. Ingat Val, jaga perasaan Yara dan jangan sampai ada masalah lagi. Bagaimana pun juga, Yara mengandung cucu om" tegas pak Suherman.
"Aku yang tidak paham dengan semua kejadian ini om. Om tau hampir seluruh hidup dan masa laluku. Kenapa om masih tidak percaya padaku??" kesal Rival.
"Kami percaya Val, kami hanya menjaga situasi yang mungkin saja nantinya akan menyulitkan hubunganmu dengan Yara terutama menjaga perasaan istrimu" Tante Hety istri om Suherman menenangkan Rival, beliau baru saja selesai kegiatan pengurus.
"Aku tidak mau bertemu Azizah lagi" mendengar keras kepala keponakannya, Pak Suherman angkat tangan dan menyerahkan tugas ini pada Nathan.
***
Rival melihat Yara sedang menampung air, badannya basah kuyup walau tidak terkena air hujan secara langsung. Hati suami mana yang tega melihat istrinya yang sedang hamil muda dan dalam keadaan mual parah, menampung air sendirian.
"Masuklah dek, biar mas saja yang lanjutkan" Rival mengambil gayung dari tangan Yara dan meletakkan pada bak lumayan besar untuk menampung air hujan.
Yara melihat pakaian Rival basah. Rival melepas seragamnya dan menyisakan kaos loreng dan celana pendek melekat di badan.
"Sudah masuk sana, ganti pakaianmu juga!!" Rival berjongkok dan melanjutkan pekerjaan Yara.
.
__ADS_1
.