Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
54. Indah dalam hati


__ADS_3

Pandangan Rival seakan mengambang tak tahan melihat kondisi Yara, dirasakannya tubuh tegap gagah itu menjadi kesakitan dan menggigil. Kepalanya terasa berat.


Kuat!! Kuat!! Aku harus kuat demi anak dan istriku.


Rival menggenggam tangan Yara. Memeluk tubuhnya yang mulai menghangat karena demam sama seperti dirinya. Rival menutup tubuh Yara, mengambil infus dan mengangkat tubuh Yara dengan sangat hati-hati.


"Val.. ini beresiko!!!!" cegah Farhan pada Rival yang membawa Yara menuju mobil ambulans.


"Kamu bisa lihat nggak istriku sudah sampai seperti ini. Apa disini ada alat yang lengkap????" kesal Rival.


"Tapi kamu bisa merobek jahitan istrimu" imbuh Farhan dengan khawatir.


"Aku bisa mengontrol apa yang aku lakukan. Jangan banyak bicara!! Kamu semakin memperburuk keadaan saja"


Naya, Randy mengikuti langkah Rival sedangkan Nathan, Nesya dan Vena di mobil selanjutnya bersama Zein.


Rival membaringkan Yara pada brankar. Mobil ambulans tertutup, melaju kencang menuju rumah sakit.


"Kamu nggak apa-apa Val? tanya Randy melihat menantunya seperti begitu menahan berbagai rasa tidak nyaman.


"Iya pa, aku baik-baik saja" Randy tidak begitu saja percaya perkataan Rival. Ia menyentuh kening Rival.


"Masya Allah..badanmu panas sekali. Kamu sudah terlalu lelah Val!"


"Aman pa, yang terpenting istriku" jawab Rival.


"Serahkan urusan Yara pada papa Val! ada Zein juga nanti. Papa tau perasaanmu, tapi kamu juga harus rileks sedikit" Randy sedikit menarik bahu Rival. Mata Rival nampak sayu dan nanar.


"Apa papa bisa tenang saat mama berada dalam situasi seperti ini? Aku bisa apa pa? Bahkan yang aku lakukan ini belum sebanding dengan pengorbanan istriku" Randy tersenyum getir memahami perasaan seorang pria yang berada disampingnya.


--------


Yara di dorong cepat menuju ruang penanganan. Dokter Farhan mengikuti Rival yang sedang dalam kondisi sangat cemas.

__ADS_1


"Tunggu pak, bapak tidak boleh masuk!" cegah seorang perawat. Melihat ekspresi Rival. Farhan tau apa yang akan terjadi bila sekali lagi ada yang melarang Rival masuk.


"Biarkan pak Rival masuk! saya yang akan menanggung semua akibatnya. Tolong panggilkan dokter Wina" tegas Farhan. Ia tau Rival sangat menjaga istrinya. Rival pun bisa masuk dalam ruang penanganan itu. Yara segera di tangani dengan cepat mengingat Yara sudah kehilangan banyak darah.


Rival bersandar pada dinding, Kaki Rival mulai gemetar tapi tangannya terus memegang jemari Yara.


Para team kesehatan mengusahakan penyelamatan pada Yara. Tak lama Dokter Wina terdiam sesaat melihat Yara, perawat yang lain pun ikut terdiam. Suara pendeteksi denyut jantung berbunyi pelan.


"Ada apa dok???" Rival panik melihat reaksi para tenaga medis. Farhan sudah memegang tangan Rival sebab lelaki itu sudah ketakutan di ambang batas pikirannya. Zein yang sedari tadi mengawasi ruangan itu melalui jendela kecil terpaksa menerobos masuk melihat situasi menjadi tidak kondusif di dalam sana.


"Hmm..begini pak Rival, saat ini kondisi istri bapak......." ucapan Dokter Wina terputus karena Yara menarik napas begitu panjang dalam sekali sentakan membuat Rival sangat kaget di buatnya. Dokter Wina berusaha menjelaskan lagi namun pikiran Rival sudah tak tentu arah.


"Nggak..nggak dok!! Jangan bicara apapun lagi" bentak Rival kuat, ia bersandar kembali pada dinding memejamkan mata tidak berani menatap Yara sama sekali. Rival terus memegangi tangan Yara. Kakinya sangat lemas, perasaannya begitu terpukul, ia terisak sesak hingga air mata deras membasahi pipinya.


"Kenapa kamu sejahat ini dek, Apa ini caramu memilihkan hukuman untukku??? Aku sudah menerimanya sayang!!! apalagi mau mu sekarang??" teriak Rival kuat tak terkendali. Karena sudah tidak tahan lagi, Rival tumbang menubruk Zein.


"Bang..buka mata dulu bang!! Astagfirullah.. itu Yaramu sudah sadar bang!!" Zein menyadarkan Rival yang sudah pingsan.


"Mas Rival kenapa Zein?" tanya Yara lirih, ia pun sangat khawatir.


"Ya Allah mas, ada ada aja sich" senyum lembut menghiasi bibir Yara.


***


Selang infus tertancap pada punggung tangan kiri Rival, dua jam ia pingsan. Rival mengerjapkan mata perlahan. Kepalanya masih terasa pening. Rival melihat sekeliling ruangan, ia memijat pelipisnya masih merasa berat mengangkat tubuhnya sendiri.


Rival melihat Zein, Farhan, Randy, Reno, Nathan dan pak Suherman melipat tangan di depan dada mengelilingi ranjangnya. Perasaan Rival kembali terpukul, air matanya membendung lagi.


"Yara!!..dimana Yara pa???" teriak Rival lagi tidak karuan menutup kedua mata dengan tangan kanannya.


"Yang kamu pegang itu tangan siapa?" tegas pak Suherman menyadarkan Rival.


Rival menoleh pada tirai yang memisahkan ranjangnya dengan ranjang Yara. Rival membuka tirai itu dengan cepat. Rival melihat Yara yang berbaring tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Rival tidak menunggu lama lagi, ia menguatkan tubuhnya yang lemah untuk memeluk Yara. Rival tidak peduli dengan apa yang akan di katakan keluarganya, yang ia rasakan hanya syukur dan bahagia melihat Yara yang baik-baik saja setelah persalinan.


"Alhamdulillah Ya Allah" lirih Rival masih dengan suara beratnya.


"Sudah puas membuat keributan????" tegur pak Suherman.


"Kami memutuskan menggandeng ranjangmu agar kamu tidak berulah dan membuat panik seisi rumah sakit seperti tadi" lanjut pak Suherman lagi.


"Abang parah sekali, di banding denganku..Abang ini bucin setengah mati" ledek Zein.


"Sudah puas meledekku atau belum. Coba rasakan berada di posisiku!" Rival menjawab dengan tertelungkup tak melepaskan Yara.


"Iiisshh... kamu ini Val" Randy tertawa menggeleng kepala tapi dalam hati juga merasa lega Rival dan Yara mampu melewati semua ini.


***


Sore hari demam Rival sudah mulai turun. Ia meminta infus di tangannya untuk segera di lepas. Perawat yang melepas infus Rival baru saja pergi. Rival menatap langit-langit kamar rawatnya bersama Yara. Setetes air matanya jatuh di sela pipinya.


"Siapa yang mengadzani anakku dek?" tanya Rival masih berbaring di ranjangnya.


"Zein mas" jawab Yara.


Rival mengerjapkan mata menghalau rasa sedih di hatinya berharap air matanya tidak tumpah lagi.


"Tidak apa, situasi tadi tidak bisa kita cegah. Kalau mas mau, mas bisa mengadzaninya lagi walaupun bukan mas yang pertama"


Rival bangkit dari tidurnya. Ia melangkah ke ranjang bayi di sebelah Yara. Tangan kaku namun penuh kasih mengangkat bayi mungil dalam dekapannya.


Rival mengadzani bayinya dengan indah. Bayinya menggeliat seolah paham kehadiran papanya


"Haii jagoan.. Apa yang kamu lakukan tadi benar-benar nakal. Kamu mengajak papa main petak umpet dan hampir membuat papa jantungan. Lain kali jangan di ulangi atau kamu akan papa jitak" Si jagoan mungil menangis kencang. Yara ikut panik karena ia masih kesulitan untuk bangun.


"Mas Rival nih..kenapa membuatnya menangis" kesal Yara.

__ADS_1


.


.


__ADS_2