Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )

Untuk Kamu 2 ( Cinta Terindah )
39. Ujian Mental ( 1 )


__ADS_3

"Sudah empat tahun berlalu dan sekarang kamu sebut dia anakmu? kemana perasaanmu sebagai seorang ayah??" Rival berdiri dengan begitu emosi. Teguran keras Rival mendarat mantap di hati Nathan.


"Aku salah. aku akan membawa anakku bersamaku" ucap Nathan memelas menyadari kesalahannya.


"Persetan dengan semua ucapanmu" bentakan kuat Rival pada Nathan seketika membuat dada Yara sesak dan sangat sakit. Yara menggapai tangan Rival.


"Mas, sudah..dadaku sakit"


"Kenapa sayang, kita ke kamar ya!" Rival berbanding terbalik di hadapan Yara. Rival menggandeng Yara masuk ke dalam kamar dan menyerahkan semua urusan agar diambil alih oleh Zein.


Rival mengunci kamarnya rapat setelah mereka masuk ke dalam kamar.


"Ada angin apa Nathan itu? sekian lama tidak muncul, sekarang dia datang ingin bertemu anaknya" gerutu kesal Rival.


"Kalau memang Vena anak dari mas Nathan, biarkan dia bertemu mas" ucap Yara.


Aku tidak akan membiarkan Vena punya ayah seperti dia" bentak Rival tanpa sengaja.


"Apa mas sangat ingin menjadi ayah Vena hingga tidak memperbolehkan ayah kandungnya bertemu dengan Vena?" ucapan Yara begitu menusuk menyadari ucapannya yang salah.


"Tak ada yang bisa mas jelaskan disini. Kamu harus melihat sendiri anak itu nanti"


Rival berjongkok di depan perut Yara.


"Nak, percayalah kamu satu satunya anak papa. Bantu papa meyakinkan mama ya!!" Rival menciumi perut Yara dengan sayang.


"Kalau benar mas mau mengambil cuti, di segerakan mas. Aku mau tau apa yang sebenarnya terjadi. Boleh khan?"

__ADS_1


"Boleh sayang. Mas akan segera mengurusnya" Rival berdiri dan mengusap perut Yara.


"Kamu mau tidur atau ikut bergabung dengan mereka?" Tanya Rival memperhatikan wajah Yara yang sedikit pucat dan napasnya berat.


"Aku mau disini sebentar ya mas! Bawa saja Mutia dan Ay kesini agar bisa menemaniku" pinta Yara.


"Baiklah sayang" jawab Rival sambil memberikan inhaler yang baru saja di ambilnya dari dalam laci nakas kamarnya kemudian Rival membuka pintu kamar.


"Mas.. jangan bertengkar dengan mas Nathan lagi!" Yara sangat khawatir dengan kemarahan Rival.


"Iya sayangku. Tidak lagi" Senyum Rival sambil meninggalkan berlalu.


-------


"Ay sama mamanya temani Yara saja di dalam kamar. Jangan banyak disini, nanti Ay sawan banyak gabung dengan om-om sableng" suara Rival membuat para bujangan tertawa kesal.


"Iya bang, aku temani kak Yara saja" ucap Mutia sambil membawa Ay masuk ke dalam kamar Yara dan Rival sekalian menidurkan Ay.


"Kalau kamu ingin ikut 'liburan' denganku, awas saja kalau sampai kamu tidak tau tanggal cutiku dan kemana arah tujuanku" ucap Rival datar.


"Aku pastikan aku akan ikut denganmu. Terima kasih banyak Val" jawab Nathan dengan sumringah.


"Ingat, jangan ganggu acaraku dengan istriku. Tujuanku utamaku kesana adalah untuk menyenangkan hati istriku, dan jangan sekalipun kamu menyesal sudah ikut denganku" ancam Rival.


"Siap Let..saya berjanji" tegas Nathan.


"Ya sudah ayo bikin sambalnya!!!" ajak Zein memecah ketegangan.

__ADS_1


"Arif, ambil semua bahan untuk sambalnya di lemari es!!!" perintah Rival.


"Siap" Arif berdiri dan mengeluarkan isi lemari es setelah meletakkannya pada sebuah keranjang.


Rival melotot melihat semua bahan yang di ambil oleh Arif. Ada jeruk bengkoang, timun, mangga muda, gula merah, jahe, cabe, ubi dan merica. Tidak ada bahan yang cocok untuk membuat sambal kecuali cabe saja.


"Apa apaan ini??? Ini mau membuat sambal atau rujak bebeg. Jadi rujak saja saya tidak mau makan" omel Rival. Nathan tertawa geli melihat ocehan Rival


"Kau saja yang buat!!" mata Rival mengarah pada Nathan. Rival tau kalau Nathan sebenarnya pandai memasak. Nathan mendesah pasrah, tanpa dua kali perintah ia segera mencari sendiri bahan untuk membuat sambal dan menyelesaikan tugasnya.


Tak lama semua siap tersedia di atas tikar yang tergelar di ruang tengah rumah Rival. Tak ada jarak dan kecanggungan di antara mereka, juga pada ketiga bujangan yang berada disana. Yara dan Mutia juga akhirnya berkumpul disana karena paksaan Rival dan Zein.


Yara belakangan ini agak sulit makan membuat Rival merasa cemas. Tapi kali ini Rival sangat senang melihat Yara mau makan dengan lahap terutama makan sambal buatan Nathan hanya satu masalah yang membuat Rival kembali cemas, sambal Nathan sangatlah pedas. Apalagi saat melihat Yara yang kepedasan dan berkeringat.


"Dek, sudahlah..kasihan anakku ini!" cegah Rival tapi Yara tidak mempedulikannya.


"Kamu suka makan sambal ini dek?" tanya Rival lagi. Yara hanya mengangguk sambil meneruskan makannya. Kini Rival bimbang, apakah ia harus memohon pada Nathan agar mau membuatkan istrinya sambal.


Rival menarik napasnya panjang lalu membuangnya dengan berat hati. Karena Rival akan membuang keegoisan demi sang istri juga anak yang masih dalam kandungan Yara.


"Bisakah aku minta tolong padamu, istriku baru saja mau makan banyak..jadi...."


"Iya, demi bumilmu akan aku buatkan. Tenang saja" Nathan menahan tawa, ia sangat tau Rival sangat berat mengatakan hal itu karena sifat Rival yang menjunjung tinggi harga diri.


"Terima kasih" ucap Rival tanpa melihat ke arah Nathan.


Yara menghadiahi Rival sebuah kecupan hangat di pipi sebagai tanda sayang dan terima kasih. Sorak ketiga bujangan membuat Rival tersenyum malu-malu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2