
"beberapa hari lagi aku berangkat tugas bangun desa ke pulau seberang. Tidak akan lama, tapi aku mulai cemas meninggalkan bumilku. Dia mulai manja padaku tidak seperti biasanya" kata David sambil meminum kopi hitam miliknya.
"Indira pasti mengerti bang. Manja itu biasa. Sudahlah..biar dia menikmati masa-masa terindahnya"
"Selamat malam bang Rival!" sapa seorang pria di hadapannya
"Heii.. sini gabung! Kapan datang?" jawab Rival. Pria itu memberi hormat pada David lalu bersalaman dengannya.
"Jam 17.00 tadi bang. Bagaimana keadaan kak Yara bang?"
"Sudah aman Ver.. kemarin melihatnya hampir saja membuat jantungku melompat" jawab Rival.
"Aku lihat kak Yara dulu bang!" ijin Vernan yang mendapat anggukan dari Rival.
Vernan masuk dan berniat menyapa Yara yang sedang duduk bersandar dengan tamunya. Mata Vernan tertuju pada sosok wanita yang duduk berhadapan dengan Yara, mata Vernan membulat tajam berkaca-kaca melihat sosok Indira. Vernan menghambur memeluk Indira dengan sangat erat, menciumi Indira yang tentu saja mendapat penolakan keras dari Indira yang terus meronta.
"Ya Allah dek, kemana kamu selama ini. Abang tidak bisa menghubungimu, Abang mencari mu"
"Ayah...tolong!!!!!" pekik Indira.
Teriakan Indira membuat David dan Rival saling menatap lalu berdiri dari duduknya dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Vernan.. Jangan!!!!" Yara menarik lengan Vernan dengan kuat.
"Astagfirullah... Vernan!!!!!" David menarik Vernan agar melepaskan pelukannya dari Indira. Hatinya panas melihat Vernan menciumi Indira.
Indira gugup dan membenahi jilbabnya segera berdiri di belakang David. Indira sangat takut melihat tatapan kemarahan dari mata David yang belum pernah sekalipun ia lihat.
"Bunda kenal?" tanya datar David melihat Indira.
"Iii..iya ayah" jawab Indira tak bisa menyembunyikan gemerarnya.
"Siapa????"
"Bang Vernan.. mantan pacar Indira yah" jujur Indira.
"Saya belum mengakhiri hubungan kami bang!!!" kekecewaan Vernan tak bisa ia sembunyikan.
"Sudah berakhir sejak saya menghalalkan Indira. Tolong jaga sikapmu! Sebab mulai ujung rambut hingga ujung kaki Indira adalah hak milik dan tanggung jawab saya" tegas David.
"Dek, Rival.. saya pamit pulang dulu. Indira butuh ketenangan"
"Siap bang!.. Mohon maaf atas sikap Vernan" balas Rival merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Ekor mata David menatap tajam wajah Vernan. Ia hanya tidak bisa menerima saat Vernan memeluk istrinya hingga menangis, terlebih ciuman yang sudah mendarat di wajah dan leher Indira meskipun tertutup jilbab. Wajar jika seorang suami merasa cemburu jika istrinya di perlakukan demikian dari laki-laki lain.
"Sumpah.. kau benar-benar sangat kurang ajar" Rival menarik kerah baju Vernan, tidak suka melihat adegan tak senonoh tadi.
------
"Ayah.. maaf, bunda tidak bermaksud.." Indira membuka pembicaraan dengan rasa takut.
"Bunda diamlah dulu. Perasaan ayah sedang tidak nyaman. Ayah tidak ingin melampiaskannya pada bunda" David memotong permintaan maaf Indira.
Sepanjang jalan David hanya diam dan tidak berbicara sepatah kata pun pada Indira. Hal ini membuat Indira sangat sedih.
Sesampainya di rumah David langsung turun dari dalam mobil dan membiarkan Indira yang masih duduk di dalam mobil. Rasa kesal khas seorang pria muncul begitu saja membuat emosinya naik turun.
Kupikir istriku yang kalem itu tidak punya masa lalu. Mengapa harus Vernan sainganku??? Dengan kurang ajarnya dia memeluk istriku.
David merenung sesaat menekan rasa egoisnya, menghela napas dan berniat menemui Indira setelah emosinya benar-benar mereda.
---------
Indira bertumpu pada sisi meja. Badannya terasa pegal, sejak tadi ia terus memijat punggung nya dengan kesulitan. Perutnya pun seakan di aduk tapi ia masih bisa menahannya.
David memeluk Indira dari belakang, tapi Indira seolah menepis tangan David.
"Bunda tidak nyaman yah" jujur Indira yang agak sedikit mabuk awal kehamilan.
"Dengan ayah..bunda tidak nyaman. Apa kamu mau bilang kalau pelukan dengan Vernan mantan pacarmu itu terasa lebih nyaman?????" bentak David pertama kali.
"Bukan itu maksud bunda yah"
"Sedekat apa kalian dulu hingga pertemuan kalian bisa sangat menyakitkan hatiku? Kalau kalian tidak sedekat itu, Vernan tidak akan memelukmu bahkan mencium mu dengan perasaan seperti itu" kesal David.
"Tidak ada yang istimewa yah" Indira tidak ingin membuka memori nya dengan Vernan. Ia hanya terfokus pada punggung nya yang terasa lelah dan nyeri.
"Lepas pakaianmu bun.. Aku tidak ingin ada parfumnya yang menempel di tubuhmu" David membuka jilbab dan pakaian Indira dengan paksa.
Melihat tubuh Indira dari balik kemarahan nya seketika membangkitkan hasrat nya.
"Aku akan menghilangkan jejaknya yang baru saja memelukmu" David mencium bibir Indira dengan penuh hawa nafsu dan mungkin perlakuan David menjadi lebih kasar pada indira. Birahi David yang sudah memuncak ternyata juga masih ada sedikit penolakan dari Indira.
"Kenapa menolak suamimu?? Kamu dosa Bun" Bentak David.
Indira pergi dari hadapan David, sakit sekali mendapat perlakuan seperti ini dari David.
__ADS_1
Melihat Indira pergi, David segera menyambar tangan Indira dan menarik kuat tangan Indira.
"Jangan membangkang, jangan kurang ajar membiarkan hasrat suami yang sudah di ujung tanduk"
David segera menindih Indira. Tangan Indira mendorong dada David, namun percuma saja mungkin tenaganya saat ini tidak ada seperdelapan tenaga David. Indira hanya bisa menangis saat David sudah setengah jalan sangat menikmati permainannya yang begitu liar, tapi saat rasa mual menyerang nya begitu hebat, Indira benar-benar menendang David.
Indira menyingkirkan tubuh David, ia mengambil handuk pada tumpukan pakaian dan berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Sedangkan David tidak bisa menyembunyikan amarah nya yang berlipat karena tidak selesai dengan hajatnya.
David melempar bantal dengan kasar sambil mengatur napasnya yang tidak karuan. Kepalanya sangat sakit karena tidak ada pelepasan apapun.
"Ayaahh.." teriak Indira dari dalam kamar mandi. David tak bergeming karena masih merasakan kekesalan.
"Ayaaahh.." teriak Indira sekali lagi tapi suaranya sedikit melemah.
braaaaakk
David mendengar suara itu langsung berjingkat kaget, samar terdengar suara Indira. David segera memakai celananya lalu menuju kamar mandi.
"Ayaah..tolong bunda" Indira sudah duduk di lantai kamar mandi dengan lemah.
"Astagfirullah.. bunda" David berlari melihat Indira tergolek lemas disana. David menyambar handuk dan menutup tubuh Indira dan segera menggendong Indira yang sudah menggigil.
tok..tok..tok..
Vernan mengintip sedikit dari balik gorden yang sudah tertutup.
"Dira..." pekik Vernan membuka paksa pintu rumah David.
Sesaat setelah David pulang tadi, Vernan begitu memaksa menemui Indira untuk meminta maaf. Rival dan Yara menghalangi Vernan tapi pria itu begitu sulit di arahkan.
Rival dan Yara terpaksa mengikuti Vernan mencegah sesuatu yang tidak mereka inginkan di rumah David.
Pintu terbuka, Vernan melihat Indira yang lemah sedang di angkat David, hanya menggunakan handuk saja. Rival memalingkan wajah dan berbalik badan sambil menarik Vernan sekuatnya bahkan Rival sempat menendang tengkuk lutut agar Vernan berlutut karena pria itu terlalu berulah.
David menatap tajam dan kembali emosi melihat Vernan. Apalagi mata Vernan sempat melihat tubuh Indira yang hanya terlilit handuk.
"Kalau kau tidak bisa menahan emosimu disini. Aku akan mematahkan lehermu sekarang juga" bentak Rival tajam tegas pada Vernan.
Yara sudah gemetar melihat kegaduhan itu. Kakinya hampir tak sanggup berdiri hingga Rival harus melingkarkan tangan pada pinggang Yara.
"Ayah..tolong ke rumah bang David" pinta Rival pada sambungan telepon.
.
__ADS_1
.