
"Kalian tinggal saja di rumah Oma sampai semua masalah kalian selesai" saran Randy. Randy memutuskan seperti itu untuk menjaga omongan orang yang mungkin akan salah paham.
Malam seluruh keluarga ikut mengantar pengantin bermasalah tersebut sebelum esok hari meninggalkan mereka bertiga.
***
Pagi itu Rival, David dan Yara sudah berangkat kerja dari rumah Oma. Ay dan Arben terbiasa ikut Oma dan Opa karena Randy tidak bisa jauh dari cucunya.
Rival dan David berangkat ke Batalyon dengan kendaraan mereka masing-masing. Sedangkan Yara akan memasak menu untuk kedua pria tersebut sebelum ia mendekor panggung pengantin di hotel.
David mengontrol anak buahnya yang akan berangkat dinas luar, kesibukannya tidak begitu padat hingga sore hari sedangkan Rival langsung berolahraga pagi tapi masih harus mengarahkan siswa belanegara dan membuat laporan.
-------
Rival melakukan semua olahraga keras pagi itu.
"Mas.. bisa jemput aku nggak?" tanya Yara pada Rival di sambungan telepon.
"Maaf sayang.. Mas sibuk sekali hari ini. Coba kamu telepon abang David" jawabnya dengan ngos-ngosan.
Yara terdiam sesaat seolah enggan menerima saran Rival. Rival tau Yara sebenarnya tak ingin David menjemputnya.
___
"Bang, tolong jemput Yara!! Aku sibuk sekali hari ini"
___
Rival duduk merasakan tubuhnya sangat sakit. Kemarin ia melepaskan infus dengan paksa padahal tubuhnya belum fit.
"Ijin Dan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arif
"Iya.. bisa tolong saya? Badan saya sakit semua. Saya tadi melewatkan pemanasan" Rival mengeryit sesaat. Arif melenturkan tubuh Rival hingga ia merasa baikan. Tak lama Rival tertidur di pinggir lapangan.
"Ada apa Abang?" tanya Zein pada Arif.
"Ijin..Sepertinya komandan sangat kelelahan"
Tentu saja Abang lelah. Abang memang sengaja membuat tubuh sangat lelah agar bisa tidur dan tidak merasakan kecemburuan yang sangat menyakitkan hati Abang. Abang meluapkan rasa sakit Abang sendirian dan kembali baik-baik saja di hadapan kakak ku. Terima kasih bang, di balik sifat Abang itu masih tersimpan kesabaran dan sayang yang luar biasa.
Meskipun pikiran terbagi tak tentu arah, Rival tetap harus bisa membedakan antara pekerjaan dan urusan pribadi.
Kegiatan hingga sore pun selesai. Hujan turun lumayan deras. Rival ingin segera pulang menemui Yara.
__ADS_1
------
"Kau ada mobil kenapa harus pakai motor?" tegur David yang sedang memarkir motornya di garasi dengan pakaian basah kuyup.
"Tanggung bang. Aku ingin segera melihat Yara" jawabnya. David tersenyum paham melihat Rival.
"Dek, tolong ambilkan handuk!" teriak David karena suara hujan cukup kencang.
Yara datang membawa handuk ke arah garasi. David meninggalkan Rival dan Yara berdua. Yara melihat Rival yang basah kuyup sedang melepas seragamnya dan hanya meninggalkan celana pendek di badan. Yara menyerahkan handuk itu pada Rival.
"Apa tidak bisa menunggu hujan reda sebentar" tanya Yara.
"Mas sudah kangen kamu" jawab Rival mengusap pipi Yara lalu bergegas ke kamar mandi.
David memakai jaketnya dan beranjak keluar dari rumah. Yara merasa heran kemana David akan pergi dalam keadaan hujan lebat.
"Mas mau kemana hujan begini?" tanya Yara.
"Ada pekerjaan dek. Kamu di temani Rival di rumah" senyum David sambil mengambil kunci mobilnya.
Rival yang baru keluar dari kamar mandi juga merasa tidak enak hati.
Apakah dengan kembalinya diriku adalah suatu kesalahan? Bang David tulus mencintai Yara sejak dulu. ku akui, Abang adalah orang yang aku cemburui setengah mati.
"Mas mau makan sekarang?" tanya Yara.
"Mas tidak tidur di kamar??"
"Nanti saja. Kalau bang David pulang cepat kamu siapkan makan" ucap Rival seperti orang mengigau.
Yara tertegun melihat Rival yang semakin dalam masuk ke alam mimpinya. Di lihatnya wajah lelah yang selama ini menyimpan banyak suka dan duka dengan nya.
Yara merebahkan diri di samping Rival dan melihat televisi tanpa ada satupun acara yang masuk ke dalam pikirannya.
-------
Hujan deras rata mengguyur jalanan. Dalam deras hujan David galau sendiri tanpa ada yang menemani. Mobil melaju pelan di pusat kota. David melihat seorang gadis sedang memayungi pedagang tua di jalan yang sepertinya baru terserempet pengendara di jalanan dan mengajaknya berteduh di dalam sebuah cafe.
Nampak ada keributan setelah gadis itu membawa pria tua itu di sana. David terus memperhatikan tanpa tau apa yang terjadi di dalam sana hingga David tau ada pegawai sedang membentak gadis itu. Saat situasi semakin memanas, David turun dari dalam mobil.
"Cara yang tidak manusiawi untuk berbicara dengan seorang gadis" tegur Rival pada pelayan 1.
"Bapak jangan ikut campur" sinis pelayan 2.
__ADS_1
"Iya, apa bapak mau mengganti kerugian jika bapak tua ini membawa penyakit. Dan wanita ini juga tidak bisa sembarangan membawa bapak tua ini masuk" ucap pelayan 1 dengan congkaknya.
"Penyakit?? Menyalahkan wanita yang hendak menolong?? Berapa harga cafemu ini? Saya akan kerahkan orang untuk membersihkan seluruh cafe ini bahkan dengan mulutmu sekalian. Jika yang di perlakukan di posisi ini adalah orang tuamu. Apa yang akan kamu lakukan???" bentak David. David menoleh pada gadis yang ternyata sudah menangis itu walau tangannya masih membersihkan luka bapak tua itu.
"Dimana rumahmu. Aku akan mengantarmu sampai ke rumah mu"
---------
David sudah mengantar bapak tua itu pulang. Ia tak menyangka masih ada gadis yang bisa bersikap seperti itu berbanding terbalik dengan kelakuan kebanyakan gadis selama ini.
"Siapa namamu. Sejak tadi kita belum berkenalan" selidik David dengan wajah cuek.
"Saya Indira pak. Ehm..maaf saya bisa pulang sendiri!" jawab Indira
"Tidak bisa. Ini sudah malam. Tidak baik wanita pulang sendirian malam-malam apalagi ini hujan deras"
"Saya mau turun!" tegas Indira lagi.
"Tidak!!!" jawab David lebih tegas.
"Kalau begitu saya akan loncat!!" Ancam Indira sambil membuka pintu mobil. Ia tidak biasa berdekatan dengan seorang laki-laki apalagi di dalam satu mobil dan ini sudah malam.
"Saya hanya akan mengantarmu pulang dan tidak akan berbuat macam-macam!!!" Begitu kerasnya suara David membuat Indira begitu ketakutan.
"Maaf..aku tidak terbiasa dengan pria" suara yang terdengar itu masih bisa di rasakan bahwa gadis itu sungguh sangat tertekan.
"Tidak semua pria b******k seperti yang kamu tau?" sinis David.
Indira hanya menunduk tidak berani berdebat dan melihat ke arah David lagi
David tersenyum melihat gadis yang berada di sampingnya lalu fokus kembali melihat jalanan. Tangan David membuka dashboard mobilnya lalu mengambil sebuah kartu nama disana.
"Ambil ini!! Simpan nomer telepon saya" perintah David.
"Iya pak" jawab Indira pelan sambil menerima nomer telepon itu.
ddrrttt.. ddrrttt.. dddrrrttt
Ponsel David bergetar. Ada nama Yara disana.
"Assalamu'alaikum"
"Mas.....tolong mas Rival!!!!!!!" panik suara Yara di seberang sana.
__ADS_1
.
.