
"Astagfirullah" Rival berulang kali istighfar melegakan napasnya yang semakin sesak saja.
Yara membuka matanya melihat Rival yang sedang menunduk memijat pangkal hidungnya. Yara menarik tangan dari usapan lembut Rival kemudian Yara memalingkan wajah ke sisi tembok.
"Aku minta cerai mas" ucap Yara pertama kali.
"Dek.. jangan bilang begitu! anak kita sebentar lagi akan lahir. Apa kamu tidak memikirkan anak kita?" bujuk Rival.
"Mas yang tidak memikirkan anak kita, apa yang mas pikirkan hingga bisa bermesraan dengan wanita lain?? Apa mas mau bilang kalau mas tidak merasakan apapun saat berdekatan dengan Nesya?" cecar Yara.
"Aku......" Rival berada pada pertanyaan yang sulit. Sebagai pria normal jelas dia pun sempat merasakan naik dan turun saat berdekatan dengan wanita.
"Jadi benar khan mas? Mas menikmati setiap waktu bersama Nesya? Aku semakin yakin kalau aku ingin berpisah denganmu mas" tangis Yara kembali pecah. Naya menangis memeluk Randy di ruang tamu sedangkan Zein memejamkan mata tidak bisa ikut campur saat ini.
"Aku menikmati?? Apa kamu merasakan bagaimana rasanya membuang harga diri? Mencumbui wanita yang tidak aku cintai?? Aku salah dek, tau aku salah. Aku hampir gila menahan rasa bersalahku itu" Rival terpancing emosi dengan banyaknya beban dalam hati dan pikirannya.
"Sudah cukup mas, aku mau bercerai" Rival mengepalkan tangan tak bisa meluapkan amarahnya, di pukulnya kaca rias yang tergantung di dinding sebelah atas Yara hingga pecah berhamburan.
Zein menarik lengan Rival dan menenangkannya. Yara terisak ketakutan berkali kali mengucap kata yang di benci Rival dalam pelukan Naya.
Rival melepas tangan Zein dan menyambar kunci motor.
"Ikuti abangmu!!! Dia bisa gila" perintah Randy.
Rival pergi dengan kecepatan tinggi, Zein mengikuti Rival dengan kecepatan tinggi pula.
***
"Katakan yang sebenarnya padaku?" Nathan mencekik leher Nesya dengan kuat. Nesya ketakutan melihat Nathan, ia menganggukan kepala. Diam-diam ia mengakui sesuatu dan Nathan merekamnya.
Keluarga Nesya di sandera oleh anak buah rantai hitam. Ia harus membuat rumah tangga Rival hancur berantakan karena membuat rantai hitam porak poranda.
"Aku yang akan membebaskan keluargamu dengan tanganku sendiri. Asal kamu memenuhi dua syarat untuk menyelamatkan rumah tangga Rival dan Yara. Aku berhutang nyawa yang tidak akan pernah bisa aku bayar"
***
__ADS_1
Rival sudah mabuk di tepi pantai yang begitu sepi. Rival meluapkan tangisnya. Menghabiskan minuman keras di tangannya. Pikirannya begitu kacau tidur di atas batu karang.
"Jangan dek.. jangan" gumam Rival yang sudah kehabisan tenaga.
"Apa ini sikap calon seorang ayah yang baik? bukannya membujuk istri, malah kacau begini" tegur Zein.
"Aku harus membujuk apalagi pada wanita yang sedang marah. Hatiku sakit sekali mendengar permintaan Yara. Aku tidak mau cerai Zein" ucap Rival dengan frustasi.
"Ya sudah, dengan begini Abang meluluskan permintaan Yara. Kalau Abang bercerai dari kak Yara berarti Abang membuka peluang untuk bang David mendekati kak Yara" ucap Zein yang tau Rival sangat parah sebagai lelaki dalam mencemburui David.
"Apa katamu?? ayo pulang! Aku akan membujuk kakakmu lagi" Rival berdiri dan berjalan dengan sempoyongan lalu ambruk di tepi pantai.
"Cara jalanmu saja tidak benar bang. Bagaimana mau membujuk kak Yara?? Tapi dengan begini aku tau, tidak ada yang lebih baik mencintai kakakku selain abang" gumam Zein.
***
Yara berada di ruang Komandan. Yara benar mengajukan surat permohonan cerai. Komandan menghela napas panjang. Kemudian dengan sabar komandan menceritakan apa yang di lakukan Rival demi tugas dan rekaman suara dari Nathan barusan. Yara mendengarkan semua penjelasan itu dengan baik.
"Baiklah Ra, semua ada di tanganmu. Nanti saya akan memanggil Rival kesini dan lihat apa reaksi suamimu" ajak Komandan.
Flashback on
Zein membawa Rival pulang dalam keadaan mabuk parah. Bau alkohol dan asap rokok menyeruak memenuhi ruangan. Yara kembali marah melihat kelakuan Rival.
Yara berlari muntah mencium aroma alkohol dari tubuh Rival.
"Aku sungguh kesal dengan kelakuanmu mas!!! Apa ini hasil yang mas dapatkan selama penugasan? pintar mabuk dan main perempuan??" teriak Yara, ia kembali memuntahkan lagi semua isi perutnya.
"Keputusan ku ini lebih baik untuk kita mas, setelah itu mas bebas melakukan apa yang mas suka"
Rival bisa mendengar amarah Yara tapi tidak sanggup lagi untuk menjawab kencang semua perkataan Yara.
"Tak pernah ada sedikitpun niat untuk mengkhianati kamu. Aku ingin kamu percaya padaku. Lebih baik aku mati daripada harus berpisah denganmu"
Flashback off
__ADS_1
"Ya Allah.. astagfirullah.. tolong ya Allah.. aku tidak kuat jika harus kehilangan istriku" hembusan napas berat berkali kali Rival lakukan, ia memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit mengingat permintaan cerai dari Yara. Rival bersandar pada dinding gudang logistik terpapar panasnya matahari yang seolah tidak dirasakan Rival.
Seorang anak buah meminta Rival masuk ke ruangan Komandan. Sudah ada Yara, Randy, Zein disana.
--------
Suasana hening sesaat.
"Istrimu meminta pisah dengan mu. Lettu Rivaldi Alfario..kesalahanmu sangat fatal. Bagaimanapun juga saya harus tegas. Sekarang kamu pilih mutasi tanpa membawa keluarga mu selama dua tahun atau cambuk dan sanksi disiplin sebagai hukumannya. Semua perbuatan ada resikonya" tegas Komandan.
"Ijin menjawab komandan. Saya Lettu Rivaldi Alfario menolak berpisah dengan istri saya Renjana Yara Megalia. Saya akan menerima hukum cambuk dan sanksi disiplin sebagai hukumannya" jawab Rival tegas namun jelas terdengar suara kepiluan seorang suami demi mempertahankan istri yang dicintai.
"Buka seragammu dan berdiri tegak" Komandan mengeluarkan cambuk dan memukuli seluruh tubuh Rival. Cambukan sangat keras begitu terasa di punggung Rival hingga meninggalkan bekas memar merah kebiruan. Yara tidak tega melihat suaminya menahan kesakitan yang luar biasa.
Yara tau Rival sangat menahannya walaupun tubuh tegak berdiri dengan gagah namun tidak dengan wajahnya yang sesekali memercing kesakitan.
"Misimu memang berhasil dengan baik, Batalyon sangat salut, tapi kamu menimbulkan dampak pada keluargamu. Kamu ceroboh dan tidak bisa menjaga diri"
Rival memejam menahan air mata yang seakan ingin meluncur. Ia memikirkan nasib rumah tangganya. Ia tidak ingin berpisah dengan Yara yang mengandung buah hatinya. Rival menggigit bibir bawahnya dengan kuat menahan rasa sakit pada sekujur tubuh.
"Saya keluar sebentar untuk berunding, kamu tetap di ruangan ini!" Perintah Komandan meninggalkan Rival dan yang lain.
Bilur merah kebiruan membekas rata di punggung dan dada Rival. Rival tumbang mengerang di lantai. Yara tak sampai hati melihatnya.
"Kenapa mas lakukan ini. Aku tau mas pasti sangat kesakitan" tangis Yara histeris memeluk tubuh Rival yang belum sanggup berdiri. Randy dan Zein membantu Rival untuk duduk.
"Jangan katakan pisah padaku. Apapun permintaanmu akan kuturuti. Asalkan jangan minta bercerai dariku. Aku mohon. Aku salah..Aku minta maaf dek" ucap Rival yang masih merasakan bilur panas di tubuhnya.
"Aku sudah tau semuanya. Kenapa mas tidak memilih mutasi saja. Kenapa mas memilih jalan sesakit ini"
"Cambukan ini jauh dari nyawa, sakit hanya sementara. Sedangkan aku tidak sanggup harus jauh darimu. Kamu dan anakku adalah nyawaku"
.
.
__ADS_1