
Zein menghela napas seraya menutup wajahnya, perbuatannya sungguh menimbulkan masalah baru. Zein bangkit dan berangkat pergi ke rumah Randy.
--------
"Papa sungguh ingin menamparmu Zein. Apa papa mengajarimu berbuat buruk pada wanita" Randy geram dengan kelakuan Zein.
"Maaf pa, saat itu memang aku tidak berpikir panjang" Zein menunduk meremas tangannya yang saling bertautan.
"Kamu ini sama saja dengan..." Randy tak sanggup lagi mengingat kejadian antara Reno dan Velly dulu. Randy memegang kepalanya yang terasa berat. Zein berdiri dan membantu papanya untuk duduk. Naya panik melihat Randy yang belakangan ini sedikit menurun kesehatannya.
"Mas, jangan banyak pikiran lagi. Kemarin mas sudah memikirkan Yara, sekarang tentang Zein" Naya menghapus air matanya, saat ini ia juga semakin sedih anak anaknya sedang tertimpa masalah. Randy ikut mengusap air mata Naya mengurangi sedihnya.
"Iya dek, mas hanya sedikit cemas saja" senyum Randy.
"Pa, aku akan menikahi Mutia. Aku minta restu mama dan papa"
"Iya nak, cepat laksanakan. Kasihan Mutia kalau harus menanggung semua ini sendiri" Naya memberi restunya. Randy terpaku menatap Zein beberapa saat.
"Papa tidak mendidik mu untuk merusak kehormatan wanita Zein. Kenapa kamu lakukan itu, papa sangat kecewa. Setelah ini kamu pasti akan dapat sanksi dan yang akan mengawasimu pasti abangmu. Masa dinasmu agar bisa menikah hanya kurang sedikit Zein" sesal Randy
"Akan aku terima pa"
"Mutia pasti sangat kesulitan sekarang. Coba setelah ini tengok dia di kostnya" titah Randy.
--------
Mutia memiringkan posisi tidurnya karena perutnya merasa tidak nyaman, ia sangat lapar tapi untuk berjalan saja rasanya tidak mampu. Mutia ingin sekali makan nasi goreng.
Zein membuka pintu kost Mutia menggunakan kunci cadangan miliknya. Aroma semerbak memenuhi ruangan kost Mutia, ternyata Zein membawa nasi goreng untuk Mutia.
"Mas, bawa apa kesini??" tanya Mutia berusaha bangkit dari posisinya.
"Nasi goreng sayang, maaf aku malah membawakanmu nasi goreng" ucap Zein karena tau Mutia tidak begitu suka dengan nasi goreng.
"Aku mau, aku suka" mata Mutia berubah menjadi berbinar binar. Zein menjadi tersenyum melihat semangat Mutia.
"Iya, sebentar ya aku ambilkan piring" Zein memindahkan nasi goreng pada sebuah piring dan membawanya pada Mutia.
__ADS_1
Mutia menerima nasi goreng itu dan memakannya dengan sangat lahap dan senang. Pemandangan ini begitu menyentuh perasaan Zein.
"Kamu lapar ya sayang? Kenapa tidak bilang waktu aku menghubungimu tadi?"
"Mas khan harus kerja, masa iya aku malam begini harus merepotkanmu karena aku ingin nasi goreng" jawab Mutia sambil terus memakan nasi gorengnya.
"Apapun akan kulakukan untukmu dan anakku" Mutia menatap sekilas wajah Zein lalu meneruskan makannya lagi.
"Apa masih lapar? Kalau masih lapar aku akan beli lagi untukmu" Zein melihat sepertinya Mutia masih merasa lapar. Mutia memakan suapan terakhirnya kemudian mengangguk.
"Mau lagi mas"
"Tunggu ya cimutku sayang" Zein mencubit pelan hidung Mutia lalu keluar untuk membeli nasi goreng lagi.
***
Yara tidak bisa tidur malam ini, ia mengingat wajah putrinya. Yara tidak membangunkan Rival yang sudah tidur karena terlihat jelas wajah suaminya yang sangat lelah dan besok pagi harus berangkat kerja.
Yara memainkan jarinya menyusuri tembok disekitar sisi kirinya. Suara Isak tangis Yara walaupun sangat lirih berhasil membuat Rival terbangun.
"Mas bangun?"
"Iya..kenapa istriku belum tidur?" Rival memeluk Yara.
"Maaf mas terganggu ya?" lirih Yara.
"Nggak kok, tapi ini sudah hampir pagi. Kenapa belum tidur?" Rival mengusap pipi Yara. Rival mengerti, Yara pasti mengingat wajah mungil putrinya.
"Mas paham perasaanmu, tapi jangan sampai kesedihanmu ini memberatkan putrimu" Rival menekan perasaan dalam hati karena memang hidup harus terus berjalan dan dihadapi dengan tegar.
"Tidurlah agar cepat pulih. Minggu depan kamu harus ikut aktivitas lagi karena banyak tugas saat menjadi istriku"
***
"Ibu sudah baikan?" tanya Bu Ridwan pada Yara. Bu Ridwan adalah pengurus kegiatan istri anggota.
"Sudah bu" senyum Yara sudah bisa mengembang hari ini.
__ADS_1
"Dua hari lagi ada arisan kantor dan perkenalan anggota baru Bu, pindahan dari Batalyon E!" lapor Bu Ridwan.
"Oohh.. begitu Bu. Baiklah tolong di arahkan ya Bu, agar jelas perkenalannya pada Ibu Komandan" titah Yara ramah.
"Baik ibu"
***
Pada hari ini semua istri anggota hadir pada acara arisan Batalyon. Yara terburu buru masuk ke dalam ruangan karena akan rapat dengan ibu Komandan perihal acara penyambutan panglima di Batalyon beberapa bulan lagi. Acara itu harus matang secara total hingga harus di persiapkan jauh hari sebelumnya.
Tak sengaja Yara menabrak seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya hingga baju seragam ibu itu kotor. Yara merasa bersalah dan mengeluarkan tissue basah berniat membersihkan kotoran tersebut.
"Heehh..mata itu di pakai ya. Ini baju seragam, baju kehormatan seorang istri anggota. Kamu ada masalah apa harus lari seperti itu" bentak wanita itu.
"Maafkan saya bu, saya tidak sengaja" tangan Yara yang ingin membersihkan kotoran pada lengan ibu itu di tepisnya dengan kasar. Banyak ibu yang ingin menghentikan kesombongan itu tapi Yara memberi kode agar tidak ribut dan membantunya
"Kamu harus belajar etika, kamu pasti istri dari anak buah suami saya. Nanti saya adukan biar suami kamu di tindak. Asal kamu tau, suami saya Sertu disini!!" arogan ibu itu membuat Rival yang sejak tadi memperhatikan istrinya menjadi kesal karena Yara hanya diam saat di bentak jadi menghampiri mereka pada pusat keributan itu.
"Maaf ya Bu, ada masalah apa sampai ibu berteriak pada istri saya"
"Makanya om, punya istri itu di ajarin. Masa lari larian di ruangan, makanan anak saya jadi tumpah ke seragam saya" Sertu Budi berlari menghampiri istrinya dan menenangkannya.
"Ma..jangan teriak begitu, malu ma!"
"Ini pa..beritahu adik lettingmu ini biar membimbing istrinya agar sopan pada senior" ucapan istrinya membuat wajah Sertu Budi merah padam menahan malu. Istri sertu Budi tidak tau bahwa Rival adalah komandan kompi karena saat ini dia sedang memakai kaos olahraga. Rival melipat tangan di depan dada dengan membelalakkan matanya tajam karena ada yang menghina istrinya.
"Nanti ajak istrimu temui saya usai istri anggota selesai kegiatan" datar Rival sambil melengos dengan membawa aura panas.
"Mas, sudahlah" Yara menarik lengan Rival berharap suaminya tenang.
"Kalau kamu terima ya silahkan, tapi hatiku sakit istriku di perlakukan seperti itu" lirih Rival dingin dan tajam sambil berlalu pergi. Kalau sudah seperti itu, hanya Yara yang bisa membujuknya, sayangnya ini di kantor..bukan di rumah.
Sertu Budi lemas seketika sedangkan istrinya melongo masih mencerna keadaan yang baru saja terjadi.
.
.
__ADS_1