
Rival melihat Yara dan menarik napas panjang. Tau lah dirinya kalau Yara masih tidak nyaman dengan Nesya.
"Hati jangan terus di biarkan panas. Nesya khan juga sudah milik orang lain. Lagi pula mas hanya membantu Nesya karena dia sudah seperti itu. Pakai hatimu dan jangan besarkan ego ya sayang" bujuk Rival lembut.
"Kalau aku masih mengingat kenanganku dengan mas David. Bagaimana perasaanmu mas?" kekesalan Yara menimbulkan amarah Rival ikut mencuat.
"Kamu ngomong apa sich. Nggak baik bicara begitu. Awas saja kalau kamu main api di belakangku" Rival meninggalkan Yara. Ia tidak ingin perasaannya menimbulkan hal buruk pada Yara dan kandungannya.
Kebiasaan kamu dek. Selalu berpikir ngawur.
***
Sore hari Yara membuat kue dalam jumlah banyak seperti waktu yang lalu. Tapi kali ini seakan tenaganya habis, apalagi posisinya sekarang sedang mengandung.
"Kenapa terima orderan sebanyak ini dek?" tanya Rival cemas melihat Yara yang terkadang bersandar pada dinding sambil menahan mual.
"Ini khan orderan bulan lalu dan sudah bayar di muka mas. Masa di batalkan sepihak tiba-tiba!"
"Mas bantu. Kamu lemah sekali. Sendirian mengerjakan pesanan ini, kamu nggak akan kuat" Rival bergegas mengganti seragamnya lalu membantu Yara.
Yara mengoles cream pada kue tart, tapi karena terlalu lelah ia menjadi ketiduran. Rival mengambil spatula di tangan Yara, hatinya menjadi tidak tega.
Apa sih yang kamu inginkan sampai harus tetap bekerja seperti ini?.
Pelan-pelan Rival mengangkat tubuh Yara dan merebahkannya di kasur lipat ruang tv. Rival mengambil ponselnya.
Telepon 1.
"Zein.. cepat kamu bawa ovenmu kesini"
Telepon 2.
"Bawa tiga orang temanmu ke rumah saya. Ada kerja lembur"
--------
Yara bangun jam sepuluh malam. Ia terperanjat kaget bukan main melihat jam dinding di ruang tv.
"Ya Allah pesanan kue ku" Yara bangun dan hampir menangis. Di pegang perutnya yang sedikit keram karena kaget.
Saat sampai di dapur ia melihat lima orang termasuk Rival sedang bekerja membungkus kue. Yara terbelalak melihat hasil kerja suami dan anak buahnya yang rapi dan bersih, hanya tinggal 10 box lagi yang belum selesai. Tapi tidak dengan dapurnya yang lebih mirip ledakan bazoka.
"Tidurlah sayang, sudah selesai. Besok pagi tinggal di antar" senyum Rival.
"Terima kasih ya mas" Yara sangat terharu dan memeluk Rival yang begitu kotor. Ia melupakan ada anak buah Rival disana.
__ADS_1
"Bu Boss.. seringlah seperti ini. Kami akan cepat kaya" comel Rafael.
"Iya Bu, kami senang sekali dapat kerja lembur" Celetuk Arif.
Yara tertawa mendengar keributan anak buah Rival malam begini. Akhirnya tugasnya selesai juga.
***
Siang ini nampak mendung membayangi langit. Yara sedang menyuapi Ben makan siang. Tiba-tiba ia ingin makan martabak telur. Yara meminta ijin pada Rival untuk membelinya di kota.
Yara : Assalamu'alaikum mas.
Rival : Wa'alaikumsalam. Kenapa dek? Perutnya sakit? Atau asmanya kambuh? ( cemas Rival ).
Yara : Nggak mas. Aku mau ijin beli martabak telur ke kota.
Rival : Jauh sekali dek. Tunggu mas pulang. Nggak lama kok.
Yara : Iya mas.
Yara sangat kecewa padahal ia menginginkan martabak itu sekarang. Yara menitipkan Ben pada Naya setelah selesai makan. Naya sudah melarang Yara pergi tapi bumil itu tetap tidak bisa menahan rasa inginnya.
***
Dari kejauhan Rival melihat Yara keluar dari kesatrian. Rival kesal hingga tangannya menarik kuat ranting pohon di sampingnya.
Karena terlanjur melihat Yara, Rival pergi meninggalkan Batalyon tanpa pamit. Ia segera mengambil motor dan melaju dengan kecepatan tinggi bahkan melewati penjagaan kesatrian.
***
"Oohh..jadi ini kelakuanmu di belakangku dek??? Kemarin pun alasan bikin kue untuk hobby. Apa kurang uang yang aku berikan sampai harus mencari pria lain juga?" Rival begitu kecewa melihat Yara berada dalam pelukan David begitu mesra dalam penglihatannya.
"Jaga ucapanmu itu Val" tegur David
"Hmm..satu lagi dek, apa itu juga anak bang David???" ucap Rival masih kesal di liputi amarah. Dia tidak mau mendengar penjelasan apapun seakan akal sehatnya hilang di penuhi rasa cemburu.
Rival turun dan berjalan ke arah apotek. "Kamu nggak apa-apa Ra? Masih pusing ya?" tanya David pada Yara.
Yara mengangguk sambil melepaskan diri dari David. Tapi badannya sungguh tidak kuat dan lemas. David menyangganya lagi.
"Ternyata kamu hamil lagi. Suamimu memang hebat dalam segala hal. Kecuali emosinya" Senyum David tersungging getir.
Beberapa saat kemudian ia kembali membawa botol dan ia masukan dalam tasnya.
"Kamu memang keterlaluan dek" Rival menarik lengan Yara dengan kasar hingga Yara lunglai ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu bodoh atau dungu. Kenapa sulit sekali menurut pada suami" bentak Rival sambil naik ke atas motornya.
"Naik!!!!" perintah Rival.
"Val.. Yara nggak akan kuat. Marah padaku saja" David tidak tega melihat Yara terkena imbas kemarahan Rival.
"Diam kau bang. Kau akan berhadapan denganku lepas seragam dan atribut ini" tatapan tajam king cobra begitu mematikan.
"Naik!!! aku tidak suka mengulang ucapanku hingga tiga kali Yara!!!" Suara Rival menciutkan perasaan Yara.
Yara naik ke atas motor Rival tanpa helm dan tanpa jaket. Tanpa pamit motor itu melaju kencang di atas rata-rata. David tak bisa berbuat apapun, yang ia rasakan hanya cemas saja dengan kondisi Yara selanjutnya.
--------
"Beraninya kamu berpelukan di depan umum. Kelihatannya kamu senang sekali bertemu David" kesal Rival menarik kasar tangan Yara masuk ke dalam rumah.
"Ya Allah mas, nggak! Aku tadi pusing sekali" sanggah Yara. Ia berlari memuntahkan isi perutnya yang terlalu mual sejak tadi.
"Itu benar anakku atau anak Davidmu itu???" pertanyaan Rival begitu mengintimidasi. Yara sangat sakit hati mendengarnya. Ia sangat kecewa terhadap Rival.
"Anak mas David" jawab Yara sekenanya.
Rival mencengkeram dagu Yara dengan kuat dan kasar.
"Apa kamu bilang?? Berani sekali kamu menduakanku. Buang anak itu sekarang juga. Aku tidak ingin anak terkutuk ini lahir" Rival menepis wajah Yara dengan kasar hingga jatuh dan perutnya terantuk lemari hias. Rival melempar botol obat pada Yara.
"Minum dan gugurkan sekarang juga. Jika tidak.. pergi saja ke mana kau suka bersama pria pilihanmu" bentak Rival.
Yara menangis tersedu-sedu, di genggamnya botol obat itu dengan ragu.
--------
Aaaarrrrgghhh
Rival berteriak membuang kesalnya. Rival pergi ke arah pantai. Ia meluapkan kesalnya disana. Hingga tengah malam ia duduk merenung disana mendinginkan hati dan pikiran seorang diri.
***
Yara bangun pagi, tidak ada Rival maupun Arben disana. Hatinya begitu kacau. Ia mandi dan berniat mencari Rival di kantor.
-------
Rival tidur di sofa ruangannya. Azizah datang mengetuk ruangan itu tapi tidak ada jawaban. Azizah ingin meminta ijin meminjam anggota untuk pengamanan konser di kota. Pintu yang tidak terkunci itu terbuka. Azizah mengintip ada Rival di dalamnya. Ia masuk ke dalam ruangan lalu menutupnya kembali.
.
__ADS_1
.