
"Ma..aku takut mas Rival sudah pulang" Yara mencuci piring dengan gelisah setelah makan malam.
"Takut apa?" Naya sebenarnya mengerti dengan kegelisahan putrinya.
"Itu ma.." Yara mengingat kejadian siang tadi.
Flashback on
Setelah Danyon pergi, Rival menggandeng tangan Yara, tapi Yara menolaknya.
"Mas..Danyon marah sekali" wajah takut Yara tersirat jelas.
"Cckk.. biar saja, itu urusanku. Ayo ikut aku" ajak Rival menggandeng tangan Yara lagi
"Nggak mau mas, nanti ketahuan lagi" Yara menolak sekali lagi pegangan tangan Rival
"Biar saja ketahuan, apa yang salah" Rival heran dengan sikap istrinya. Bibir Yara bergetar cemas.
"Jangan pegang lagi mas, nanti kita di gerebeg" wajah polos culun Yara membuat Rival berdesir hebat
"Astaga.. siapa yang mau gerebeg kita, kamu ini membuatku gemas saja. Mau aku apa apakan kamu juga nggak akan ada yang berani melarangnya" Rival menarik tangan Yara hingga istrinya pasrah mengikuti langkah Rival.
Flashback off
"Suamimu benar sayang, siapa yang mau gerebeg kamu, Khan sudah menikah" Naya menenangkan putrinya.
--------
Rival baru kembali dari Batalyon jam 22.45, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Semua orang sudah tidur dan rumah nampak sepi, hanya terlihat Zein tidur di ruang tengah. Rival masuk ke dalam kamar tidak menemukan istrinya di sana.
"Dimana Yara??" gumam Rival.
Rival menoleh ke arah belakang rumah, pintu terbuka disana. Yara sedang menonton film di ponselnya.
"Kenapa disini sayang" Suara Rival membuat Yara terkejut, Yara berdiri dengan perasaan cemas.
__ADS_1
"Kapan mas pulang?" tanya Yara takut.
"Belum begitu lama" Rival mendekat pada Yara dan melingkarkan tangannya pada pinggang Yara. Yara merasa tidak nyaman dan melepas tangan Rival.
"Katanya Rindu???" goda Rival sambil terus memeluk Yara, Rival mengecup bibir manis Yara beberapa saat
Yara tersipu malu, ia memalingkan wajahnya.
"Kenapa? Bukankah kamu sudah pernah merasakannya" tanya Rival.
"Iya, tapi rasanya kok beda mas?" Yara protes karena belum memahami. Rival menahan tawanya menutup bibirnya dengan tangan.
"Oohh.. istriku mau yang itu" Yara menunduk dengan wajah bersemu merah.
Rival menoleh kiri kanan melihat situasi karena saat ini dia berada di rumah mertua nya, setelah di rasa aman..Rival mengulang pagutannya.
Beberapa saat kemudian tangan Rival menyusup pada pakaian Yara. Yara terperanjat kaget. Rival yang mulai naik harus merasakan kekecewaan yang melanda hatinya.
"Kenapa?" suara Rival tercekat.
"Kamu mau mas buatkan dedek bayi nggak?" tanya Rival tegas.
"Mau mas"
"Naahh..kalau mau menurutlah" Rival menggandeng tangan Yara untuk masuk ke dalam kamarnya.
-------
Rival mengunci rapat pintu kamar Yara. Yara terlihat panik dan takut. Ia takut Rival akan berbuat seperti tadi.
Rival mengulangi apa yang tadi di lakukannya di teras belakang rumahnya. Awalnya Yara masih menurutinya tapi lagi lagi saat tangan Rival mulai menjelajah kesana kemari, Yara mulai panik.
"Mas..kata papa nggak boleh pegang pegang" Yara melepas tangan Rival. Kali ini Rival masih menahan kesabarannya.
"Terus gimana caranya mas buatkan dedek bayi?" tanya Rival.
__ADS_1
"Memangnya mas sudah bisa?" pertanyaan Yara seolah tantangan telak bagi Rival.
"Bisa lah, sembarang aja kamu"
"Apa nggak perlu panggil mama atau papa untuk bantu kita mas?" mata Yara berkedip kedip tanpa dosa membuat Rival jengkel di buatnya.
"Nggak perlu lah sayaaaangg!!!"
Jadi apa aku ini kalau Yara memanggil mama dan papa.
Rival memeluk istrinya dan melembutkan suaranya di sela deru napasnya yang mulai memburu dan hasrat seorang pria yang kian memuncak.
"Aku tidak menyangka begitu sulitnya mengajarimu. Tidak perlu mama papa, aku sendiri sanggup melakukannya. Menurutlah dan percayakan padaku" Rival melepas jilbab Yara dan istrinya itu menurut tanpa perlawanan.
Rival merebahkan Yara di ranjang, satu persatu dengan hati hati, perlahan Rival melepaskan semua yang melekat di tubuh Yara kemudian dengan dirinya sendiri. Tubuh Yara gemetar ketakutan dan ia terisak kuat.
"Jangan takut, jangan menangis. Yang ada di hadapanmu ini suamimu, bukan orang lain"
Yara mengangguk tidak pasti. Rival memulai tugasnya dengan penuh perasaan. Hal ini juga pertama baginya dan tentu saja dia juga gugup luar biasa. Tapi daripada itu, ia harus membimbing Yara yang sangat ketakutan melebihi dirinya di malam pertama ini.
Sudah pada setengah jalan tugas Rival, tiba tiba Yara menjerit mengagetkan Rival karena Yara berteriak langsung di telinganya. Bukan hanya Rival yang kaget bahkan mama papa dan Zein langsung terbangun dari tidurnya.
"Maaaass...sudah..turun, aku nggak mau lagi. Ini sakiiiiitt" Tangan Rival membekap mulut Yara. Yara mendorong dada Rival sekuat mungkin.
"Hhssstt..dek jangan teriak, malu ahh"
"Nggak mau..nggak mauuu lagi" Yara berontak tapi Rival semakin mendekapnya erat.
"Hhhss.. nggak bisa dek, nyawaku bisa putus kalau nanggung gini. Kamu pengen aku mati cepat??" ucap Rival dengan wajah frustasi tingkat tinggi yang sudah tidak sabar.
Akhirnya Yara memilih tidak bicara hanya tangannya yang sesekali bereaksi hingga Rival harus mendekapnya lebih erat lagi.
.
.
__ADS_1