
"Siapa wanita yang bersama Abang di rumah sakit?" tanya Rival tanpa bertele-tele.
"Hanya teman saja" jawab David yang sedikit terkejut karena Rival sudah mengetahui perkenalan dirinya dengan Indira.
"Tidak ada teman semesra itu antara laki-laki dan perempuan bang. Saya tau Abang punya perasaan lebih" David masih tertegun merasakan apakah benar ia memiliki perasaan lebih pada Indira sebab ia baru bertemu Indira beberapa kali.
"Bang.. situasi kita memang kacau dan rumit. Tapi tidak seharusnya sebuah pernikahan tidak bisa Abang nodai seperti ini. Jika Abang kecewa pada Yara karena sikapnya selama ini. Salahkan saya bang!" tegas Rival.
"Bukan karena itu Val. Aku tidak mempermasalahkan semua sikap Yara karena dari awal aku tau Yara memang tidak pernah cinta denganku lagi sejak menikah denganmu, aku juga tidak tau perasaan apa yang membuatku tiba-tiba ingin membantu Indira, si gadis malang itu" jawab David.
"Baiklah bang. Tapi Abang juga harus tau, saya tidak pernah sekalipun mendidik Yara untuk kurang ajar pada Abang ataupun mengabaikan Abang. Saya cukup tau dan sadar diri bang. Jadi Abang juga jangan sampai melakukan hal di luar batas, sebab Abang masih menjunjung status pernikahan dengan Yara. Saya juga tidak pernah mengambil paksa Yara dari Abang. Biarlah Tuhan yang membukakan jalan jika memang gadismu itu bisa menyelamatkan hubungan kita" Rival keluar dari dalam kamar dan melihat Yara duduk di sofa panjang dengan pikiran yang berputar dalam kepala.
"Jangan sedih. Abang hanya pergi tugas beberapa hari" Rival berusaha mendinginkan suasana.
David keluar kamar dan berpamitan baik-baik dengan Yara.
"Aku pergi ya dek. Jaga kesehatan, minum vitamin dan jangan mengerjakan pekerjaan berat" pesan David lalu secepatnya pergi.
Rival mengerjapkan mata sesaat meresapi beban di hatinya yang tidak kunjung usai. Saat kakinya melangkah pergi, Yara memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aku tidak sanggup dengan situasi seperti ini mas. Bisakah aku minta cerai saja dari mas David?"
"Bisa saja dek, tapi pernikahan kita itu rumit. Pertama : Kamu menikah denganku secara sah di mata hukum dan agama. Lalu statusku meninggal dalam hukum tapi dalam agama aku tidak pernah menceraikan mu.
Kedua : Kamu menikah dengan bang David secara hukum agama saja dengan alasan rujuk kembali.
Ketiga : Secara lebih baiknya, mas memang seharusnya menikahimu kembali, tapi karena kesalahanku.. membuatmu malah jadi hamil seperti ini.
Keempat : Kehamilanmu ini akan di pertanyakan siapa bapaknya. Walaupun mungkin menurutmu jelas mas lah bapaknya.
Kelima : Jika benar apa katamu, hanya mas lah yang menyentuh mu. Itu juga salah dek. Karena ada kewajiban dan hak di antara pernikahanmu dengan bang David
Keenam : Menceraikan saat istri hamil, itu pun juga tidak di anjurkan"
Yara duduk dan bersandar. Tidak tau apa yang akan ia lakukan. Semua sangat berat untuk di jalani. Rival ikut duduk menemani Yara. Di belainya rambut lurus panjang Yara.
"Sabarlah sebentar. Mas tau perasaan mu. Mas pasti memikirkan cara terbaik untuk pernikahan kita. Mas khan sudah pernah bilang padamu. Cukup jaga dirimu dan anak kita. Biar mas yang pikirkan semuanya"
***
"Tinggal lah disini" David membuka pintu kontrakan miliknya yang sudah cukup lama tidak dia tempati.
"Aku terlalu banyak menyusahkanmu mas. Sudah terlalu banyak uang yang mas keluarkan untuk ku. Bagaimana caraku membalas kebaikan mu" tanya Indira menatap David.
__ADS_1
Dalam hati, David memantapkan hati. Memperlakukan wanita seperti ini berarti ia harus siap menanggung setiap konsekuensi ke depannya.
"Dengan tubuhmu" jawab David dengan jelas.
Indira menampar pipi David sekeras mungkin.
"Tidak kusangka mas, semua lelaki sama saja. Tidak ada yang benar ikhlas membantu dan hanya menginginkan kepuasan semata"
David masih menatap dan mendengar dengan tenang melihat sikap dan kemarahan Indira.
"Baiklah mas, kalau ini bisa membayar semua hutang dan semua kebaikanmu" Indira melepas pengait jilbabnya. David memalingkan wajahnya. Begitu Indira membuka kancing kemejanya, tangan David menghentikannya.
"Pintar sekali kamu mengartikannya. Apa semua pikiran wanita sepicik itu?" tanya David.
"Aku ingin tubuhmu untuk menyelamatkan harga diriku" tangan David menutup kancing pakaian Indira.
"Maksud mas apa??" tanya Indira tidak mengerti.
***
Yara mulai mual. Sampai sore ini Rival di buat kelabakan dengan kehamilan Yara.
"Kamu jangan banyak pikiran dek. Kalau kamu banyak pikiran itu akan menggangu psikismu. Anak kita jadi tidak nyaman" Rival sangat cemas dengan kondisi Yara.
"Iya..mas akan hubungi papa" Rival berlari mengambil ponselnya di dalam kamar.
"Aku ingin bertanya kenapa papa bohong padaku dan menikahkan ku dengan mas David"
Rival meletakkan ponselnya, kini ia paham Yara sangat sulit mengesampingkan masalah dan tersiksa dengan pernikahan ini, tapi untuk mengakhiri nya penuh banyak pertimbangan. Didekapnya Yara.
"Akan mas selesaikan secepatnya masalah kita. Mas tidak akan membiarkan anak kita tertimpa masalah di kemudian hari"
***
"Aku tidak mau merusak rumah tangga orang lain. Aku tidak mau menikah dengan suami orang mas. Aku tidak berani" Indira takut mendengar cerita David. Ia mengangkat tasnya dan ingin pergi dari hadapan David.
"Aku akan menikahimu secara hukum dan agama secara sah. Tidak main-main. Jika dalam satu tahun aku tidak memenuhi nafkahku pada istriku dan tidak memperlakukanmu sebaik baiknya istriku. Kamu bisa menggugat cerai aku dek"
Indira duduk di bangku yang masih sangat kotor penuh debu. Kakinya lemas. Tangannya bertaut saling menggenggam. David berlutut di hadapan David.
"Cinta mungkin tidak ada sekarang, tapi pupuk tidak akan mematikan bunga. Biarkan nanti cinta tumbuh apa adanya" David menatap mata Indira.
"Mau ya" bujuknya lagi
__ADS_1
***
Hari ini Rival mendapat panggilan ke ruang kerja komandan. Komandan melempar berkas di hadapan Rival. Rival membacanya lalu meletakkan berkas itu ke meja.
"Mengapa kasus rahasiamu bisa di ketahui pihak lain?" Rival mengepalkan tangannya, memejamkan matanya sesaat. Memikirkan bagaimana bisa berita ini naik ke permukaan.
"Jawab!!!!!!" tegas komandan
"Siap..tidak tahu"
"Hadduuuuhh Rival. Sekarang kamu harus pergi ke markas cabang" perintah Danyon.
"Siap!"
***
"Kalian berdua menikahi satu wanita??? Wanita macam apa yang kamu nikahi??? Melanggar kode etik militer. Pelanggaran berat" tegur komandan.
"Panggil istri dari kedua perwira ini!!!!" perintah Komandan pada anak buahnya.
"Ijin berbicara Komandan. Istri tidak bisa menghadap" tolak David.
"Tidak bisa?? Kasus ini harus di selesaikan"
"Ijin Komandan. Istri sedang berbadan dua"
"Astagaaaaaaa"
Komandan geram mendengar kedua prajurit nya itu. Tangannya yang kekar menampar pipi Rival dan David. Komandan juga menghajar Rival dan David habis habisan. Kedua pria itu menahan kuat rasa sakit nya. Menguatkan badan untuk tetap berdiri tegak.
"Kalian membuat masalah sampai serunyam ini!!!! Kalian ini manusia, bertingkah lah beradab seperti manusia. Kalian juga perwira pilihan. Contoh bagi prajurit yang lain"
Komandan duduk merasa sesak tidak dapat menemukan cara yang pas menyelesaikan masalah ini.
"Ijin Komandan. Kami akan menyelesaikan secara kekeluargaan. Masalah kehamilan istri. Itu anak saya. Anak dari Lettu Rivaldi Alfario"
"Kamu Yakin??" tanya Komandan ragu.
"Siap..Yakin"
.
.
__ADS_1