
Rival sudah mengangkat rangsel pada punggungnya. Yara mengantar Rival sebelum berangkat naik pesawat.
"Mas, aku khan nggak jadi hamil. Kalau sekarang jadi hamil gimana!" Yara menggenggam tangan Rival.
"Darimana datangnya pikiran aneh itu?" Rival mengeratkan genggaman istrinya.
"Yang di TV begitu mas" jawab Yara. Rival membuang kasar napasnya. Melepaskan satu genggaman tangannya dan memperbaiki jilbab Yara yang tertiup angin.
"Kurangi lihat sinetron, lebih baik kerjakan yang lain dek"
"Kamu nggak akan hamil sekarang"
"Mas yakin??" tanya Yara.
"Yakiiin. Sangat yakin sayang" Rival menatap wajah istrinya
Ya Allah sayang.. tidak tega aku tinggalkan kamu seperti ini. Aku seperti menemukan berlian di antara bebatuan yang tertutup lumpur. Kalau saja tidak ada tugas ini..pasti aku akan menjagamu.
"Ada apa mas?" Yara bingung melihat Rival yang hanya diam.
"Kalau kemana mana minta di antar Zein saja ya, atau mungkin papa kalau tidak sibuk. Selama mas pergi jaga dirimu sayang" Rival mengerjapkan mata mengalihkan kelopaknya yang sudah menggenang oleh air mata. Rival memeluk Yara tidak memperhatikan para anggota yang menunggunya sejak tadi
"Ijin Danki, bisa berangkat sekarang?" tegur salah seorang anggota.
"Iya.. ayo" jawab Rival melepas pelukannya. Yara terdiam tidak ikhlas melepas genggaman tangannya. Rival melangkah pergi.
Yara mulai menangis, Zein menahan bahu Yara agar tidak melangkah mengejar Rival. Yara yang begitu sedih beralih memeluk Zein dengan kuat dan menumpahkan tangisnya.
__ADS_1
"Aku baru sayang padanya Zein" isak tangis Yara di dada Zein.
"Sudah Ra, Kamu akan lebih sulit melepaskannya kalau sudah benar benar tau 'rasanya', jangan menangis lagi.. bang Rival pasti kembali" Zein menenangkan kakaknya.
Sebelum badan pesawat bermotif loreng itu tertutup, Rival masih bisa melihat Yara yang menangis di pelukan Zein. Perasaan Rival begitu sedih, rasa bersalah kuat berputar di hatinya.
Maaf sayangku...
Para anggota dan yang lain melihat iba pada ibu Danki mereka. Mereka berasumsi pada pikiran mereka masing masing 'di tinggal setelah menikah satu malam'
Zein memapah Yara yang masih terlihat sedih
"Sudah donk Ra.. anggap saja masih pacaran. Nanti pasti akan bahagia saat bang Rival kembali" bujuk Zein. Yara hanya mengangguk
***
"Makan dulu, jangan di aduk saja" tegur Randy yang melihat putrinya tidak berselera makan.
"Kalau nggak salah sekitar tiga atau empat bulan" Randy mengingat kejadian yang sudah 24.5 tahun berlalu.
"Oohh.. berarti nggak langsung jadi ya?"
"Sebenarnya kamu mau tanya apa sayang?" Naya juga bingung dengan putrinya.
"Semalam mas Rival menciumku sampai menindihku ma, kira kira kapan aku akan hamil?" ucapan Yara membuat Randy tersedak menyembur kemana mana.
"Lho bukannya kamu lagi haid sayang?" tanya Naya lebih tenang.
__ADS_1
"Iya ma, memang kenapa?" Randy beralih pergi meninggalkan kedua wanitanya sedang berbicara pribadi.
------
"Nggak mas, anakmu nggak melakukan apapun semalam. Putrimu yang polos sudah bercerita padaku" Naya menenangkan suaminya yang tidak tenang sama sekali.
"Syukurlah"
"Rival pasti ngerti lah mas, jangan secemas itu" kata Naya
"Kenapa ya aku seperti tidak ikhlas putriku di sentuh pria lain" Randy duduk menatap lantai
"Sudahlah mas, anakmu sudah menikah. Dia sudah aman menjadi istri lelaki yang mas pilih, dan Rival berhak melakukan apapun pada istrinya" Randy memeluk Naya, air matanya menetes
"Astagfirullah... Iya sayang"
***
Rival membolak balik kertas yang ada di tangannya. Kertas prosedur test untuk pratugasnya. Dari arah depan ada seorang wanita menabraknya dengan kuat
"Maaf Lettu Rivaldi" ternyata itu adalah Sertu Azizah.
"Tidak masalah, silahkan lanjut" Rival memberi jalan pada Azizah, secepatnya Rival pergi dari tempat itu.
Rival bersandar di sisi tembok dengan sebelah lengannya, ia mengambil ponsel dari sakunya untuk menghubungi Yara istrinya. Tak lama Yara mengangkat panggilan teleponnya.
"Assalamualaikum sayang, mas sudah sampai" ucap Rival.
__ADS_1
.
.